SI GIMBAL DAN SI BOTAK

Oleh : Zaldy Munir

ANAK kecil berusia enam dan lima tahun itu mungkin sering lewat di depan rumah Rere. Melihatnya pun barangkali Rere pernah, tapi dia tidak memperhatikannya. Sejak pindah rumah ke perumahan cukup padat ini dua bulan yang lalu. Memang tidak banyak yang dikenal Rere, kecuali tetangga dekatnya yang sering membeli sayur.

Rere baru memperhatikan dua anak kecil itu ketika dia sedang memasak, pintu belakangnya ada yang mengetuk dan suara cempreng melengking, “Sampah!” Rere membuka pintu dan di hadapannya dua anak kecil dengan baju kotor berdiri. Yang lelaki menunduk melihat-lihat seputar kakinya yang telanjang tanpa alas kaki. Yang perempuan malu-malu menatap Rere.

“Ada apa ?” tanya Rere.

“Ada sampah, Tante? Nanti kami buangin.”

Rere melihat ke bawah kompor, dekat tabung gas, ada dua kantong plastik yang sudah penuh sampah. Sepengetahaun Rere, di perumahan ini tukang sampah memang tidak jelas jadwalnya. Kadang seminggu tidak datang, sehingga sampah menumpuk. Maka bila tukang sampah datang, para ibu kompak ngomel, sedangkan tukang sampah cuma nyengir. Rere mengambil dua kantong plastik sampah dan menyerahkannya kepada kedua anak kecil itu.

“Buangnya di mana?”

“Di depan, Tante, di tempat sampah pinggir jalan.”

Kedua anak kecil itu tidak beranjak. Mereka duduk, saling melihat. Rere mengerti, mungkin mereka minta upah. “Nanti ke sini lagi, ya?” kata Rere. Dua anak kecil itu tersenyum, lalu berlari saling mendahului.

Lima belas menit kemudian kedua anak kecil itu datang lagi. Mereka berdiri di depan pintu. Yang lelaki selalu menunduk, melihat-lihat seputar kakinya, lalu tersenyum malu saat ketahuan mencoba melihat Rere. Yang perempuan seperti tidak tentram berdiri, karena Rere belum juga memberi upah.

“Kamu berdua sudah pada makan, belum?” tanya Rere. Yang perempuan menunduk, tidak mau melihat Rere. Yang lelaki mendongak tersenyum lebar, kemudian melihat-lihat lagi seputar kakinya. Rere menuntun yang perempuan, yang lelaki mengikuti. “Ayo masuk. Cuci tangan di keran itu, lalu duduk di kursi itu. Tante akan bawakan nasi.”

Karena yang mateng baru sayur kacang. Rere mambuat dua telur ceplok. Sesekali dilihatnya kedua anak kecil itu berebutan cuci tangan. Setelah membalikkan telor, Rere melihat mereka duduk di lantai. “Kok, duduknya di lantai, sih. Duduknya di atas saja, di kursi.”

Kedua anak itu tersenyum, saling memandang, menunduk, tapi tidak beranjak. Rere menuntun yang perempuan dan mendudukannya di kursi. Yang lelaki mengikuti. Mereka duduk di pinggir kursi, seolah takut kursi itu akan rusak oleh pantatnya.

Ketika Rere memberikan nasi, keduanya tidak segera memakannya. Yang lelaki tenggorokannya turun naik, sesekali mengintip nasi yang disimpan di meja. Yang perempuan menginjak kaki adiknya.

“Ayo makan, mumpung masih hangat,” kata Rere.

Mereka malu-malu mengambil piring. Tapi begitu piring sudah di dapannya, mereka langsung melahapnya. Karena sayur kacang masih panas, lidah mereka sibuk mengepor-oper makanan, mulut mereka sesekali meniup, lalu tersenyum melihat Rere. “Mau tambah lagi?” tanya Rere ketika dilihatnya dua piring sudah bersih.

“Tidak Tante, sudah kenyang. Terima kasih. Tiga hari lagi kami ke sini, siapa tahu sampah di sini sudah penuh. Kami pulang,” kata yang perempuan. Dia mundur dan keluar pintu. Yang lelaki mengikuti sambil tersenyum kearah Rere. Setelah ada di luar mereka berlari, tapi tidak begitu kencang, mungkin karena kekenyangan.

Begitu awal mereka berkenalan. Selanjutnya Rere bayak tahu dari tetangganya bahwa kedua anak itu memang sudah biasa keliling perumahan, menjadi tukang sampah swasta, begitu ibu-ibu menyebutnya, atau disuruh ini itu. “Tapi sekarang sudah jarang yang membuang sampahnya. Maklum. Lagi susah begini, memberi lima ratus perak juga berat, apalagi memberi dua piring nasi. Mendingan ditumpuk sebentar, menunggu tukang sampah Pemda meski tidak jelas kedatangannya,“ Kata seorang ibu. Rere tersenyum.

Ibu-ibu biasa memanggil anak yang perempuan dengan sebutan si gimbal, karena rambut anak itu memang gimbal, kotor. Dan yang lelaki biasa dipanggil si botak, karena rambutnya memang ducukur habis. Tapi ibu-ibu tidak ada yang tahu di mana si gimbal dan si botak tinggal, sekolah atau tidak, siapa orang tuanya, dan seterusnya.

Berbeda dengan ibu-ibu yang lebih suka menungu tukang sampah Pemda. Rere malah tidak memberikan sampahnya ketika gerobak kuning itu tiba. Rere lebih suka menunggu kedua anak kecil itu, si gimbal dan si botak. Menunggunya ketika mereka makan, atau malah makan bersama. Rasanya nasi jadi lebih enak ketika makan sambil melihat kedua anak itu melahap nasi begitu tergesa, tersenyum malu, sesekali matanya terpenjam karena kapanasan atau kepedasan.

“Nama gimbal sebenarnya siapa?” tanya Rere sekali waktu, setelah mereka makan bersama.

“Emak dan tetangga di sana biasa memanggil Nyai, dan adik saya, si botak ini, Asep namannya. Tapi orang-orang di sini tidak pernah menanyakan nama, sih,” kata Nyai seperti yang menyesali.

“Makanya harus rajin mandi, keramas, biar tidak disebut gimbal.”

Asep tertawa dan bercerita, dia pernah sekali keramas dengan sebungkus sampo yang ditemukannya di kamar mandi masjid. Lalu mereka pun bercerita tentang Emaknya yang bekerja di warteg, mencuci piring-piring kotor. Rumah kontrakannya yang berukuran meja pimpong, Ibu pemilik rumah yang sering marah-marah. Cita-cita mereka untuk sekolah dan belajar nyanyi, bapak yang tidak pernah mereka kenal yang kata Emak pergi jauh, sekali.

“Enak dong kalau Emak kerja di warteg, setiap hari dibawakan makanan.”

“Ah…paling masak tempe. Enakan masakan Tante, banyak dan geratis lagi,” kata Asep sambil tertawa.

“Eh, memangnya Nyai sama Asep mau sekolah?”

“Mau sekali. Saya mau belajar nyanyi biar nanti bisa bergabung dengan group dangdut Bang Ucok. Kata Bang Ucok suara saya bagus,” kata Nyai berapi-api.

“Kalau saya mau belajar menggambar, Tante. Biar nanti semua rumah digambari sama Asep. Kalau rumah penuh gambar, maling ‘kan, takut. Gambaran bikinan Asep ‘kan bisa bergerak seperti di televisi.”

Rere tertawa mendengarnya. Itulah saat-saat yang membahagiakannya. Begitu mereka pulang dan Rere memandangnya sampai mereka hilang di belokan, selalu ada perasaan getir. Semestinya Nyai dan Asep memang sekolah, bukan berkeliling membantu membuang sampah atau disuruh ini dan itu.

Ketika Rere bercerita tentang kedua anak itu kepada Mas Andi, suaminya itu malah menertawakan. Katanya Rere terlalu perasa karena berjuta-juta anak seperti itu hidup di kota ini. Kebutuhan mendesak mereka untuk mencari kerja, tidak untuk sekolah. Banyak yayasan yang membuka ruang belajar bagi mereka, tapi nyatanya mereka tidak menganggap belajar itu pentingan. Mereka mesti dibujuk-bujuk atau diiming-iming sesuatu yang menguntungkan, baru mereka mau belajar.

 

“Nyai dan Asep lain, Mas. Mereka tidak hidup di jalanan.”

“Itu hanya lamunanmu saja, sayang. Mereka ke sini tiga hari sekali. Kamu pikir hari-hari selebihnya dihabiskan di mana?” Mas Andi mengusap-ngusap rambut Rere lalu mencium keningnya. “Barang kali itu pertanda, sebentar lagi kita akan punya anak.”

Rere tersenyum getir, tapi kemudian memeluk erat suaminya ketika tiba-tiba Mas Andi memangku dan membawanya ke kemar.

Sekali waktu Nyai berceritra bahwa dia mungkin akan pindah bersama Asep dan Emaknya. Ibu pemilik rumah berkali-kali datang dan hendak mengusir karena Emak Nyai sudah empat bulan tidak membayar kontrakan.

“Terus pindah ke mana Nyai?”

“Entahlah, Tante. Mungkin kami bekerja lagi seperti dulu,” kata Nyai dengan suara semakin pelan.

“Bekerja apa?” Nyai menunduk, tidak menjawab.

Waktu itu Nyai yang datang sendirian. “Asep mengantar Emak ke rumah saudaranya, mencari pinjaman uang,” tidak lama ada di rumah Rere. Dia tidak bersemangat bercerita. Ketika Rere memberinya uang lima ribu, Nyai berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sorenya Asep datang sendirian. “Tante saya baru pulang mengantar Emak,” Rere mengajaknya masuk, tapi Asep tidak mau.

“Ada apa?” tanya Rere sambil berjongkok, biar mereka sejajar.

Asep menunduk, memonyongkan mulutnya, melihat-lihat sekitar kakinya yang memakai sendal jepit pemberian Rere beberapa waktu yang lalu. Rere menunggunya. Setelah lama ia baru bicara. “Asep hanya ingin bilang, Tante orang paling baik sedunia. Asep ingin memberikan ini,” katanya sambil mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya. Rere menerimanya dengan perasaan bergetar. Belum sampai Rere melihat isi kertas itu, Asep berlari. Berlari dan rerus berlari meski Rere berkali-kali memanggilnya.

Lipatan kertas itu dibuka Rere perlahan. Di dalamnya ada gambar tiga orang sedang makan, sabil tertawa di meja. Dua berbadan kecil, mungkin anak-anak, seorang lagi berbadan lebih besar. Memandang gambar dari krayon itu. Lama-lama Rere merasa dibawa kembali ke masa lalu, dengan kedua anak itu makan bersama. Mereka bercerita dengan semangat, mengatakan keinginannya, dan mengerjakan apa pun yang diperintahkan Rere dengan segera.

Tak terasa cairan bening membasahi pipinya. Rere menangis mengingatnya, terngiang kembali kata-kata Asep, anak kecil botak itu. “Tante adalah orang paling baik sedunia.” Ah…, orang baik apanya? Menolong mereka pun Rere merasa tidak mampu. Tapi barangkali bagi anak seperti Asep dan Nyai, pengakuan dan kebersahabatan yang pernah diberikan Rere adalah hal istimewa yang sudah lama tidak didapatkan dari siapa pun.

Rere merapikan gambar itu, menyimpannya perlahan di album seolah sedang menyimpan hadiah paling berharga yang pernah diterimanya. Sejak itu, Nyai dan Asep tidak lagi datang ke rumah Rere. Rere pernah mancarinya, menanyakan ketetangga-tetangganya, tapi tidak ada yang tahu. Mereka malah meresa aneh mengapa Rere begitu antusias menanyakan si Gimbal dan si Botak.

“Masalah sampah gampang saja, Jeng. Tumpuk saja di sudut, nanti juga begitu gerobak sampah datang, keangkut semuanya,” kata seorang ibu. Rere tersenyum getir menanggapinya.

Maka begitu gembira Rere ketika hari itu melihat Nyai dan Asep di depan stasiun Senen. Dari jauh dia sudah menduga, anak perempuan berambut gimbal itu pasti Nyai dan anak lelaki berkepala botak itu pasti Asep. Dipercepat langkahnya. Begitu dekat, Rere tidak ragu bahwa itu Nyai dan Asep, meski baju dan tubuh mereka lebih kotor dari hari-hari biasanya, di tangan mereka ada gelas pelastik bekas air mineral yang di pegangnya kuat-kuat.

“Nyai, Asep, sedang apa? Masih ingat sama Tante?”

Kedua anak itu terkejut, keduanya saling memandang setelah melihat Rere, lalu berdiri dan berlari. Rere berteriak memanggil mereka, tapi anak-anak itu tidak menghiraukannya. Berkali-kali Rere manarik napas panjang. Rere ingat kata Nyai, mungkin bekerja seperti dulu lagi. Mungkin mengemis inilah pekerjaan yang dulu itu. Tapi kenapa mereka masti lari?

Dengan gontai Rere meninggalkan stasiun Senen. Dari balik tukang koran, dua anak itu mamperhatikannya. Mulut anak yang lelaki berkali-kali membuka, ingin berteriak memanggilnya. Tapi dia ingat pesan Emaknya. “Jangan pernah lagi kamu datang ke rumah Tante itu. Malu. Kita sekarang sudah jadi pengemis…”

Iklan