ZIARAH

Oleh : Zaldy Munir

“MENGHITUNG hari … detik demi detik …,” itulah sepenggal lagu yang dinyanyikan oleh Krisdayanti dengan judul Menghitung Hari. Judul tersebut kiranya sangat pas untuk saat ini. Ramadhan tinggal menghitung hari, tidak lama lagi umat Muslim di seluruh dunia akan menyambut bulan yang penuh hikmah ini.

Berbagai macam acara dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan Rendi, lelaki kelahiran Bogor, 14 Juli 1981. Menjelang Ramadhan ia acap kali ziarah ke makam sang Ayah, yang meninggal enam tahun silam. Bersama Ibunda tercinta, Kakak, Adik atau saudara terdekat lainnya ia ziarah.

Ziarah ke makam sang Ayah bukan kali petama ia lakukan, tetapi sudah menjadi ‘tradisi’ keluarga mereka semenjak sang Ayah meninggal. Beberapa hari menjelang Ramadhan ia kerap mengunjungi Taman Pemakaman Umum (TPU) P. Semper, di jalan Budi Dharma Semper Timur – Cilincing Jakarta Utara.

“Kami ziarah ke makam, memang hampir setiap menjelang Ramadhan untuk memberikan doa kepada ayah saya yang meninggal enam tahun silam. Dan di hari-hari biasa (di luar Ramadhan) pun kami suka ziarah. Dengan harapan, semoga dosa-dosanya diampuni dan mendapat tempat di sisi Allah SWT. Kami biasanya bersama keluarga dan saudara,” ujarnya. Ia pun tak tahan menahan cairan bening yang membasahai pipinya.

Meninggalnya sang Ayah memang mambuat dirinya sadar akan sebuah kematian. Bahwa hidup di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua akan mati. Seseorang yang kita sayangi, seseorang yang kita cintai, pasti suatu saat nanti atau cepat atau lambat mereka akan maninggalkan kita. Hanya saja, kita tidak tahu kapan mereka akan meninggalkan kita.

“Setiap diri sesungguhnya menyadari bahwa kematian adalah milik kita semua, yang Allah berikan sebagai bagian dari paket kehidupan tanpa kecuali. Dan kehadirannya yang tak bisa diprediksi semestinya justru dianggap sebagai sebuah karunia Allah untuk “meningkat” manusia senantiasa berada pada level siaga. Dalam Alquran surat Al-Ankabut, ayat 57 Allah menegaskan. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami, kamu dikembalikan,” ujarnya kembali. Lelaki lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

“Dengan adanya bulan Ramadhan ini seharusnya kita menyambutnya dengan penuh suka cita. Karena kita masih diberi kesempatan untuk meninggkatkan kualitas keimanan kita. Bulan Ramadhan, buat keluarga kami sebagai bahan introfeksi untuk mengevaluasi diri, agar lebih baik lagi. Dan ziarah tak lain untuk mengingatkan yang masih hidup bahwa kita akan mengalami hal serupa,” tegasnya sembari tersenyum, senyumannya membuat gigi gingsulnya terlihat telas.

Kematian adalah sebuah keniscayaan, kampung akhirat adalah tujuan akhir dari kehidupan dunia, dan kehadirannya tak pernah terprediksikan, jelas tak ada jalan lain yang bisa kita lakukan dalam membangun kesiagaan diri, kecuali dengan memperbanyak bekal. Dan sebaik-baik bekal, ungkap Rasulullah saw adalah bekal takwa, ketuduhan hati, pikiran dan perilaku untuk menerima segala arahan, bimbingan, petunjuk Allah yang tertuang dalam Alquran maupun Sunnah rasul-Nya.

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) : “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Nahl [16] : 31-32).

Semoga kita termasuk orang-orang yang meniti hidup dengan baik, diwafatkan dengan baik, dan ditempatkan kelak di tempat yang baik bersama orang-orang terbaik. Amin.■

Iklan