MASJID SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN UMAT ISLAM

 

Oleh : Zaldy Munir

 

MASJID adalah pusat umat Islam. Ia mesti melambangkan kesyumulan atau keluasan agama, berfungsi membangunkan umat di sudut kerohanian dan fisikalnya. Memasuki masjid berarti melangkah ke kawasan yang melambangkan ketulusan, kemesraan, kerahmatan dan kesyumulan agama.


Dalam kesibukan urusan kehidupan, umat Islam diperintahkan singgah lima kali sehari di masjid demi mengambil tenaga dan meneruskan agenda perjungan sebagai khalifah pemimpin dunia. Dengan demikian, maka muncullah dalam diri setiap individu muslim dengan kekuatan yang luar biasa, gabungan antara unsur langit dan bumi, atau kerohanian dan kebendaan.


Sepanjang sejarah, masjid merupakan benteng untuk mempertahankan kehormatan agama Islam yang suci. Para pribadi agung, seperti Rasulullah Saw berserta para sahabat setianya, merupakan para pejuang yang senantaisa mempertahankan kehormatan Islam. Mereka merupakan suri teladan kecintaan, peribadatan, dan ketundukan pada Tuhan Semesta Alam. Selain itu, masjid mengingatkan ketundukan, kerendahan diri, peribadatan, dan penghambaan kepada Allah Swt.


Hati seorang mukmin sejati merupakan benteng pertahanan dalam menghadapi kaum musyrik dan kaum tak beragama; di mana, siang-malam, dia beberapa kali berdiri menghadap Allah di masjid. Rasulullah Saw dan para pribadi suci menegaskan agar shalat dilakukan secara berjamaah. Mereka juga senantiasa menjalankan dan mempertahankan ibadah nan agung ini.


Di masjid, manusia menundukan tubuh untuk bersujud. Inilah puncak penghambaan dan prendahan diri di hadapan Allah Swt, sebagaimana ditegaskan Rasulullah Saw. ”Sujud merupakan puncak penghambaan anak keturunan Adam.” Di samping bersujud, berbicara, dan berdialog, menyebut nama Allah juga amat ditekankan. ”…Dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah…” (Al-Hajj [22] : 40). Keindahan bersujud dan menyebut nama Allah adalah mengucapkannya dengan tulus dan murni, sebagaimana disebutkan dalam Alquran. ”…Dan (katakanlah), ”Luruskan muka (diri)mu disetiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya…”. (Al-A’raf [7] : 29)


Para Pembenci Masjid

Biasanya, orang yang membenci masjid adalah kafir dan pemimpin yang zalim. Orang-orang semacam itu beranggapan bahwa masjid bertengangan dengan kepentingannya.


Dalam hal ini, sebuah pemerintahan punya kukuasaan besar untuk melemahkan atau memperkuat peran masjid di tengah masyarakat. Dapat kita saksikan sepanjang sejarah bahwa berbagai masjid berperan besar dalam melemahkan kekuatan para penguasan zalim; juga mendorong masyarakat agar bangkit melawan mereka. Karenanya, masjid dan orang yang senantisa hadir di situ menjadi musuh besar mereka yang membenci masjid. Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya, dengan menyebut mereka yang membenci masjid sebagai orang-orang zalim.


”Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam manjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutunya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (Al-Baqarah [2] : 114). ■

Iklan