INTROPEKSI DI BALIK BENCANA

Oleh : Zaldy Munir

BELUM lama berselang bangsa ini berdarai air mata atas berbagai macam bencana yang datang. Bencana yang melanda bangsa ini seakan tak henti-hentinya, dan duka itu kembali menyapa, seolah datang silih berganti.

 

Kemarin dan hari ini menjadi hari-hari duka kita bersama. Esok dan hari-hari berikutnya bukan tidak mungkin menjadi hari-hari kelabu. Hampir sepanjang tiga tahun kita dirundung kemalangan beruntun. Bencana itu mulai dari Tsunami 26 Desember 2004 silam, berdekatan dengan megabencana Acah, di Indonesia terjadi pula beberapa gempa yang mengakibatkan kematian ribuan orang, seperti di Nias, Nabire, Padang Panjang (Sumbar), Alor (NTT), dan di tempat-tempat lain.

 

Di samping gempa, banjir, dan longsor pun telah menerjang berbagai wilayah Indonesia dalam dua tahun terakhir dan menewaskan ribuan orang. Tidak hanya itu, gempa bumi yang mengguncang wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gempa tektonik yang cukup dahsyat itu terjadi Sabtu (27/5) pagi sekitar pukul 05.54 WIB dengan kekuatan 5,9 skala richter.

 

Selain itu, bencana rupanya tak henti mengganggu bangsa ini. Hanya beberapa hari setelah gempa Yogya-Jateng yang menewaskan banyak orang, kini muncul bencana lain yang bisa mengancam nyawa ribuan orang. Bencana kali ini adalah semburan gas campur asap di Siduarjo.

 

Bencana yang muncul sejak 31 Mei di Porong, Sidoarjo, Jatim, akibat kesalahan “teknis” PT Lapindo Brantas yang melakukan pengeboran gas kini makin membahayakan warga masyarakat Jawa Timur. Semburan lumpur panas yang setiap hari mencapai 5.000 meter kubik itu, tidak hanya mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalan tol Surabaya-Gempol. Bahkan, pada hari Ahad (11/6), jalan tol yang jadi urat nadi ekonomi Jawa Timur itu ditutup total akibat genangan lumpur panas tersebut.

 

Waktu merayap pelan, tahun pun berganti masa, dan musibah pun tak henti-hentinya kembali menyapa. Pada tahun 2007 bencana rupanya tak henti mengganggu. Mulai dari tenggelamnya KM Senopati Nusantara, hilangnya pesawat Adam Air di Sulewesi Selatan, banjir bandang di Jakarta, longsong di Manggarai, gempa di Sumatra Barat, tenggelamnya kapal Lavina I, sampai terbakarnya pesawat Garuda Indonesia di Yogyakarta.

 

Kebijakan koversi bahan bakar minyak tanah ke penggunaan gas saat ini membuat rakyat kecil menjerit. Gempa di Bengkulu berkekuatan 7,9 skala richter, pada hari Kamis (13/9) Padang dan Jambi dilanda gempa berkekuatan 7,7 skala richter. Data yang diperoleh Kompas, (14/9). Korban tewas tercatat 10 orang : 2 di kota Bengkulu, 5 di kebupaten Mukomuko, dan 3 di kabupaten Bengkulu Utara. Di Padang, Sumatra Barat, tercatat 4 orang tewas meski 3 orang yang terakhir lebih dampak tidak langsung.

 

Rangkaian musibah dan bencana yang kita sebut di atas hanya sebagian kecil dari bilangan besar musibah dan bencana lainnya yang terjadi di bangsa ini. Selebihnya masih banyak lagi. Bukankah bencana yang terjadi diakibatkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri?

 

Sebagai contoh; wabah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah akibatnya kekayaan tersebut diserahkan kepada pihak asing, merajalelanya kemasiatan dan kriminalitas akibat hukum-hukum Allah tidak dilaksanakan, banjir yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar, tanpa disertai penanaman bibit pohon baru sehingga hujan deras tidak bisa diserap bumi dan akhirnya membentuk aliran-aliran air yang besar yang meluluhlantakkan sebuah desa atau pun kota. Allah SWT berfirman: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa-apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri …” (QS. An-nisa [4] : 79).

 

Mengambil pelajaran dari berbagai kejadian

Umat terdahulu telah mengalami begitu banyak bencana alam yang dahsyat diakibatkan mereka menolak kebenaran dan tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan tidak pula menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemaksiatan dan kedurhakaan menjadi sesuatu yang sangat digemari.

 

Orang-orang yang berkuasa berbuat zalim, sedangkan rakyat jelata berpaling dari kebenaran. Yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan, sehingga datanglah teguran dan kemurkaan Allah. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. (QS. Yunus [10] : 13).

 

Selain itu, marilah kita menoleh kepada apa yang terjadi di zaman nabi terdahulu, di antaranya Nabi Nuh as. Nabi Nuh as berdakwah di tengah kaumnya yang ingkar kepadanya, namun hanya sedikit sekali yang mau mengikuti seruannya untuk mentauhidkan Allah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-A’raf [7] : 59-60).

 

Lalu setelah umatnya menentangnya dan tidak mengindahkan seruan dakwahnya, Allah SWT berfirman: “Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)” (QS. Al-A’raf [7] : 64).

 

Maka jelaslah bagi kita bahwa ayat-ayat Alquran telah menjelaskan begitu banyak peristwa, dan hendaknya kita mau mengambil pelajaran di dalamnya. Janganlah kita menjadi kaum yang dikecam Allah SWT dalam Alquran, yaitu kaum yang tidak mau mengindahkan peringatan-peringatan yang telah terjadi dan pasti dapat berulang kembali kejadiannya di tempat berbeda dan umat yang berbeda pula akibat kelalaian dan mempermainkan ayat-ayat Allah SWT.

 

Sementara di tengah kita saat ini, berbagai kekufuran dan keingkaran pun telah dilakukan umat manusia. Dosa-dosa dan kemaksiatan bertebaran di tengah masyarakat dan dilazimkan oleh generasi penerusnya, sehinggga seruan agama tidak dihiraukan. Agama mulai jadi bahan olok-olokan, senda-gurauan dan bahkan ada pula yang lantang menetang kesucian Islam, memelintir ayat-ayat Alquran, menyerang keyakinan umat Islam dengan segala pemikiran-pemikiran yang diada-adakan.

 

Bahkan, sejumlah media menyiarkan turut pula menjadi corong kemaksiatan, corong propaganda kerusakan moral dan akhlak. Seruan dakwah dilawan sebagaimana menghadapi musuh besar, padahal dakwah amar ma’ruf nahi munkar betujuan salah satunya menjauhkan manusia dari liang kehancuran dan menyelamatkan manusia dari kemurkaan Allah SWT.

 

Janganlah sampai kita menghadapi apa yang Allah SWT ingatkan dalam firman-Nya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6] : 44).

 

Sikap kita

Dalam menyikapi semua bencana yang belanda bangsa ini. Seyogyanya kita menyadari betapa manusia ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan-Nya. Sepandai apa pun terpaksa harus mengakui “kekecilan”-Nya di hadapan Rabb Pencipta Alam Semesta.

 

Dengan bencana ini, Allah sebenarnya hendak menguji kesabaran manusia. “Kami pasti akan menguji kalian dengan sesuatu berupa: ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang jika ditimpa musibah maka mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali). (QS. Al-Baqarah [2] : 155-156).

 

Sebagai manusia religius kita seharusnya mutlak membuka kesadaran bahwa Allah telah memberi peringatan kepada bangsa ini. Tidak mungkin bangsa ini dirundung musibah dan bencana tanpa henti sepanjang hampir tiga tahun kalau tidak ada musabab-nya. Pasti ada yang salah dengan perilaku dan tindakan kita. Allah telah menegur kita, tetapi tampaknya kita masa bodoh untuk memperbaiki perilaku negatif tersebut.

 

Dengan demikian, marilah kita tinggkatkan kualitas keimanan, bertaubat, serta kembali secara totalitas pada hukum Allah, yaitu Back to Alquran and Sunnah, dengan kembali melaksanakan seluruh syariat-Nya dalam kehidupan ini. Sebab, dengan adanya bencana ini, Allah memang menghendaki agar manusia mau kembali kejalan-Nya. Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang banar).” (Surat Ar-rum [30] : 41).

 

Singkat cerita, marilah kita jadikan bencana yang bertubi-tubi mendera bangsa ini sebagai refleksi untuk mengevaluasi diri dan merevisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga di masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara negeri ini bisa selaras dengan alam dan tuntunan Ilahi.

 

Semua pihak hendaknya melakukan intropeksi, demi kebaikan dan kebahagiaan bersama. Dan cukuplah becana demi bencana yang beruntun menimpa bumi pertiwi ini menyadarkan kita akan keteledoran dan keserakasan kita akan dunia. Bencana yang melanda bangsa ini sebagai peringatan keras dari Allah SWT agar kita semua kembali kepada jalan yang benar.■

Iklan