DEWI TAK JADI PINDAH SEKOLAH

Oleh : Zaldy Munir

BARU beberapa hari menjadi murid Madrasah Tsanawiyah (MTS) di depan rumahnya, Dewi sudah uring-uringan. Tiap pulang sekolah selalu marah-marah. Sampai-sampai orang rumah, termasuk nenek, dibuat bingung pada sikapnya.

Setelah kakek meninggal sepuluh tahun yang lalu, otomatis yang jadi pemilik rumah tempat Dewi tinggal adalah nenek. Tapi, nenek mempercayakan semuanya pada putranya, Papa Dewi.

Kakek, dulu seorang lurah di desanya. Dia mendirikan sekolah Tsanawiyah. Karena menggunakan biaya sendiri, pembangunan sekolah itu bertahap.

Kakek memang seorang pendidik sejati. Setiap murid yang berkolah di situ tidak dikenakan biaya, gratis. Kebijakan itu sampai sekarang masih berlaku.

Dewi, yang kebetulan bersekolah di sekolah yang didirikan kakeknya itu, merasa tak nyaman.

“Pokoknya, Dewi mau sekolah di negeri. Nggak mau di Tsanawiyah. Dari SD ‘kan Dewi masuk negeri. Kenapa ke SLTP swasta? Di sekolah kakek lagi!” kata Dewi dengan wajah masam.

“Ooo, jadi itu yang membuatmu kesal?” kata mama tenang. “Sudahlah Wi, swasta atau negeri sama saja, yang penting kamu bisa sekolah,” lanjutnya.

Ucapan mamanya tidak membuat kekesalan Dewi reda. Tiap pulang sekolah, masih saja dia megeluh. Bahkan, saat disuruh makan siang, dia tidak mau.

“Pokoknya, Dewi nggak mau sekolah di situ lagi. Bangunannya nggak bagus, kuno, ketinggalan jaman, kampungan. Anak laki-lakinya nakal-nakal lagi. Itu yang namanya Didi dan Junet, kemarin main lempar-lempar batu. Hampir saja mengenai mata Dewi!” gerutu Dewi lagi.

Mama dan nenek yang mendengar kekesalan Dewi menarik nafas panjang. Nenek mengurut dada. Pikirannya, anak zaman sekarang memang susah diatur. Kalau sudah maunya, susah ditentang.

“Wi, dengan memasuki sekolah yang didirikan Kakekmu, itu artinya, kamu ikut mempromosikan sekolah itu juga. Orang-orang ‘kan mengatakan, tuh cucunya Pak Burhan saja sekolah di situ!” jelas nenek, seraya sambil membetulkan kaca mata minusnya.

“Habis, bangunan sekolahnya, nggak bagus, kuno, ketinggalan jaman, kampungan,” kata Dewi tak mau kalah.

Esoknya, nenek menelepon paman Dewi yang tinggal di luar kota. Mereka diminta mengumpulkan uang untuk biaya perbaikan sekolah.

Upaya nenek membuahkan hasil. Setelah dana terkumpul, sekolah itu direnovasi. Tembok yang sudah kumal dicat kembali. Kayu-kayu yang keropos diganti. Begitu pula kursi dan mejanya, yang sudah rusak diganti dengan yang baru.

Suatu hari Fitri, teman sekelas Dewi, datang ke rumahnya dengan air mata bercucuran. Fitri semula berjanji akan keluar dari sekolah itu. Fitri dan Dewi berniat pindah ke sekolah lain yang lebih keren.

“Kenapa, Fit? Kok, kamu nangis ?” tanya Dewi.

“Aku tidak jadi pindah, Wi. Ibuku meninggal dua hari yang lalu….,” tangis Fitri meledak.

Dewi tertegun. Dengan suara serak, dia menghibur sahabatnya itu.

“Sudahlah. Kalau kamu tidak jadi pindah sekolah, aku juga tidak. Sekolah di Tsanawiyah, negeri atau swasta sama saja. Yang terpenting kita bisa belajar dengan tenang!”

Mama dan nenek yang mendengar ucapan Dewi saling pandang. Keesokan harinya, uang pendaftaran Fitri dikembalikan Papa Dewi. Fitri dan keluarganya berterima kasih sekali atas kebaikan Papa Dewi.

Tidak hanya itu. Teman Dewi yang bernama Soleh, Mahmud juga dibebaskan dari uang pendaftaran. Melihat yang dilakukan papanya, perlahan, rasa bangga tumbuh di hati Dewi. Sekarang, aku tidak malu lagi bersekolah di sekolah yang didirikan kakekku. Bisiknya dalam hati. ***

Ket : Cerpen ini pernah dimuat di Tabloid Fantasi 438 Tahun Kesembilan / Minggu Kedua Mei 2002).

Iklan