STOP KEKERASAN PADA ANAK! JANGAN JADIKAN ANAK SEBAGAI TUMBAL DALAM KELUARGA

Oleh : Zaldy Munir

KEKEERASAN seakan sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehariah kita, dalam menjalani rutinitas sehari-hari banyak kita melihat tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi. Tidaklah heran, karena setiap hari kita selalu “dicekoki” oleh berbagai tayangan kekerasan melalui media televisi, surat kabar, dan majalah. Bagi mereka kekerasan merupakan berita yang tidak kalah penting dari berita lainnya. Praktik kekerasan dalam tatanan idiologis sampai yang paling prakmatis sekalipun merupakan realitas keseharian yang kita alami terlebih-lebih di kota-kota besar.

Acap kali kita menyaksikan beragam kekerasan pada anak di dalam keluarga, seperti memukul, menyiksa dan mengurungnya di dalam kamar mandi tanpa memberinya makan. Bahkan, yang lebih ironisnya lagi, ada juga anak yang menjadi pelampiasan kemarahan orang tuanya, anak sebagai “alat balas dendam” untuk meluapkan kekesalan dan kemarahannya. Entahlah, apa yang mendorong para orang tua untuk berbuat kejam kepada anak-anaknya.

Kurang harmonisnya hubungan anak dan orang tua akibat sikap otoriter atau sikap hitam-putih, misalnya, merupakan sikap yang akan menciptakan suasana yang tidak dialogis dan komunikatif. Sikap seperti ini, bila terus terjadi akan memunculkan rumah tangga yang broken home. Anak-anak tidak kerasan tinggal di rumah, rumah dianggap “neraka”, sehingga lambat laun, pasti akan memunculkan sikap penyimpanngan bagi anak tersebut. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak semakin rawan dengan berbagai perilaku kejahatan.

Orang tua yang hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan jasmaniyahnya saja adalah hal yang sangat keliru. Di massa yang semakin mengglobal, yang ditandai semakin terbukanya informasi dan komunikasi canggih dewasa ini, maka kebutuhan-kebutuhan jasmaniyah dan materil seperti itu tidaklah cukup. Dalam kondisi dewasa ini, orang tua seyogyanya memberikan lebih banyak waktu kepada anak-anaknya untuk diberikan kasih sayang, pendidikan dan suasana yang harmonis serta komuniktif. Suasana seperti ini pada gilirannya akan menciptakan suasana keterbukaan di antara kedua pihak, baik anak maupun orang tua.

Di dalam mendidik anak, kita seyogyanya dapat memahami perkembangan pada anak, entah itu dari segi fisiologis ataupun psikologis. Masa anak-anak dimulai pada massa bayi sampai saat anak matang secara seksual. Jadi, mulai sekitar umur 2 tahun sampai sekitar umur 11-14 tahun.

Pada umur 2-14 tahun, Prof. Dr. Hj. Zakariah Darajat dalam bukunya Kesehatan Mental (1990:16) menyatakan, pada massa ini anak sangat sensitif, ia sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang sungguh-sungguh. Pada massa ini anak-anak ingin pula mengenal alam sekelilingnya, dengan meraba, mencium, dan bertanya. Lingkungan si anak pada umur ini telah agak meluas, meskipun masih berpusat pada ibu-bapaknya.

Di samping itu, hal senada dikemukakan oleh Prof. Dr. Ny. Y. Singgih Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa dalam bukunya Psikologi Praktis Anak Remaja dan Keluarga (1995:9). Pada massa ini anak kelihatan berprilaku agresif, memberontak, menentang keinginan orang lain, khususnya orang tua. Pada usia ini sikap menentang dan agresif sering dikaitkan dengan massa tumbuhnya “kemandirian”. Sikap “kepala batu” dalam menentang bisa berubah kembali jika orang tua, pendidik menunjukan sikap konsisten dalam memperlihatkan kewibawaan dan peraturan yang telah ditetapkan.

Prof. Dr. Hj. Zakariah Darajat (1990:100) menambahkan. Karena massa anak-anak adalah massa yang sangat sensitif dan massa meniru, maka pendidikan haruslah berupa menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, belajar menolong diri sendiri waktu makan, memakai baju, kebiasaan kebelakang (ke kamarmandi), tidur dan sebagainya.

Kebiasaan-kebiasaan itu jangan lupa merupakan paksaan yang mengikat, tetapi biasakanlah dengan cara-cara yang menimbulkan keinginan padanya. Mungkin akan banyak sekali terlihat oleh si ibu hal-hal yang kurang menyenangkan, umpamanya memasukkan ke mulut apa saja yang ditemuinya. Jangan dibentak, karena ia ingin tahu. Dan harus diingatkan bahwa anak-anak belum mempunyai pengertian yang banyak tentang bahasa.

Sikap orang tua dalam mendidik anak

Sikap otoriter

Sikap otoriter kepada anak, boleh-boleh saja asalkan bisa menempatkan pada tempatnya, yaitu sesuai situasi dan kondisi yang ada. Sikap otoriter yang terlalu berlebih-lebihan kepada anak akan berdampak buruk bagi perkembagan fisiologis ataupun psikologis.

Seperti si anak menjadi penakut, si anak sengaja menghabiskan sisa waktunya di luar rumah dan mamilih pulang terlambat. Bahkan, bisa kemungkinan beralih ke narkoba supaya mendapatkan ketenangan jiwa bagi si anak. Ia merasa perlu mencari ketenangan dengan berkumpul bersama teman-temannya yang biasanya berusia lebih tua dari dirinya.

Menghadapi sikap otoriter, Syaik M. Jamaluddin Mahfuzh dalam karangannya Psikologi Anak dan Remaja Muslim (2001:78). Membagi menjadi dua. Pertama, bantuk otoriter yang mungkin memang sudah sejak awal. Seorang ayah yang punya sikap otoriter ini ia tidak punya rasa cinta kepada anak-anaknya. Dan menurut istilah Bouldwin, otoriter seperti itu disebut “otoriter permanen.” Upaya menundukan sikap seperti ini berarti menundukan kaidah-kaidah perilaku yang sangat ekstrim dan radikal. Kedua, bentuk otoriter yang tidak mau kompromi dengan keinginan-keinginan anak.

Jamaluddin Mahfuzh (2001:79) menegaskan. Dari rumah tangga yang terlalu otoriter tersebut, akan menghasilkan anak yang tidak bisa beradaptasi, yang cenderung menghabiskan waktunya di luar rumah. Dan jika si anak tadi seorang perempuan, mungkin ia akan menikah dalam usia yang sangat muda dan dengan pasangan suami yang tidak sepadan, karena ia yakin, bahwa rumah yang akan ia tempati nanti jauh lebih baik daripada rumahnya yang sekarang.

Sikap demokratis

Model rumah tangga seperti ini dianggap sebagai salah satu faktor bagi terciptanya adaptasi yang baik. Aturan di rumah tangga seperti ini berdasarkan pada kebebasan dan demokrasi. Kedua orang tua sama-sama mau menghormati anaknya sebagai individu yang utuh lahir batin. Dalam mengarahkannya, mereka tidak bersikap otoriter sedikit pun.

Orang tua yang demokratis, sedapat mungkin mereka akan berusaha memberikan semua yang diketahui dan dibutuhkan oleh anak mereka yang sudah bekerja, supaya ia bisa mengambil keputusan setelah cukup mengetahui kemungkinan dan hasilnya. Cara-cara ini sengaja memberikan kepada seorang anak “kebebasan” yang bertambah, pilihan yang luas, dan pengetahuan-pengetahuan yang banyak.

Seorang anak yang hidup di lingkungan rumah tangga yang demokratis ini, ia memiliki kesempatan sangat baik untuk mengupayakan “kemerdekaannya”. Pada prinsipnya, rumah tangga yang demokratis bisa terwujud dengan cara sebagai berikut.

1.  Menghormati pribadi anak dalam rumah tangga.

2. Berusaha mengembangkan kepribadiannya, menganggapnya sebagai pribadi unggulan yang memiliki kemampuan dan kecendrungan-kecendrungan tersendiri, dan harus memberinya kesempatan untuk berkembang sejauh mungkin.

Memberikan kepada si anak “kebebasan” berpikir, berekspresi dan memilih jenis pekerjaan. Tentu saja dalam batas-batas kebaikan bersama dan tujuan yang bersifat umum. Artinya, kebebasan yang berlaku dalam rumah tangga adalah kebebasan yang dibatasi oleh ketentuan-ketentuan sosial. Warna sistem yang ada di dalam rumah tangga yang demokratis ini sangat berbeda dengan warna aturan yang ada di dalam rumah tangga otoriter yang kental dengan warna kekerasan, ketakutan, dan pelarangan. Sementara dalam keluarga yang demokratis kental dengan warna kebersamaan, dinamika yang positif dan terus bergerak, kasih sayang, serta saling membantu.

Jamaluddin Mahfuzh (2001:80-81) menambahkan. Pola-pola diterapkan dalam rumah tangga yang demokratis akan mendorong lahirnya sosok-sosok anak yang sanggup memikul beban dan tanggung jawab kehidupan, anak-anak ideal yang mampu berpikir secara sehat, mau saling menolong, dan bangkit bersama-sama dengan masyarakat. Tujuan-tujuan mulia tersebut hanya akan terwujud oleh rumah tangga yang beriklim nuansa demokratis yang sehat, dan didukung oleh pengertian individu-individu yang mendambakan kehidupan sosial yang harmonis.

Sikap toleran

Para pakar menjelaskan, bahwa rumah tangga yang menerapkan pola-pola yang didasarkan pada sikap toleran yang berlebihan, bisa menyulitkan seorang anak baik laki-laki maupun perempuan untuk mengembangkan perilaku kebebasannya.

Seorang anak yang diperlakukan seperti itu, ia akan menemukan banyak kesulitan dalam beradaptasi dengan dunia luar. Perhatian orang tua yang berlebihan akan mendorong si anak mencari perhatian dan bantuan kepada orang lain. Dan jika hal itu sudah menjadi kebiasaan, tanpa sadar ia akan merasa itu adalah haknya. Akibatnya, kita lihat ia jadi sering keluar rumah untuk keperluan tersebut.

Dr. Kartini Kartono dalam karyanya Hygiene Mental (2000:71) menjelaskan. Karena kasih-sayang orang tua yang melimpah-ruah kepada anaknya, di samping itu anak terlalu banyak dilindungi dan dihindarkan dari macam-macam kesulitan hidup sehari-hari dengan jalan selalu menolongnya, maka pada umumnya anak menjadi tidak mampu berdiri sendiri; dan tidak bisa mandiri atau “zelfstanding”. Anak selalu dalam keragu-raguan dan ketakutan. Rasa harga dirinya kurang tumbuh. Dan selalu merasa tidak percaya pada kemampuan sendiri.

Jika tidak ada orang tua di dekatnya, anak merasa lemah hati, hambar semangatnya, dan takut secara berlebih-lebuhan. Biasanya anak-anak sedemikian ini menjadi penakut, munafik atau anak patuh yang tidak wajar yang tidak pada tempatnya. Mereka menjadi penurut yang ekstrim tanpa memiliki kemampuan dan inisiatif sedikit pun juga; kurang beranai berpikir mandiri, dan tidak berani berbuat apa-apa tanpa dorongan orang tuanya. Mental dan kemauannya menjadi rapuh, lunak, lembek dan lemah sekali (menjadi “weakling”, si lemah hati).

Cinta keluarga merupakan impian dan dambaan kita semua

Keluarga merupakan unit terkecil dalam membangun massa depan bangsa. Sweet family akan melahirkan generasi yang imut-imut, manis-manis dan pintar-pintar menuju kehidupan yang lebih baik. Keluarga berantakan broken home juga akan melahirkan generasi yang kurang bahagia.

Pada bagian lain, banyak orang tua yang lebih memburu kesengan semu-pseudo pleasure yang memperturutkan nafsu kebinatangan. Keluarga modern ini, selalu bersaing dalam perlombaan ‘memburu’ materi dan harta benda yang hampir tidak mengenal batas terkadang melupakan nilai spiritualitas. (Hajjah Bainar, Membantu Remaja menyelami Dunia Dengan Iman dan Ilmu [2005:20])

Sikap cinta keluarga merupakan impian dan dambaan kita semua, persoalan yang menimpa keluarga modern. Tugas keluarga cukup besar, yaitu mendidik anak yang cerdas dan berkualitas merupakan barometer kamajuan bangsa ke depan.

Untuk itu, membangun anak yang cerdas dan berkualitas harus dimulai sedini mungkin termasuk mensosialisasikan nilai dan norma yang positif. Harmonisasi keluarga itu harus dilandasi nilai agama dan budaya dalam masyarakat. Anak-anak pun dibiasakan mengungkapkan pandangan dan kebebasan untuk menyampaikan hal-hal yang terbaik sebagai bentuk keluarga yang demokratis. Artinya, anak-anak dibiasakan untuk menghormati dan mau menerima pendapat orang lain. ■

Iklan