ANAKKU ANAKMU

 

Oleh : Zaldy Munir

 

SENYAP dan kelam melingkupi pemukiman penduduk di kaki gunung Galunggung. Jiwa per jiwa telah pulas dalam tidurnya, setelah seharian melakukan aktivitas masing-masing. Kesunyian yang seakan berkepanjangan itu tiba-tiba dipecah suara tangis bayi dari rumah di bawah rimbunan pohon bambu.


Dengan wajah pucat dan kegelisahan yang amat sangat, sang ibu mencoba kembali meneteki bayinya. Seperti tadi, tidak setetes pun air susu yang keluar. Si anak yang masih berusia enam belas bulan itu tangisnya makin keras.


Dengan air mata meleleh, sang ibu yang masih muda itu hanya bisa memeluk bayinya erat-erat, ia tidak tahu harus berbuat apa di tengah malam begini. Jika tidak punya rasa malu, ingin rasanya membangunkan tetangganya untuk minta makan supanya air susunya keluar. Namun, ia tidak sangup melakukannya.


Ia teringat Pak Dadang, tetangga sebelah yang rumahnya hanya berjarak tiga puluh meter dari rumah Sastri. Juragan tahu yang tergolong orang kaya di kampungnya itu kabarnya menjadi donatur tetap sebuah yayasan panti asuhan.


“Pak Dadang…Pak Dadang, kalau bapak orang yang dermawan, tentu tidak akan membiarkan tetangganya kelaparan,” Sastri bergumam pedih karena ia yakin tangis anaknya terdengar sampai ke sana.


Sementara itu di luar, dari arah Barat, seorang wanita tua dengan rambut panjang acak-acakan berjalan tergesa. Kedua tangannya membawa piring dan gelas. Matanya yang setengah terbuka karena ngantuk membuat langkahnya tersaruk-saruk. Ia berjalan menuju rumah Sastri, di mana suara tangis bayi itu sudah tak terdengar lagi.


“Tri…Sastri” Mak Itih, nama wanita tua itu, memanggil sang-empunya rumah. Terdengar sahut dari dalam, lalu disusul suara sandal diseret. Krieeet! Pintu terbuka. Seraut wajah lelah menyembul keluar.


“Mak Itih…,” suara Sastri terpotong karena Mak Itih langsung masuk kedalam dan manaruh bawaannya di atas meja.


“Makanlah, Sas. Sini biar Doni aku gendong.” Mak Itih mengambil Doni dari gendongan ibunya. Wanita tua yang baik hati itu manatap dalam-dalam wajah Doni yang agak membiru seraya menepuk pantatnya pelan-pelan. Mata bayi itu kemudian terpejam. Di anatara desahan halus napasnya. Hati Mak Itih tersayat melihat keadaan bayi itu. Keluarga kecil itu bukan sanak bukan pula saudara, tapi ia sangat menyayangi mereka.


Di samping Mak Itih, di atas balai-balai, Sastri makan dengan lahap dan tergesa. Lauk tempe dengan sambal terasi terasa sangat nikmat, dalam sekejap masuk perutnya yang sejak siang kosong. Ingin pula Sastri meneguk susu sapi, tapi perutnya sudah kenyang. Ia bergegas ke dapur menaruh piring dan mencuci tangannya. Tak lama kemudian ia kembali ke kamar.


“Sebenarnya aku butuh dua orang lagi untuk menanam padi. Namun, jika aku menyuruh Hilman ia akan marah,” kata Mak Itih sambil menyerahkan Doni agar segera disusui. Bola mata Sastri kontan berbinar-binar.


“Tidak apa-apa, Mak. Saya siap menghadapi kemarahan Hilman,” ucapannya sungguh-sungguh. Mak Itih tersenyum. Kepalanya mangut-mangut. Dari balik kutanggnya ia mengambil selembar uang dua puluh ribu, lalu diselipkan di genggaman Sastri.


“Bawalah anakmu ke dokter. Ini tidak hutang, kok.” Setelah mencium pipi Doni, ia pamit pulang. Sastri masih terpaku menatap uang itu hingga lupa mengucapkan terima kasih. Begitu tersadar ia langsung berlari keluar. Namun, Mak Itih sudah jauh meninggalkan rumahnya.


Sastri menghela napas panjang, lantas berbalik masuk ke dalam rumah. Doni sudah tidur setelah puas menetek. Pelan-pelan ia turunkan di balai-balai. Bayi itu menggeliat dan matanya sedikit terbuka, kemudian menutup kembali. Sastri lantas berbaring di sisinya, mengatur rencana dengan uang dua puluh ribu itu.


Besok ia membawa Doni ke Puskesmas saja yang biayanya jauh lebih murah. Sisanya akan ia belikan susu. Sudah tiga hari ini susu anaknya habis. Sebagai gantinya ia beri air tajin dan tadi pagi Doni mencret. Ia tidak tahu apakah karena air tajin itu yang membuat anaknya mencret. Yang pasti ia sangat sedih karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya.


Makanan penuh gizi dan bervitamin hanya bisa ia bayangkan tanpa sanggup membeli. Ia hanya bisa mamberi susu tambahan, itu pun ia jatah hanya segelas sehari. Jika malihat anak tetangganya yang sehat dan gemuk-gemuk serta dibalut baju bagus, hatinya makin tersayat.


Sanstri menguap. Bersamaan dengan dentang jam dua belas kali ia pun tertidur setelah lelah mengayam pikiran.


□□□


Lelaki berparas gemuk yang bersedeku di pintu angkotnya itu mengendarkan pandangannya ke sekeliling pesawahan yang luas membentang. Gunung-gunung serta bukit-bukit pun nampak menjulang dari kejauhan. Ia melirik jam tangannya, pukul sembilan malam. Biasanya jam segini masih ada orang yang berlalu lalang menikmati angin malam. Namun, malam ini ia tidak melihat seorang pun. Orang-orang yang biasanya menghabiskan malam dengan main kartu kali ini juga tidak nampak.


Di jalan setapak kaki desa, yang terapit oleh tambak dan parit kecil, dia duduk mengaso sambil melonjorkan kaki di atas rerumputan tepi parit. Sementara desir angin gunung sejuk membelai rambutnya dengan mesra. Air parit yang cukup jernih pun lancar mengalir, sehingga dapat digunakan oleh penduduk setempat untuk mandi dan mencuci melalui pancuran bambu yang kemudian terapung dalam bak mandi atau kolam. Lelaki yang wajahnya dipenuhi cambang itu manatap langit yang kelabu. Di sana, di tengah angkasa terlukis wajah anak dan istrinya.


“Kang, izinkan aku kerja, untuk membelikan susu buat si Doni.” Ucapan istrinya kembali terngiang. Kata-kata yang belakangan ini sering didengarnya dan membuatnya hampir kehilangan kesabaran.


Keinginan istrinya itu benar-benar menohok ulu hatinya, menurunkan harga dirinya sebagai suami. Dan yang paling ia takutkan adalah cemoohan orang-orang yang mengira dirinya tidak mampu menafkahkan keluarga.


“Doni harus jadi orang, Kang. Jangan seperti kita.”


“Alasan!” Tanpa sadar Hilman mendengus. Punggungnya dihempaskan di antara rerumputan. Terkadang ia curiga istrinya ingin kerja supaya bisa hidup enak seperti dulu dan keadaan anaknya yang dijadikan alasan. Hilman tahu, berprasangka buruk itu tidak baik. Apalagi kepada istri sendiri. Namun, ia tidak akan berpikir macam-macam seandainya Sastri bukan mantan wanita penghibur.


Hilman juga sadar, ia tidak mampu mencukupi kebutuhan anak istrinya. Jangankan untuk beli baju atau ini itu, untuk makan sehari-hari saja sering tidak cukup. Sebenarnya, penghasilannya sebagai supir angkot cukup lumayan. Namun, separuh dari upahnya ia gunakan untuk mengangsur hutangnya di bank tiap bulan selama lima tahun.


Dua tahun lalu ia pinjam uang di bank sebesar empat juta untuk mendaftar jadi TKI ke Arab. Lebih dari setahun ia belum diberangkatkan juga. Ketika didatangi, ternyata ia ditipu, amblas bersama uangnya.


Dengkuran keras di sampinya membuyarkan lamunan Hilman. Rupanya Aceng, keneknya, sudah dibuai mimpi. Dengan hati-hati Hilman mengambil buku karangan Muhammad Iqbal yang menutupi wajahnya. Dibolak-baliknya sebentar lalu ditaruh di pangkuannya. Lantas ia memejamkan mata. Dalam hati ia berzikir untuk menenangkan perasaanya yang tiba-tiba gelisah.


□□□


Sastri keluar dari Puskesmas dengan hati tidak karuan. Ucapan dokter terus terngiang. Hari ini juga ia disuruh memeriksa Doni ke rumah sakit. Ia sudah diberi surat pengantar. Namun, untuk ke sana, paling tidak ia harus membawa uang dua ratus ribu. Mau pinjam ke Pak Kandar, juragan suaminya, ia merasa sungkan karena hutangnya yang seratus ribu belum dibayar. Sastri menatap anaknya. Wajah mungil itu tampak pucat dan membiru. Mata anaknya yang redup membalas tatapan ibunya. Duh, Sastri tersendu. Akhirnya Sastri ke rumah Mak Itih untuk menitipkan Doni, sementra ia akan menemui Tante Nis, cari hutang.


“Tante Nis sedang keluar,” ucap satpam. Sastri berniat menunggu di salonnya. Di tempat itu ada Yuli yang tengah bertugas menjaga salon. Kedua wanita itu kemudian terlibat obrolan yang hangat.


“Aku iri sama kamu, Sas. Ada pria yang menerimamu dengan tulus. Pasti kamu bahagia,” Yuli menatap lekat bekas teman se-propesinya sebagai wanita penghibur. Sastri tersenyum penuh kemunafikan. Tidak mengomentari. Bahkan ia balik bertannya.


“Kudengar kamu mau nikahi Heri?” Yuli menarik napas panjang. Matanya sendu dengan tatapan kosong ke atas.


“Dia anak orang terhormat. Ia tidak pantas punya menantu mantan pelacur deperti aku ini. Sebanarnya ia mau nekat, tapi kularang…”


Teriakan azan dhuhur berkumandang yang entah di mana tempatnya. Seperti dikomando keduanya berhenti bercakap untuk mendengarkan azan.


“Kamu atau aku yang salat dulu,” tawar Yuli begitu azan usai.


Sastri manatap temanya hampir tak percaya, “Kamu sekarang telah berubah Yul,” gumamnya serius.


Yuli tersenyum tipis. “Dosaku terlalu banyak, Sas. Oke, aku salat dulu,” tanpa menunggu jawaban Sastri, gadis bertampang indo itu menuju ke dalam. Sastri mengiring kepergian Yuli sampai hilang di balik dinding.


Sementara itu, hati Hilman benar-benar meradang saat diberi tahu Mak Itih kalau istrinya ke Tante Nis. Tanpa berkata-kata lagi ia meluncurkan angkotnya. Ia yakin istrinya ada di sana. Ternyata benar. Dari luar pagar, ia melihat Sastri berdiri di tengah pintu, bercakap-cakap dengan lelaki muda yang berambut gondrong. Jluk! Hilman keluar dari dalam angkotnya dan menghampiri Sastri dengan muka merah padam.


“Akang…!” Sastri terperangah dengan kedatangan suaminya.


“Dasar wanita tidak tahu diri. Anak sakit malah selingkuh.” Plak! Plak! Tangan kekar Hilman mendarat berkali-kali di pipi Sastri. Wanita berbadan kurus itu menjerit kesakitan. Hilman sudah kalap. Ia baru berhenti menghajar begitu istrinya terjatuh di lantai.


Lelaki muda yang hendak potong rambut yang mencoba melerai terduduk di lantai, dadanya kena pukul Hilman. Entah…setan apa yang merasuki dirinya. Yuli yang baru saja selesai salat menjerit histeris melihat keadaan Sastri. Gadis itu menatap Hilman lekat-lekat.


“Hilman kamu salah paham!” Yuli mencoba menjelaskan.


“Jangan membelanya. Semua sudah jelas.” Hilman mencibir sambil melirik istrinya. Lantas meninggalkan tempat itu.


□□□


Doni terkena infeksi lambung dan mondok di rumah sakit selama seminggu. Selama itu pula, Hilman dan Sastri tidak bertegur sapa. Bahkan sampai mereka pulang ke rumah. Tante Nis terpaksa turun tangan dengan mengatakan yang sebenarnya pada Hilman.


“Ibu mana yang mau berdiam diri melihat anaknya sakit,” gumam Sastri setelah suaminya minta maaf. Sore itu Sastri dan Hilman duduk di teras rumah, melepaskan unek-unek masing-masing. Sementara Doni yang sudah agak sehat tidur pulas di pangkuan ibunya.


“Aku sudah tahu semuanya,” Sastri menoleh dengan kening berkerut.


“Tante Nis yang menceritakannya,” Hilman menatap istrinya dalam-dalam. Dengan tangan gemetar tangannya menyentuh pipi istrinya yang masih membiru, bekas tamparan kemarin. Sastri yang manis tampak semakin kurus. Matanya cekung dengan sorot yang menyiratkan kelelahan dan penderitaan. Lalu, ia ganti memegang tangan anaknya yang terjuntai lemas. Hati Hilman tersayat. Perasaan berdosa dan menyesal menyeruak.


“Akang…” bisik Sastri. Ia melihat sudut mata suaminya berair. Hilman menunduk.


“Aku izinkan kau bekerja. Aku tahu salon itu khusus wanita. Namun, tolong jangan sia-siakan kepercayaanku ini.”


Sastri terasa mimpi mendengarnya. Agak lama ia terpaku. Lalu bibir mungilnya tersenyum lebar. Seraya menatap langit yang kemerahan, tanganya membelai rambut suaminya yang ikal.


“Kau bekerja untuk anak kita, ‘kan?” Hilman menegaskan, Sastri mengangguk mentap.


“Iya, untuk anakku anakmu,” Hilman hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Sastri.■

Iklan