MENGGAPAI KEBAHAGIAAN

Oleh : Zaldy Munir

BANYAK alasan yang dikeluhkan seseorang, yang dapat membuatnya tidak bahagia. Entah karena situasi keuangan yang tambal sulam, tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari pasangan, kegagalan berumah tangga,  tidak memiliki pendidikan tinggi. Bahkan konyolnya terkadang hanya karena tidak mempunyai plasma tv, tidak menyetir BMW edisi terbaru, tidak  tinggal di rumah berkamar tujuh seperti temannya, dapat membuat hidup seseorang tidak bahagia.

Kebahagiaan yang berdasarkan hal materialistik, memang dalam banyak kasus dapat menentukan bahagia atau tidaknya seseorang. Betapapun besarnya layar tv, betapapun canggih dan banyaknya features hand phone, betapapun mewah dan terbarunya mobil, betapapun mewahnya tempat tinggal seseorang. Belum tentu atau malah tidak menjadi jaminan bahwa ia akan bahagia. Kebahagiaan yang dilandaskan pada hal materialistik tidak pernah akan memuaskan seseorang. Ibarat berlari di treadmill, tidak pernah akan mencapai tujuan akhir.

Semua faktor (emosional dan kebendaan) di atas selalu menjadi penghambat kita untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Lantas apa yang dapat dilakukan untuk tidak terjebak dalam perangkap emosional dan kebendaan yang selalu muncul dalam keseharian?

Pertama, Miliki perasaan bangga dan puas terhadap semua yang kita miliki. Kesehatan, keluarga yang harmonis, hubungan baik dengan teman-teman, semuanya itu merupakan harta yang paling berharga. Barang-barang yang kita punya memang dapat membuat hidup lebih nyaman, tetapi jangan pernah “mendewakan”nya. Karena pada saat kita mengukur kebahagiaan hidup pada benda-benda yang kita punya, pada saat itu pulalah kita akan tidak bahagia.

Kedua, berhentilah berusaha mengejar pengakuan dari orang lain tentang kekayaan, kecantikan, kecerdasan, dan kepribadian kita. Semakin sedikit kita mengharapkan pengakuan orang lain atas diri kita, justru akan semakin banyak kita menerimanya.

Ketiga, sebagai individu yang sudah dewasa dan matang maka harus mempunyai prinsip, sikap tegas. Kita semua memiliki tanggung jawab bagi hidup kita sendiri. Kita tidak perlu menanyakan kepada orang lain tentang bagaimana seharusnya kita meniti hidup ini. Kita tidak harus selalu meminta ijin pada orang lain dalam setiap tindakan yang hendak dilakukan.

Keempat, jangan berharap kita dapat menyenangkan semua orang pada setiap saat. Bagaimana benar dan baiknya perilaku kita, akan selalu ada orang-orang yang bersuara sumbang. Tetaplah memancarkan keceriaan terhadap orang-orang di sekitar anda. Terimalah kritik konstruktif untuk memperbaiki diri dengan senang hati. Bersikaplah EPG (emang gw pikirin) terhadap nada nyinyir dari orang-orang yang sirik dan tidak suka kepada kita.

Kelima, sekali-kali berhentilah berpikir dan menganalisa suatu masalah. Buang jauh-jauh segala yang berkecamuk dalam hati dan pikiran, serta biarkan pikiran tenang untuk beberapa saat. Hal ini perlu, karena sama halnya dengan fisik, pikiran dan perasaan juga membutuhkan masa-masa untuk istirahat.

Keenam, menyadari bahwa yang dapat menentukan dan membuat hidup kita bahagia adalah diri kita sendiri.

Jadi, kebahagiaan itu bersumber dari diri kita sendiri. Dari bagaimana cara kita memandang hidup, dari cara kita mengontrol pikiran dan perasaan, dari cara kita menempatkan aspek materialistik yang kita miliki. Janganlah mencari-cari sumber kebahagiaan diluar, karena yang dicari itu sesungguhnya berada di dalam diri kita sendiri.

Iklan