OBROLAN SORE

 

 

Oleh : Zaldy Munir

SORE itu wajah Sang Awan tampak pucat pasih, entahlah apa yang sedang ia pikirkan. Angin bertiup pelan seakan menghiburnya dalam kesedihan. Tatapannya pun tidak jelas ditunjukkan kepada siapa? Pada Sang Kumbangkah, pada Sang Pohonkah, atau pada Burung-burung yang berlarian kemana-mana? Atau memang ia tidak pernah sungguh-sungguh untuk menatap. Hanya tatapan kosong dari hati yang sepi, pasti diakhiri oleh airmata. Napasnya berat, ada bening tiba-tiba mengalir di pipinya.

“Mengapa kau menangis wahai Sang Awan,” tanya Sang Kupu-kupu. Tetapi, yang ditanya cuma cuak bebek. Jangankan bicara menoleh pun tidak.

“Wahai Sang Awan, apakah ada yang mengganggu perasaanmu, sehingga kamu terus menangis. Dan tagisanmu itu membuat kota ini terendam,” tanya Sang Kupu-kupu penasaran.

Sang awan pun mulai memperbaiki letak duduknya. Dengan nada barat ia berkata. “Aku sangat benci dan muak dengan tingkah laku bangsa ini yang senantiasa hanya mementingkan nafsu kebinatangannya.”

“Aku tidak paham maksudmu,” tanya kembali Sang Kupu-kupu.

“Apakah kamu tidak tahu; korupsi merajalela di bumi ini, orang-orang seenaknya menebang pohon, puncak daerah resapan malah seenaknya dibuat Vila,” jawab Sang Awan sembari meremas-remas tanganya.

“Apakah hanya itu?”

“Tidak! Masih banyakl lagi. Bisa kamu lihat; Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor terjadi akibat pembalakan liar, perladangan liar, illegal longging serta pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Tidak hanya itu, bangsa ini sedang mengalami krisis multi dimensi, mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik hingga moralitas. Berbagai faktor terlihat memprihatinkan, seperti kemiskinan, SDM yang rendah, masalah disintegrasi, kesenjangan sosial dan sebagainya. Ini semua menjadi agenda permasalahan yang harus segara dibenahi, jika tidak ingin bangsa ini makin terpuruk keadaanya dan mungkin tidak mungkin bangsa ini akan hancur.”

Sang Kupu-kupu diam sejenak, dihirupnya udara sepuas-puasnya lantas ia berkata. “Kau benar wahai Sang Awan. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dalam masalah ini, terutama masalah banjir yang hampir setiap tahunnya melanda kota ini.?”

“Apakah kau akan menyalahkan aku? Karena tangisanku ini yang membuat kota ini terandam dan membuat segala aktifitas menjadi terhambat dan lumpuh total.”

“Tidak! Tidak! Sungguh aku sama sekali tidak menyalahkanmu.”

Suasana sore itu sempat tegang, sampai-sampai membangunkan Sang Kucing yang tidur di atas genting.

“Hai…ada apa ini. Apakah kamu tidak tahu kalau aku sedang tidur,” teriak Sang Kucing dengan nada bak pertir disiang bolong.

“Diam kamu !!!” Sang Awan pun tak mau kalah, ia berucap dengan nada serioza.

“Sudah, sudah jangan berkelahi. Sudah!” Sang Kupu-kupu mencoba untuk memisahkan mereka berdua.



Sore itu bertambah pekat disiram hujan yang tak berkesudahan, diselingi kilat yang bersambung dengan gemuruh halilintar, bak gempa yang beruntun. Angin bertuip kencang menderu-deru, membuat dahan-dahan bergoyang ngebor dan menimbulkan gemerisik ketika daun-daun bergesekan. Hanya derai air di atap rumah, di daun-daun, di jalanan, dan di solokan sampah bertumpah ruah berlarian kemana-mana, berwarna gelap dan beraroma bau.

“Bukankah bencana yang terjadi di kota ini diakibatkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Contohnya wabah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah akibatnya kekayaan tersebut diserahkan kepada pihak asing, merajalelanya kemasiatan dan kriminalitas akibat hukum-hukum Allah tidak dilaksanakan, banjir yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar, tanpa disertai penanaman bibit pohon baru sehingga hujan deras tidak bisa diserap bumi dan akhirnya membentuk aliran-aliran air yang besar yang meluluhlantakkan sebuah desa atau pun kota,” sambung Sang Kumbang yang menyambung membicaraan mereka berdua. Sang Kumbang pun tak menghiraukan keributan antara Sang Awan dan Sang Kucing.

“Hai…kumbang apa alasanmu sehingga kau bisa menyimpulkan bahwa bencana yang ada di negara ini akibat tangan-tangan manusia itu sendiri,” tanya Sang Awan.

“Wahai Sang Awan apakah kamu tidak tahu, Allah berfirman di dalam Alquran; “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa-apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…”1 jawab Sang Kumbang dengan keyakinan mendalam.

“Persoalan banjir yang melanda kota ini dan wilayah sekitarnya menjadi penting dan menarik untuk dicermati mengingat kedudukan kota ini merupakan ibu kota negara. Apa yang diperbuat kota ini, terkait dengan penerapan berbagai kebijakan yang dibuatnya sering kali dijadikan barometer banyak kota lainnya di negara ini. Karena itu menjadi suatu ironi jika ibu kota negara ini ternyata tidak berdaya menghadapi datangnya musibah banjir. Kota ini seolah pasrah untuk tenggelam menyambut bencana ini. Tidak ada arah kebijakan yang jelas terkait dengan upaya pencegahan bencana banjir, meskipun rentang waktu yang ada sesungguhnya lebih dari cukup tersedia,” ujar Sang Kumbang.

“Apakah manusia-manusia itu sudah tahu?” Tanya Sang Kupu-kupu penasaran.

“Iya, tapi mereka semua terlena dengan kenikmatan dunia. Sesungguhnya hidup di dunia ini bukan tujuan, tapi alat untuk mencapai tujuan. Dan hidup di dunia ini sebenarnya hanya senda gurau belaka,” jawab Sang Kumbang.

“Kurang baik apa Allah kepada semua makhluk di dunia ini. “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”2

Sang Awan, Sang Kucing, dan Sang Kupu-kupu terdiam setelah mendengarkan menjelasan Sang Kumbang.

“Kamu benar wahai Sang Kumbang, kamu benar. Betapa besar segala nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada hamba-hambanya. Akan tetapi, mereka lupa, mereka lupa terhadap Rabb Pemilik Alam Semesta. Mereka hanya mengejar nafsu kebinatangannya. Memang kalau dilihat dari segi fisik bangsa ini telah merdeka, tetapi kalau di lihat dari segi moralitas, akhlak, akidah masih terjajah. Tak heran kalau kita melihat tingkah laku wakil rakyat di negeri ini mirip seperti binatang yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan nafsu kebinatangannya.” Sambung Sang Awan.

“Hai…sang awan, sejauh mana memang fungsi moralitas bagi kehidupan manusia di dunia ini,” tanya Sang Kucing.

“Nilai moral bagi manusia menjadi landasan utama dalam melakukan sesuatu. Mengapa? Karana etika, moralitas, dan hati nurani akan terus mengawasi tindakan dan prilaku manusia. Nafsu kebinatangan manusia cendrung mendominasi jika nilai dan hati nurani berjalan tidak berimbang, sehingga nilai baik buruk sulit dipilah secara terinci. Di sinilah etika dan kejernihan hati nurani itu diperlukan.”

Kupu-kupu menarik napas sepuas-puasnya, terdiam sejenak lalu ia berkata “Wahai semuanya. Bijakah kita, jika hanya menyaksikan penderitaan. Etiskah kita terus saling menuding? Saling menyalahkan di tengah kondisi yang masih terpuruk ini? Habis rasanya kata-kata untuk saling menghujat dan mengumpat. Jawabannya, tentu bukan dengan menanyakan kepada rumput yang bergoyang.

“Dalam menyikapai semua bencana yang belanda bangsa ini, seyogyanya kita menyadari betapa semua makhluk yang ada di dunia ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan Rabb Pemilik Alam Semesta. Sepandai apa pun terpaksa harus mengakui “kekecilan”nya di hadapan Rabb Yang Maha Kuasa. Dengan bencana ini, Allah sebenarnya hendak menguji kesabaran manusia.”

Kupu-kupu memperbaiki letak duduknya, kemudian melanjutkan bicaranya. “Selain itu, tinggkatkan kualitas keimanan, bertaubat, dan kembali secara totalitas pada hukum Allah Back to Alquran and Sunnah, dengan kembali melaksanakan seluruh syariat-Nya dalam kehidupan ini. Sebab, dengan adanya bencana ini, Allah memang menghendaki agar manusia mau kembali kejalan-Nya. Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkant karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang banar).”3

“Tidak hanya itu, marilah kita jadikan musibah yang bertubi-tubi mendera negeri ini sebagai refleksi untuk mengevaluasi diri dan merevisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga di masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara negeri ini bisa selaras dengan alam dan tuntunan Ilahi. Semua pihak hendaknya melakukan intropeksi, demi kebaikan dan kebahagiaan bersama. Dan cukuplah musibah demi musibah yang beruntun menimpa bumi pertiwi ini menyadarkan kita akan keteledoran dan keserakasan kita akan dunia. Selain itu, salah satu agenda pembenahan yang penting adalah para pemimpin. Sebab, di tangan merekalah segala kebijakan yang dihasilkan yang akibatnya pasti pada masyarakat di negeri ini. Merekalah pemegang kekuasaan yang akan menghitam putihkan bangsa ini,” ujar Sang Kupu-kupu.

Sang Awan Tersenyum memandang Sang Kupu-kupu. Dalam hati ia amat bersyukur mempunyai teman sepertinya. Ia mengamati wajah Sang Kupu-kupu. Rambut hitamnya yang memutih diatur rapi. Matanya yang jenuh dan mukanya berkerut karena usianya. Kerutan wajahnya mencerminkan kelelahan. Bahunya yang dahulu tegak kini terbungkuk. Urat-urat nadi yang terpilih di otot tanganya yang mulai keriput. Tubuh tegapnya kini berubah ringkih. Sang Kupu-kupu betapa sudah terlalu rentan diusianya yang makin menua.

***

Hari tampak pucat. Gema azam magrib melambung syahdu. Seperti dikomando mereka berempat untuk menghentikan obrolannya sore itu.

Hujan kini berangsur-angsur reda. Butirannya yang jatuh tinggal beberapa saja. Gumpalan hitam yang tadi menjangkiti angkasa, kini telah menghilang. Langit biru mulai menyeruak. Sinar senja sang mentari menembus awan yang beranjak pergi. Matahari pun terbenam. Bekas sinarnya membuat merah di ufuk barat membuat bayang-bayang. Daun yang basah dan jalan yang digenangi air. ***

Catatan kaki :

1 Surat An-nisa [4] : ayat 79.

2 Surat Lukman [31] : ayat 10.

3 Surat Ar-rum [30]: ayat 41.

Iklan