PINTAR

Oleh : Zaldy Munir

                                                                                      

 

MENJADI pintar dan cerdas, itu harus bagi setiap manusia. Menjadi insan kreatif dan penuh ide, juga syarat mutlak jika manusia tersebut ingin hidupnya lebih mudah dan lebih baik. Bahkan agama Islam dalam ajaran kitabnya, yang notabene kalam Tuhan, menjanjikan akan menaikkan beberapa derajat lebih tinggi nilai “manusia” seorang manusia berilmu atas manusia lain yang kurang ilmunya. Itu artinya, tiap manusia memang dituntut untuk terus mencari, mengasah dan menambah ilmu serta pengetahuan sepanjang hidupnya.

 

Dari kecil, setiap kita dididik dan dibimbing oleh orang tua masing-masing dan lingkungan sosial terdekat (keluarga), untuk menjadi anak-anak yang pintar dan cerdas secara akal. Selanjutnya, tuntutan untuk membentuk kita menjadi manusia-manusia unggul dalam mengeksplorasi daya pikir maksimal tersebut, berlanjut lebih jauh dalam proses masa pendidikan formal yang kita jalani di bangku sekolah hingga kuliah.

 

Masih belum cukup dengan jalur pendidikan formal, lembaga-lembaga pendidikan non formal pun sangat siap menampung setiap saat untuk mengasah dan mencetak kita menjadi manusia-manusia super secara otak, agar nantinya kita dapat memenangkan persaingan hidup yang “dikatakan” semakin sulit terhadap manusia lainnya. Diakui atau tidak, kini doktrin moral ini telah begitu ditanamkan tiap orang tua kepada anaknya bahkan hingga ia dewasa.

 

“Pintar lah nak..!, atau kau akan kalah bersaing hidup”. Manusia diciptakan Tuhan lebih sempurna dari makhluk lain di atas permukaan bumi, itu karena manusia memiliki akal. Sebuah unsur “kemahlukan” yang tidak dimiliki oleh hewan atau tumbuhan. Dan kita juga tidak jarang mengukur tingkat kesempurnaan seorang “manusia” beranjak dari kesempurnaan akalnya tersebut. Sebab itu, orang gila atau manusia kurang berakal, selalu kita niscayakan sebagai manusia yang kurang sempurna. Karena memang akalnya yang tidak sempurna dan daya pikirnya yang tidak lagi dapat bekerja normal.

 

Namun cukupkah sosok manusia hadir dalam tatanan hidup sosialnya hanya mengusung kesempurnaan akal belaka, dan dikatakan sempurna ketika ia sebagai mahluk kemudian memiliki pencapaian kualitas daya pikir yang sangat baik..?!

 

“Pada akhirnya dalam hidup, manusia harus menjadi bijak…” Sepenggal kutipan dari kolom seorang pemikir negeri ini menggelitik hati saya. Kutipan tersebut diambil dari catatan akhir seorang guru besar sosiologi, yang kian berhadapan dengan “sang maut” (ketika sebuah penyakit ganas tak lagi bisa disembuhkan), yang akhirnya melahirkan sebuah pengakuan jujurnya atas kemanusiaan  “…bahwa hidup dan proses dunianya, tak bisa sepenuhnya ditakhlukan oleh akal…”

 

Sang guru besar, yang telah menghabiskan dua pertiga umurnya untuk mengajari murid-muridnya agar menjadi manusia-manusia pintar yang unggul, di penghujung umurnya tak lagi mampu mengelak untuk mengakui; ternyata dalam kehidupan, ada yang jauh lebih penting dari sekedar supremasi akal. Sebab menurutnya, pada akhirnya manusia harus menjadi mahkluk bijak.

 

Indonesia. Bangsa yang besar ini tidak pernah kekurangan orang-orang pintar, manusia cerdas, insan jenius yang kreatif dan penuh dengan ide selangit. Indonesia juga tidak pernah kehabisan orang-orang yang memiliki kualitas super secara daya pikir. Namun bila berkaca pengakuan hati sang guru besar tadi, agaknya kita harus jujur mengakui, jika negeri ini ternyata masih kekurangan manusia-manusia bijak (tidak sekedar pintar akal), yang diharapkan bisa membebaskan bangsa ini kelak dari “lumpur hisap” krisis kebangsaan yang menjebaknya.

 

Bukan seperti potret realitas yang ada, ketika sebuah bangsa justru dipenuhi oleh orang-orang yang pintar, bahkan sangat pintar secara akal, namun sayang kepintaran itu malah menjadi bumerang tajam yang melukai tubuh dan nyawa bangsanya sendiri hingga berdarah-darah.

 

Pintar dan cerdas berangkat dari satu asal, yaitu akal. Itu sebabnya, “perangkat” manusiawi ini cenderung kepada output daya pikir seperti ide, rencana, siasat, dan strategi. Wujud fenomena ini sangat mudah dijumpai seperti dalam proses dunia perpolitikan bangsa ini yang berwajah kacau. Sedangkan bijak atau bijaksana, adalah perangkat lain “kemahlukan” manusia yang berangkat dari unsur hati dan nalurinya. Maka itu ia lebih condong kepada prilaku “sikap” ; seperti tenang, seimbang, sikap penuh kehati-hatian, dan sabar. Pada konversi lebih jauh, ia kemudian mewujud dalam sikap manusia yang berpegang pada pijakan sikap adil.

 

Dewasa ini, dalam proses kehidupan seorang manusia sosial, “perangkat” kemakhlukkan yang pertama tadi yakni akal, selalu mendapat porsi lebih dalam pembentukannya. Dengan alasan semakin kerasnya tingkat persaingan hidup antara sesama manusia itu, maka tidak ada jalan lain, menurut seorang manusia ia harus bisa menyaingi dan mengalahkan manusia lain, dengan jalan lebih pintar dari manusia lain tersebut. Dan agaknya cara pemahaman ini semakin lama semakin mengeras di hati tiap orang.

 

Tidak ada yang salah dengan manusia menjadi pintar atau cerdas. Itu harus, agar manusia tersebut dapat melakukan sesuatu untuk dirinya dan manusia lain. Namun jika ia tidak mengimbangi kelebihan akalnya tersebut dengan sikap “bijak”nya sebagai mahluk, maka bisa jadi yang ada hanya kerusakan pada akhirnya. Kerusakan buat orang lain pastinya. Dan agaknya kondisi inilah yang kini terhampar dalam realitas sosial berbangsa di negara ini.

 

Tiap waktu bangsa kita disuguhi kenyataan pahit yang menimpa rakyatnya. Dari musibah alam hingga bencana akibat kejahatan politik serta kekuasaan, seolah susul-menyusul melukai bangsa Indonesia. Ironisnya, kebanyakan penyebabnya justru adalah orang-orang pintar bangsa ini sendiri yang sangat “kepintaran”, yang ‘mencuri’ kepercayaan rakyatnya untuk mengurusi Indonesia dengan cara membodohinya.

 

Setelah itu dengan kepintarannya pula mereka (sebab kini kejahatan kecerdasan telah menjadi sebuah sistem kolektif) beramai-ramai menghisap darah negeri ini hingga sakit parah di setiap tubuh bangsanya. Tanpa ada kesadaran yang bijak bahwa bangsa ini bukan milik mereka sendiri. Bahwa dalam hidup sebenarnya manusia lain bukanlah saingan, namun saudara sesama manusia yang sama punya hak untuk hidup dengan baik, apalagi kita adalah manusia sebangsa.

 

Maka mungkin benar adanya, jika bangsa ini masih kekurangan sesuatu dalam membentuk pondasi bangsanya. Indonesia masih kekurangan manusia-manusia yang tidak sekedar pintar dan cerdas namun juga penuh mental bijak. Dengan mental “kemahlukan” ini, tentu segala prilakunya kelak lebih seimbang.

 

Sebab semua tindakannya yang pintar tersebut, nantinya akan dilakukannya di atas kondisi sikap yang penuh kehati-hatian, tenang, seimbang, dan sabar. Lebih dalam, ia kemudian mewujud dalam sikap manusia yang berpegang pada pijakan sikap adil terhadap manusia lain. Tidak menganggap manusia lain itu saingan yang harus dikalahkan. ¡

Iklan