HADAPILAH MASALAH KEHIDUPAN DENGAN SENYUM

Oleh Zaldy Munir

HIDUP memang akan terasa hidup jika kita hidup penuh kebahagiaan dan senyuman. Tidak hanya sebatas senyum di bibir, tapi senyum di hati. Lalu bagaimana kalau senyum itu tiba-tiba berubah menjadi gelisah, takut, dan pahit?

Apakah kita akan lari dan terus berlari? Apakah dengan mengakhiri hidup ini  dengan meminum obat nyamuk? Jelas itu bukan solusi yang manjur dan mujarab. Karena jika kita bersikap seperti itu, bukan berarti kita akan terbebas dari masalah. Malah akhirnya masalah akan semakin menumpuk.

Kalau kita menyadari hidup yang sesungguhnya adalah hidup dengan aneka permasalahan dan beragam masalah. Kenyataan hidup memang tidak mudah, penuh kesulitan dan kepedihan. Kapan dan di mana pun masalah kehidupan akan datang. Siap atau tidak siap. Suka atau tidak suka. Masalah kehidupan akan selalu datang. Hanya saja apabila masalah kehidupan itu datang kita sering kali tidak “peka”, dan menganggap ini sebagai kelemahan diri, tidak menganggap ini sebagai teguran dari-Nya.

Sebagai manusia religius apabila masalah kehidupan datang, kita seharusnya mutlak membuka kesadaran bahwa Allah telah menegur kita. Tidak mungkin masalah kehidupan akan datang kalau tidak ada musababnya. Pasti ada yang salah dengan perilaku kita. Masalahnya, tidak semua orang “ngeh” dalam menghadapi berbagai macam masalah kehidupan. Ada reaksi negatif yang menerjemahkan masalah kehidupan sebagai siksa. Dari sini pula tidak sedikit orang yang akhirnya putus asa. Semangat hidupnya tiba-tiba menjadi redup. Hidup akhirnya menjadi pelarian tiada akhir. Pada puncaknya bunuh diri sebagai tujuan akhir.

Akan lebih bijak jikalau kita menghadapi berbagai macam masalah kehidupan yang ada, dan tidak terus lari ataupun menghindar dari ketidakyamanan hidup. Seberapa rumit dan besarnya masalah, asalkan kita mau berupanya sepenuh hati untuk membaca kelebihan dan kekurangan pada diri kita. Ada kelebihan dalam diri yang harus dimunculkan, dikumpukan, dan dipupuk hingga menjadi kekuatan. Ada kekurangan dalam diri yang harus dibuang, disingkirkan, dan dikikis semampu mungkin. Dari situlah manusia mempunyai kekuatan untuk menata hidupnya untuk lebih baik lagi. Dan ingatlah dengan janji-Nya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah [2] : 286).***

Iklan