The INDEPENDEN'S – Weblog

Icon

JUJUR, TERBUKA & APA ADANYA

MENGELOLA KONFLIK DALAM UPAYA MEMBANGUN KERJA SAMA TIM

MENGELOLA KONFLIK DALAM UPAYA MEMBANGUN KERJA SAMA TIM

Oleh : Zaldy Munir

Pendahuluan

Organisasi sebagai suatu sistem terdiri dari komponen-komponen (subsistem) yang saling berkaitan atau saling tergantung (inter dependence) satu sama lain dan dalam proses kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu (Kast dan Rosenzweigh, 1974). Sub-subsistem yang saling tergantung itu adalah tujuan dan nilai-nilai (goals and values subsystem), teknikal (technical subsystem), manajerial (managerialsubsystem), psikososial (psychosocial subsystem), dan subsistem struktur (structural subsystem).

Dalam proses interaksi antara suatu subsistem dengan subsistem lainnya tidak ada jaminan akan selalu terjadi kesesuaian atau kecocokan antara individu pelaksananya. Setiap saat ketegangan dapat saja muncul, baik antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi. Banyak faktor yang melatar belakangi munculnya ketidakcocokan atau ketegangan, antara lain sifat-sifat pribadi yang berbeda, perbedaan kepentingan, komunikasi yang “buruk”, perbedaan nilai, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan inilah yang akhirnya membawa organisasi ke dalam suasana konflik.

Agar organisasi dapat tampil efektif, maka individu dan kelompok yang saling tergantung itu harus menciptakan hubungan kerja yang saling mendukung satu sama lain, menuju pencapaian tujuan organisasi. Namun, sabagaimana dikatakan oleh Gibson, et al. (1997:437), selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing-masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri-sendiri dan tidak saling bekerjasama satu sama lain.

Sebuah organisasi tidak akan berjalan dengan baik kalau didalamnya tidak ada pemimpin sebagai orang yang bertanggung jawab atas organisasi tersebut, dan pemimpin itu tidak akan maksimal dalam melaksanakan tugasnya tampa adanya bawahan (karyawan) yang selalu berintraksi dan membantunya. Adanya pemimpin dan bawahan (karyawan) tersebut adalah suatu bukti bahwa organisasi dan struktur saling berkaitan. Oleh karena itu, istilah struktur digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (organisasi), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kepada organisasi, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan organisasi, gaya kepemimpinan, dan sistem imbalan. Dan sebagai tolak ukur, dalam penelitian menunjukkan bahwa ukuran organisasi dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik struktur. Makin besar organisasi, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.

Jadi, konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidak sesuaian atau perbedaan antara dua pendapat (sudut pandang), baik itu terjadi dalam ukuran (organisasi), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota keorganisasi, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan organisasi, gaya kepemimpinan, dan sistem imbalan yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif . Namun secara umum Konflik Hirarki (Sruktur) adalah konflik yang terjadi diberbagai tingkatan organisasi.

Konflik dapat menyebabkan orang memperhatikan bidang-bidang problem pada sebuah organisasi, dan hal tersebut dapat menyebabkan dicapainya tujuan orgnisatoris secara efektif. Akan tetapi, apabila suatu organisasi dengan kaku menolak adanya perubahan, maka situasi konflik yang terjadi, tidak akan reda. Tensi akan makin meningkat “suhunya” dan setiap dan konflik yang baru yang terjadi akan makin menceraiberaikan sub unit-sub unit organisasi yang bersangkutan.

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa makin kaku struktur dan kultur organisasi yang bersangkutan, maka makin tidak menguntungkan konflik yang terjadi. Dan dalam sesuatu konflik, komonikasi antara subunit-subunit dapat menyusut, hingga dengan demikian masing-masing sub unit tidak dapat membuat keputusan-keputusan yang sehat.

Pembahasan

A. Pengetian Konflik

Apa yang dimaksud dengan konflik? Konflik bisa berarti macam-macam. Menurut Webster, konflik adalah fight, battle atau struggle. Konflik bisa juga berarti ketidaksepakatan. Selain itu konflik juga bermakna perbedaan kepentingan atau ketidaksesuaian antara pihak yang terlibat. Konflik terdiri dari 4 jenis, yaitu:

1. 1Intrapersonal conflict, yaitu konflik yang terjadi dalam diri sendiri. Konflik dapat berupa emosi maupun nilai-nilai dalam kehidupan. Misalnya ketika Anda bimbang dalam memiih antara berkata jujur atau berbohong.

2. Interpersonal conflict, yaitu konflik yang terjadi dengan orang lain. Misalnya dalam hubungan antara suami dan istri.

3. Intragroup conflict, yaitu konflik yang terjadi dalam suatu kelompok. Misalnya perbedaan pendapat yang terjadi dalam suatu grup /organisasi

4. Intergroup conflict, yaitu konflik yang terjadi antar kelompok. Misalnya antara manajemen dan serikat pekerja.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

B. Jenis Konflik

Terdapat berbagai macam jenis konflik, tergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi. Ada yang membagi konflik atas dasar fungsinya, ada pembagian atas dasar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan sebagainya.

1. Konflik Dilihat dari Fungsi

Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996:430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu: konflik fungsional (Functional Conflict) dan konflik disfungsional (Dysfunctional Conflict). Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok, dan memperbaiki kinerja kelompok, sedangkan konflik disfungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.

Menurut Robbins, batas yang menentukan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional sering tidak tegas (kabur). Suatu konflik mungkin fungsional bagi suatu kelompok, tetapi tidak fungsional bagi kelompok yang lain. Begitu pula, konflik dapat fungsional pada waktu tertentu, tetapi tidak fungsional di waktu yang lain. Kriteria yang membedakan apakah suatu konflik fungsional atau disfungsional adalah dampak konflik tersebut terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja individu. Jika konflik tersebut dapat meningkatkan kinerja kelompok, walaupun kurang memuaskan bagi individu, maka konflik tersebut dikatakan fungsional. Demikian sebaliknya, jika konflik tersebut hanya memuaskan individu saja, tetapi menurunkan kinerja kelompok maka konflik tersebut disfungsional.

2. Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya

Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman (1989:393) membagi konflik menjadi enam macam, yaitu:

a. Konflik dalam diri individu (conflict within the individual). Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya.

b. Konflik antar-individu (conflict among individuals). Terjadi karena perbedaan kepribadian (personality differences) antara individu yang satu dengan individu yang lain.

c. Konflik antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups). Terjadi jika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok tempat ia bekerja.

d. Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization). Konflik ini terjadi karena masing-masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.

e. Konflik antar organisasi (conflict among organizations). Konflik ini terjadi jika tindakan yang dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya. Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama.

f. Konflik antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in different organizations). Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap atau perilaku dari anggota suatu organisasi yang berdampak negatif bagi anggota organisasi yang lain. Misalnya, seorang manajer public relations yang menyatakan keberatan atas pemberitaan yang dilansir seorang jurnalis.

3. Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi

Winardi (1992:174) membagi konflik menjadi empat macam, dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut:

a. Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.

b. Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjandi antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar departemen yang setingkat.

c. Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini yang biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.

d. Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan. Di samping klasifikasi tersebut di atas, ada juga klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn, et al. (1982), yang membagi konflik atas: substantive conflict, emotional conflict, constructive conflict, dan destructive conflict.

C. Penyebab Konflik

Menurut Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatarbelakanginya (antecedent conditions). Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai sumber terjadinya konflik, terdiri dari tiga ketegori, yaitu: komunikasi, struktur, dan variabel pribadi.

Komunikasi. Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalahpahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi anteseden untuk terciptanya konflik.

Struktur. Istilah struktur dalam konteks ini digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.

Penyebab konflik lainnya yang potensial adalah faktor pribadi, yang meliputi: sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan (idiosyncrasies) dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter, dogmatik, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial.

Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan para karyawan menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di dalam kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan (perceived conflict). Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah menjadi konflik yang dirasakan (felt conflict). Selanjutnya, konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya

D. Manajemen Konflik dalam Organisasi Sosial dan Penyelesaiannya

Dalam proses interaksi antara suatu sub sistem dengan sub sistem lainnya tidak ada jaminan akan selalu terjadi kesesuaian atau kecocokan antara individu pelaksananya. Setiap saat ketegangan dapat saja muncul, baik antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi. Banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya ketidakcocokan atau ketegangan, antara lain: sifat-sifat pribadi yang berbeda, perbedaan kepentingan, komunikasi yang “buruk”, perbedaan nilai, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan inilah yang akhirnya membawa organisasi ke dalam suasana konflik. Agar organisasi dapat tampil efektif, maka individu dan kelompok yang saling tergantung itu harus menciptakan hubungan kerja yang saling mendukung satu sama lain, menuju pencapaian tujuan organisasi.

Namun, sebagaimana dikatakan oleh Gibson, et.al. (1997:437), selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing-masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri-sendiri dan tidak saling bekerjasama satu sama lain. Konflik dapat menjadi masalah yang serius dalam setiap organisasi, tanpa peduli apapun bentuk dan tingkat kompleksitas organisasi tersebut. Konflik tersebut mungkin tidak membawa “kamatian” bagi organisasi, tetapi pasti dapat menurunkan kinerja organisasi yang bersangkutan, jika konflik tersebut dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Karena itu keahlian untuk mengelola konflik sangat diperlukan bagi setiap pimpinan atau manajer organisasi.

Konflik merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Secara personal kita mengalami konflik dalam rumah tangga. Dalam hubungan yang luas, konflik terjadi dalam hubungan sosial, ekonomi, dan politik, seperti tawuran pelajar, konflik industri dan agraria, konflik etnis dan sektarian, hingga konflik antar negara.

Jika dikelola, konflik sebenarnya memiliki nilai positif bagi interaksi manusia. Masalahnya pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk mengelola konflik sering tidak dimiliki oleh mereka yang terlibat konflik ataupun yang menangani konflik. Akibatnya konflik tidak hanya tidak berhasil dikelola, dalam banyak kasus bahkan memperparah konflik yang terjadi.

Konflik di sini tidak selamanya harus dimaknai permusuhan atau pertikaian, karena dalam kajian sosiologis, konflik itu juga bisa bermakna kompetisi, tegangan (tension) atau sekadar ketidaksepahaman. Itu pula sebabnya, kehadiran konflik itu tidak selamanya harus dimaknai sebagai sebuah kekuatan yang menghancurkan – a necessarily destructif force, karena dalam banyak hal konflik itu juga bernilai positif, bahkan konstruktif, dan karenanya fungsional.

Persisnya, dengan konflik dinamika lahir, dengan konflik kreativitas muncul. Bahkan menurut pakar sosiologi, konflik asal Jerman, George Mills, konflik adalah penggerak sejarah sekaligus sumber perubahan, dan karenanya, konflik akan besar sumbangannya dalam mencegah kebekuan sosial. The changes caused by conflict prevent society from stagnating, tegas Mills (1956).

D. Mengelola Konflik dalam Membangun Kerjasama Tim

Untuk meminimalkan terjadinya konflik maka perlu adanya manajemen konflik, yaitu mengelola konflik yang akan terjadi. Mengelola konflik di sini tidak berarti kita harus menghindari konflik, apalagi menguburnya, karena bagaimanapun konflik memang harus ada. Menekan konflik sering menimbulkan lahirnya sebuah kebijakan yang prematur. Menekan konflik juga cenderung mengundang hadirnya kesalahpahaman yang tidak mewakili kepentingan siapa pun. Bahkan menurut penulis buku “Social Conflict” itu, tanpa konflik, keadilan sulit bisa diwujudkan. Karenanya, mengubur konflik akan sama artinya dengan menyimpan bom sosial yang siap meledak kapan saja ketika ada kesempatan yang memicunya.

Namun sebaliknya, mengelola konflik itu juga tidak berarti harus membiarkan apalagi menumbuhsuburkan konflik. Mengelola konflik di sini berarti cerdas memilih dan menentukan strategi pengelolaannya. Dalam bukunya yang berjudul “Social Conflict” (1986), Rubin dan Pruitt mengajukan beberapa strategi dasar yang bisa digunakan dalam pengelolaan konflik sosial yang sifatnya sangat alami itu.

Pertama, adalah strategi yang disebut dengan contending atau bertanding. Intinya, masing-masing pihak yang akan berebut kepentingan bisa melakukan segala upaya untuk menjadi pemenang tanpa harus memperhatikan kepentingan pihak lain yang menjadi lawan politiknya, bahkan berusaha agar pihak lain menyerah atau mengalah. Bentuknya pun sangat beragam. Bisa dengan membuat janji, ancaman, atau bahkan hukuman. Bahkan bisa pula dilakukan dengan ditunjukkan hanya dengan cara membuat argumentasi persuasif kalau bukan dengan cara sebaliknya, ngotot dengan pendirian sepihaknya. Tentu dengan segala dampak sosial yang bakal ditimbulkannya.

Berbeda dengan yang pertama, maka strategi kedua dilakukan dengan cara mencari alternatif cara yang seoptimal mungkin bisa memuaskan masing-masing pihak yang akan berebut kepentingan. Itu sebabnya, strategi ini disebut dengan cara problem solving (pemecahan masalah). Intinya, strategi dasar ini menyarankan agar masing-masing pihak yang terlibat konflik berusaha mempertahankan aspirasinya, tetapi sekaligus menghormati akan kepentingan lawan politiknya. Upaya kompromi, rekonsiliasi, adalah dua bentuk cara yang biasa digunakan dalam strategi kedua ini.

Memang tidak mudah untuk mencari cara pemecahan yang bisa memuaskan sepenuhnya semua pihak yang saling berebut kepentingan, lebih-lebih dalam perebutan kekuasaan. Itu sebabnya, ada beberapa strategi dasar lain yang lazim muncul dalam proses mengatasi konflik. Yielding (sikap mengalah), withdrawing (menarik diri), dan inaction (aksi diam), adalah tiga alternatif strategi lain yang mesti dijadikan acuan dalam menyelesaikan konflik. Dalam konteks itu, satu atau beberapa pihak yang terlibat dalam perebutan kepentingan bersedia menurunkan aspirasinya, bahkan jika perlu mundur menarik diri, atau sekadar tidak berbuat apa pun semata demi menghindari konflik yang membahayakan karena sudah cenderung destruktif.

Menurut Kreitner dan Kinicki (1995) dalam mengelola konflik ada 5 gaya antara lain:

a. Integrating (Problem Solving). Dalam gaya ini pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, kemudian mencari, mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Gaya ini cocok untuk memecahkan isu-isu kompleks yang disebabkan oleh salah paham (misunderstanding), tetapi tidak sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi karena sistem nilai yang berbeda. Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam penyelesaian masalah.

b. Obliging (Smoothing). seseorang yang bergaya obliging lebih memusatkan perhatian pada upaya untuk memuaskan pihak lain daripada diri sendiri. Gaya ini sering pula disebut smothing (melicinkan), karena berupaya mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan pada persamaan atau kebersamaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Kekuatan strategi ini terletak pada upaya untuk mendorong terjadinya kerjasama. Kelemahannya, penyelesaian bersifat sementara dan tidak menyentuh masalah pokok yang ingin dipecahkan.

c. Dominating (Forcing). Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain, mendorong seseorang untuk menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”. Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah. Gaya ini cocok digunakan jika cara-cara yang tidak populer hendak diterapkan dalam penyelesaian masalah, masalah yang dipecahkan tidak terlalu penting, dan waktu untuk mengambil keputusan sudah mepet. Tetapi tidak cocok untuk menangani masalah yang menghendaki partisipasi dari mereka yang terlibat. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Kelemahannya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.

d. Avoiding. Taktik menghindar (avoiding) cocok digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sepele atau remeh, atau jika biaya yang harus dikeluarkan untuk konfrontasi jauh lebih besar daripada keuntungan yang akan diperoleh. Gaya ini tidak cocok untuk menyelesaikan masalah-malasah yang sulit atau “buruk”. Kekuatan dari strategi penghindaran adalah jika kita menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situations), sedangkan kelemahannya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.

e. Compromising. Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara seimbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima (give-and-take approach) dari pihak-pihak yang terlibat. Kompromi cocok digunakan untuk menangani masalah yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda tetapi memiliki kekuatan yang sama. Misalnya, dalam negosiasi kontrak antara buruh dan majikan. Kekuatan utama dari kompromi adalah pada prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreativitas dalam penyelesaian masalah.

Simpulan

Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dan sebagainya. Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat menghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:

1. Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

2. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk “memenangkan” konflik.

3. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan “kemenangan” konflik bagi pihak tersebut.

4. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.

Disamping Itu, komunikasi merupakan inti dari interaksi antar individu, dapat terjadi secara verbal, yaitu dengan kata-kata, maupun non-verbal, yaitu dengan petunjuk. Petunjuk non-verbal dalam komunikasi terdiri dari petunjuk visual dan petunjuk vokal. Petunjuk visual antara lain, ekspresi wajah, kontak pandangan, posisi maupun gerakan tubuh, penampilan fisik seseorang, dan sebagainya.

Seseorang dapat mengetahui tanggapan orang lain yang diajak berkomunikasi, positif atau negatif, melalui ekspresi wajahnya. Interaksi antara individu dengan individu lain pada dasarnya adalah sebuah proses komunikasi, interaksi individu dengan ruang dan lingkungan hidupnya akan menyangkut masalah psikologis karena berkaitan dengan kepribadian (personality).

Manusia mampu merubah lingkungan dan ruang kehidupannya agar lebih sesuai dengan kondisi dirinya di waktu mendatang. Karenanya manusia menghadapi lingkungan alamiah dan juga lingkungan buatannya sendiri. Proses psikologis interaksi antara manusia dengan lingkungan dan ruang memperlihatkan suatu proses yang sifatnya timbal balik.

Lingkungan menurut wawasan spasial dan temporal memberikan stimulus yang mempengaruhi sistem kepribadian manusia di dalamnya dan merupakan proses persepsi, motivasi, sistem kognisi dan kebiasaan tingkah lakunya. Sesuai dengan tingkatan pengalaman serta orientasi nilai budaya yang melatarbelakangi sistem kepribadiannya, manusia akan memberikan respons-respons terhadap stimulus dari lingkungan tadi dalam bentuk tingkah laku atau tindakan, yang akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan tersebut.

Setiap kepribadian akan memberikan respons sebagai tanggapan terhadap lingkungan spasial di sekelilingnya dalam tindakan atau tingkah laku yang berbeda karena proses di dalam sistem kognisi, persepsi dan motivasi dalam kepribadian tersebut juga mengandung perbedaan. Kemudian ditambah lagi dengan orientasi nilai budaya serta pengalaman-pengalaman dibelakangnya juga tidak sama. Karenanya masing-masing kepribadian atau personalitas manusia akan memiliki tingkat penyesuaian diri dengan lingkungannya berbeda, dan memperlihatkan adanya aspek-aspek yang unik pada masing-masing individu. Respons terhadap lingkungan yang berbeda ditambah dengan unsur-unsur dan latar belakang sosial pada masing-masing pribadi kemudian juga akan memberikan makna individu sebagai ‘stimulus sosial’ bagi lingkungannya.

Setiap konflik akan disertai ‘ketegangan’ emosional. Perbedaan ketegangan tersebut dapat dicapai dengan menemukan suatu solusi konflik. Maka suatu cara kita untuk mengelola konflik, tetap diperlukan keinginan dari dalam diri kita untuk mengelolanya. Kedewasaan dan kecerdasan mengelola emosi merupakan kunci mengelola konflik. Kata Daniel Goleman (1995), kecerdasan emosi tidak lebih dari kemampuan seseorang untuk menguasai dan mengendalikan emosi dirinya dan emosi orang lain, kecakapan mengelola diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Itu sebabnya, kecerdasan emosi setidaknya mensyaratkan dua hal kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Ketika kita bisa mengendalikan emosi kita maka kita mampu mengelola konflik dengan baik untuk tujuan yang menguntungkan organisasi

Daftar Pustaka

Gibson, James L. et al., Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Alih bahasa oleh Adriani. Binarupa Aksara: Jakarta, 1977.

Mastembroek,. W. F. G, Dr Penanganan Konflik, Dan Pertummbuhan Organisasi, PT: UI-Pres: Jakarta, 1986. Cet ke-2.

Terry. G. R, Rue. L. W, Dasar-dasar Manajemen, Bumi Aksara: Jakarta, 1991.

Winardi. J Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen, Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2001.

Media lainya:

Millah Saeful, Mengelola konflik untuk perubahan,

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/05/0801.htm

Millah saeful, mengelola konflik untuk perubahan,

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/05/0801.htm

www.konflikstuktural.com Hellrieget, (1983: 471-474).

www.manajemenkonflik.com Harold J. Leavitt

www.konfliklini.com Winardi(1992:174)

Purnama, Nursya’bani, Mengelola Konflik antar Kelompok dalam Organisasi, Usahawan No. 09 Th XXIX September 2000

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , ,

CEMBURU

CEMBURU

Oleh : Zaldy Munir

CEMBURU adalah perubahan hati yang diikuti munculnya kemarahan karena ada campur tangan dalam satu hal yang menjadi hak mutlak. Yang paling mudah terlihat dari hal ini ialah masalah suami istri. Rasa cemburu bermula dari semangat yang menggelora yang menjadikan seseorang tidak senang atau benci terhadap orang lain yang mencampuri urusan pribadinya.

Kecemburuan yang sering kali terjadi di kalangan umum adalah kemarahan seseorang akan muncul bila ada orang lain yang berniat buruk atau melihat terhadap istri dan wanita-wanita yang menjadi tanggung jawabnya. Inilah kecemburuan yang memang menjadi watak manusia.

Ada pun kecemburuan Allah (ghiratullah) mustahil seperti itu (perubahan hati). Allah SWT memiliki kecemburuan yang begitu dahsyat. Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang berkata, “Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah, karena itulah Allah mengharamkan kejelekan yang jelas dan yang samar.” (Fathul Baari : 7/228)

Allah SWT sangat mencintai seorang muslim dan merasa cemburu bila melihatnya mengikuti langkah setan. Karena muslim adalah kekasih Allah, maka Allah melarang memilih jalan kesesatan. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling besar cemburunya. Tak ada seorang pun yang mempunyai kecemburuan melebih Nabi SAW kepada Allah SWT.

Suatu ketika Sa’ad bin Ubadah berkata, “Andaikan aku melihat laki-laki lain bersama istriku, pasti akan aku tebas lehernya dengan pedang tanpa ampun.” Ketika mendengar ucapan itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu dari dia, dan Allah lebih cemburu daripada aku. Karena itu, Allah mengharamkan kemaksiatan dan keburukan yang jelas maupun yang samar.” (HR. Muslim)

Allah SWT cemburu kepada hati seorang hamba yang beriman dikala hati itu gersang dari rasa cinta, takut dan berharap kepada selain-Nya. Hal ini karena sesungguhnya seorang muslim diciptakan untuk Allah dan dijadikan sebagai yang terpilih di antara ragam makhluk-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam…! Aku ciptakan kamu untuk diri-Ku. Aku ciptakan segala sesuatu untukmu. Demi hak-Ku atas kamu, maka jangan kamu sibukkan dirimu dengan segala yang Kuciptakan untukmu dan melalaikan apa yang karenanya kamu Aku ciptakan.”

Bahkan Allah SWT cemburu kepada lisan seorang mukmin yang tak pernah menyebut nama-Nya karena sibuk dengan selain-Nya. Allah SWT juga cemburu kepada anggota badan yang tak ada ketaatan padanya karena yang ada hanya kemaksiatan.

Sungguh ironis, bila Allah SWT saja begitu cemburu (perhatian) kepada hati dan anggota badan seorang muslim, sementara mereka sendiri tidak merasa cemburu (tidak peduli) dengan anggota tubuhnya.

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , ,

PROBLEM

PROBLEM

Oleh : Zaldy Munir

“KENAPA sih hidup penuh dengan problem?”  “ Kok orang lain lebih enak and nggak banyak masalah?”

Suatu waktu atau bahkan seringkali kedua pertanyaan tadi muncul. Tidak ada seorang pun yang tidak mendambakan hidup yang enak, lancar dan bebas dari problem. Tetapi masalahnya keinginan tersebut amat sulit dicapai, atau mungkin mustahil terjadi. Yang selalu terjadi adalah kita menganggap persoalan yang kita alami jauh lebih susah dan pelik dibanding problem orang lain. Lucunya orang yang kita duga lebih sedikit problemnya juga menganggap hidup kita lebih enak dan bebas dari problem.

Selama hayat dikandung badan, problem akan selalu ada, datang silih berganti setiap saat. Terkadang kecil, sedang atau pun besar. Jenis dan kadarnya saja yang berbeda untuk setiap orang.

Bagi seorang siswa, problemnya sudah pasti seputar menyelesaikan tugas-tugas, memperoleh nilai bagus dan dapat lulus. Lain lagi bagi yang menganggur. Bagi mereka yang menjadi problem ialah memperoleh pekerjaan. Kalaupun ada satu dua yang sudah bertahun-tahun menganggur. Bukan berarti mereka terbebas dari problem. Dengan predikat  “pengangguran kelas kakap” mereka juga memiliki problem yang harus diatasi. Bagaimana mencari berbagai alasan untuk mensahkan (menjustify) mengapa mereka tidak bekerja. Harus memutar otak memikirkan alasan kalau ditanya oleh keluarga dan kenalan. Ini juga suatu problem buat mereka.

Seorang yang bergerak di bidang penjualan lain pula problemnya. Cara dan teknik menjual produk dan atau jasa dengan efektif dan efisien harus selalu dipikirkan. Kalau tidak target penjualan akan selalu memble. Wanita yang berkarir sekaligus sebagai ibu rumah tangga juga selalu menghadapi problem. Bagaimana membagi waktu antara urusan di kantor dan di rumah.

Banyak contoh lagi yang membuktikan bahwa problem itu pasti ada, dimana saja, kapan saja, bagi siapa saja. Lantas bagaimana kalau menghadapi suatu problem? Lari dan meninggalkan problem bukan solusi yang manjur. Karena jika kita bersikap seperti itu, bukan berarti kita akan terbebas dari problem. Malah akhirnya problem akan makin menumpuk dan suatu saat, suka atau tidak, harus kita hadapi juga semuanya. Akan lebih baik jika kita menghadapi problem yang ada. Seberapa rumit dan besarnya. Asalkan kita mau memakai otak, berupaya sepenuh hati dan tabah, pasti semua problem akan ada solusinya.

Jadi hidup tanpa problem hanya ada jika kita hidup di alam angan-angan, di dunia khayalan saja. Hidup yang sesungguhnya di dunia nyata adalah hidup dengan aneka permasalahan, beragam problem. Tinggal kita yang harus selalu memutar otak dan berupaya untuk menghadapi dan mengatasi semua problem yang ada.■

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , , ,

PINTAR

PINTAR

Oleh : Zaldy Munir

 

                                                                                      

 

MENJADI pintar dan cerdas, itu harus bagi setiap manusia. Menjadi insan kreatif dan penuh ide, juga syarat mutlak jika manusia tersebut ingin hidupnya lebih mudah dan lebih baik. Bahkan agama Islam dalam ajaran kitabnya, yang notabene kalam Tuhan, menjanjikan akan menaikkan beberapa derajat lebih tinggi nilai “manusia” seorang manusia berilmu atas manusia lain yang kurang ilmunya. Itu artinya, tiap manusia memang dituntut untuk terus mencari, mengasah dan menambah ilmu serta pengetahuan sepanjang hidupnya.

 

Dari kecil, setiap kita dididik dan dibimbing oleh orang tua masing-masing dan lingkungan sosial terdekat (keluarga), untuk menjadi anak-anak yang pintar dan cerdas secara akal. Selanjutnya, tuntutan untuk membentuk kita menjadi manusia-manusia unggul dalam mengeksplorasi daya pikir maksimal tersebut, berlanjut lebih jauh dalam proses masa pendidikan formal yang kita jalani di bangku sekolah hingga kuliah.

 

Masih belum cukup dengan jalur pendidikan formal, lembaga-lembaga pendidikan non formal pun sangat siap menampung setiap saat untuk mengasah dan mencetak kita menjadi manusia-manusia super secara otak, agar nantinya kita dapat memenangkan persaingan hidup yang “dikatakan” semakin sulit terhadap manusia lainnya. Diakui atau tidak, kini doktrin moral ini telah begitu ditanamkan tiap orang tua kepada anaknya bahkan hingga ia dewasa.

 

“Pintar lah nak..!, atau kau akan kalah bersaing hidup”. Manusia diciptakan Tuhan lebih sempurna dari makhluk lain di atas permukaan bumi, itu karena manusia memiliki akal. Sebuah unsur “kemahlukan” yang tidak dimiliki oleh hewan atau tumbuhan. Dan kita juga tidak jarang mengukur tingkat kesempurnaan seorang “manusia” beranjak dari kesempurnaan akalnya tersebut. Sebab itu, orang gila atau manusia kurang berakal, selalu kita niscayakan sebagai manusia yang kurang sempurna. Karena memang akalnya yang tidak sempurna dan daya pikirnya yang tidak lagi dapat bekerja normal.

 

Namun cukupkah sosok manusia hadir dalam tatanan hidup sosialnya hanya mengusung kesempurnaan akal belaka, dan dikatakan sempurna ketika ia sebagai mahluk kemudian memiliki pencapaian kualitas daya pikir yang sangat baik..?!

 

“Pada akhirnya dalam hidup, manusia harus menjadi bijak…” Sepenggal kutipan dari kolom seorang pemikir negeri ini menggelitik hati saya. Kutipan tersebut diambil dari catatan akhir seorang guru besar sosiologi, yang kian berhadapan dengan “sang maut” (ketika sebuah penyakit ganas tak lagi bisa disembuhkan), yang akhirnya melahirkan sebuah pengakuan jujurnya atas kemanusiaan  “…bahwa hidup dan proses dunianya, tak bisa sepenuhnya ditakhlukan oleh akal…”

 

Sang guru besar, yang telah menghabiskan dua pertiga umurnya untuk mengajari murid-muridnya agar menjadi manusia-manusia pintar yang unggul, di penghujung umurnya tak lagi mampu mengelak untuk mengakui; ternyata dalam kehidupan, ada yang jauh lebih penting dari sekedar supremasi akal. Sebab menurutnya, pada akhirnya manusia harus menjadi mahkluk bijak.

 

Indonesia. Bangsa yang besar ini tidak pernah kekurangan orang-orang pintar, manusia cerdas, insan jenius yang kreatif dan penuh dengan ide selangit. Indonesia juga tidak pernah kehabisan orang-orang yang memiliki kualitas super secara daya pikir. Namun bila berkaca pengakuan hati sang guru besar tadi, agaknya kita harus jujur mengakui, jika negeri ini ternyata masih kekurangan manusia-manusia bijak (tidak sekedar pintar akal), yang diharapkan bisa membebaskan bangsa ini kelak dari “lumpur hisap” krisis kebangsaan yang menjebaknya.

 

Bukan seperti potret realitas yang ada, ketika sebuah bangsa justru dipenuhi oleh orang-orang yang pintar, bahkan sangat pintar secara akal, namun sayang kepintaran itu malah menjadi bumerang tajam yang melukai tubuh dan nyawa bangsanya sendiri hingga berdarah-darah.

 

Pintar dan cerdas berangkat dari satu asal, yaitu akal. Itu sebabnya, “perangkat” manusiawi ini cenderung kepada output daya pikir seperti ide, rencana, siasat, dan strategi. Wujud fenomena ini sangat mudah dijumpai seperti dalam proses dunia perpolitikan bangsa ini yang berwajah kacau. Sedangkan bijak atau bijaksana, adalah perangkat lain “kemahlukan” manusia yang berangkat dari unsur hati dan nalurinya. Maka itu ia lebih condong kepada prilaku “sikap” ; seperti tenang, seimbang, sikap penuh kehati-hatian, dan sabar. Pada konversi lebih jauh, ia kemudian mewujud dalam sikap manusia yang berpegang pada pijakan sikap adil.

 

Dewasa ini, dalam proses kehidupan seorang manusia sosial, “perangkat” kemakhlukkan yang pertama tadi yakni akal, selalu mendapat porsi lebih dalam pembentukannya. Dengan alasan semakin kerasnya tingkat persaingan hidup antara sesama manusia itu, maka tidak ada jalan lain, menurut seorang manusia ia harus bisa menyaingi dan mengalahkan manusia lain, dengan jalan lebih pintar dari manusia lain tersebut. Dan agaknya cara pemahaman ini semakin lama semakin mengeras di hati tiap orang.

 

Tidak ada yang salah dengan manusia menjadi pintar atau cerdas. Itu harus, agar manusia tersebut dapat melakukan sesuatu untuk dirinya dan manusia lain. Namun jika ia tidak mengimbangi kelebihan akalnya tersebut dengan sikap “bijak”nya sebagai mahluk, maka bisa jadi yang ada hanya kerusakan pada akhirnya. Kerusakan buat orang lain pastinya. Dan agaknya kondisi inilah yang kini terhampar dalam realitas sosial berbangsa di negara ini.

 

Tiap waktu bangsa kita disuguhi kenyataan pahit yang menimpa rakyatnya. Dari musibah alam hingga bencana akibat kejahatan politik serta kekuasaan, seolah susul-menyusul melukai bangsa Indonesia. Ironisnya, kebanyakan penyebabnya justru adalah orang-orang pintar bangsa ini sendiri yang sangat “kepintaran”, yang ‘mencuri’ kepercayaan rakyatnya untuk mengurusi Indonesia dengan cara membodohinya.

 

Setelah itu dengan kepintarannya pula mereka (sebab kini kejahatan kecerdasan telah menjadi sebuah sistem kolektif) beramai-ramai menghisap darah negeri ini hingga sakit parah di setiap tubuh bangsanya. Tanpa ada kesadaran yang bijak bahwa bangsa ini bukan milik mereka sendiri. Bahwa dalam hidup sebenarnya manusia lain bukanlah saingan, namun saudara sesama manusia yang sama punya hak untuk hidup dengan baik, apalagi kita adalah manusia sebangsa.

 

Maka mungkin benar adanya, jika bangsa ini masih kekurangan sesuatu dalam membentuk pondasi bangsanya. Indonesia masih kekurangan manusia-manusia yang tidak sekedar pintar dan cerdas namun juga penuh mental bijak. Dengan mental “kemahlukan” ini, tentu segala prilakunya kelak lebih seimbang.

 

Sebab semua tindakannya yang pintar tersebut, nantinya akan dilakukannya di atas kondisi sikap yang penuh kehati-hatian, tenang, seimbang, dan sabar. Lebih dalam, ia kemudian mewujud dalam sikap manusia yang berpegang pada pijakan sikap adil terhadap manusia lain. Tidak menganggap manusia lain itu saingan yang harus dikalahkan. ¡

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , , ,

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN

MENGGAPAI KEBAHAGIAAN

Oleh : Zaldy Munir

BANYAK alasan yang dikeluhkan seseorang, yang dapat membuatnya tidak bahagia. Entah karena situasi keuangan yang tambal sulam, tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari pasangan, kegagalan berumah tangga,  tidak memiliki pendidikan tinggi. Bahkan konyolnya terkadang hanya karena tidak mempunyai plasma tv, tidak menyetir BMW edisi terbaru, tidak  tinggal di rumah berkamar tujuh seperti temannya, dapat membuat hidup seseorang tidak bahagia.

Kebahagiaan yang berdasarkan hal materialistik, memang dalam banyak kasus dapat menentukan bahagia atau tidaknya seseorang. Betapapun besarnya layar tv, betapapun canggih dan banyaknya features hand phone, betapapun mewah dan terbarunya mobil, betapapun mewahnya tempat tinggal seseorang. Belum tentu atau malah tidak menjadi jaminan bahwa ia akan bahagia. Kebahagiaan yang dilandaskan pada hal materialistik tidak pernah akan memuaskan seseorang. Ibarat berlari di treadmill, tidak pernah akan mencapai tujuan akhir.

Semua faktor (emosional dan kebendaan) di atas selalu menjadi penghambat kita untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Lantas apa yang dapat dilakukan untuk tidak terjebak dalam perangkap emosional dan kebendaan yang selalu muncul dalam keseharian?

Pertama, Miliki perasaan bangga dan puas terhadap semua yang kita miliki. Kesehatan, keluarga yang harmonis, hubungan baik dengan teman-teman, semuanya itu merupakan harta yang paling berharga. Barang-barang yang kita punya memang dapat membuat hidup lebih nyaman, tetapi jangan pernah “mendewakan”nya. Karena pada saat kita mengukur kebahagiaan hidup pada benda-benda yang kita punya, pada saat itu pulalah kita akan tidak bahagia.

Kedua, berhentilah berusaha mengejar pengakuan dari orang lain tentang kekayaan, kecantikan, kecerdasan, dan kepribadian kita. Semakin sedikit kita mengharapkan pengakuan orang lain atas diri kita, justru akan semakin banyak kita menerimanya.

Ketiga, sebagai individu yang sudah dewasa dan matang maka harus mempunyai prinsip, sikap tegas. Kita semua memiliki tanggung jawab bagi hidup kita sendiri. Kita tidak perlu menanyakan kepada orang lain tentang bagaimana seharusnya kita meniti hidup ini. Kita tidak harus selalu meminta ijin pada orang lain dalam setiap tindakan yang hendak dilakukan.

Keempat, jangan berharap kita dapat menyenangkan semua orang pada setiap saat. Bagaimana benar dan baiknya perilaku kita, akan selalu ada orang-orang yang bersuara sumbang. Tetaplah memancarkan keceriaan terhadap orang-orang di sekitar anda. Terimalah kritik konstruktif untuk memperbaiki diri dengan senang hati. Bersikaplah EPG (emang gw pikirin) terhadap nada nyinyir dari orang-orang yang sirik dan tidak suka kepada kita.

Kelima, sekali-kali berhentilah berpikir dan menganalisa suatu masalah. Buang jauh-jauh segala yang berkecamuk dalam hati dan pikiran, serta biarkan pikiran tenang untuk beberapa saat. Hal ini perlu, karena sama halnya dengan fisik, pikiran dan perasaan juga membutuhkan masa-masa untuk istirahat.

Keenam, menyadari bahwa yang dapat menentukan dan membuat hidup kita bahagia adalah diri kita sendiri.

Jadi, kebahagiaan itu bersumber dari diri kita sendiri. Dari bagaimana cara kita memandang hidup, dari cara kita mengontrol pikiran dan perasaan, dari cara kita menempatkan aspek materialistik yang kita miliki. Janganlah mencari-cari sumber kebahagiaan diluar, karena yang dicari itu sesungguhnya berada di dalam diri kita sendiri.

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , , ,

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

Oleh : Zaldy Munir

 

 

 

BANYAK di antara kita yang hidup dengan trauma dan ketakutan-ketakutan yang muncul dari berbagai kejadian masa lalu. Seringkali kejadian itu sedemikian membekasnya sehingga pribadi kita setelah kejadian yang menimbulkan trauma itu terjadi akan menjadi jauh berbeda.

 

Trauma dan ketakutan ini bisa menghinggapi semua orang, baik miskin-kaya, tua-muda, para rohaniawan bahkan bagi orang-orang yang tergolong punya kemampuan supra natural, baik itu yang terlahir atau dikatakan indigo, maupun orang-orang yang kemampuan spiritualnya itu muncul dengan menekuni metode spiritual tertentu, semuanya bisa mengalami dan dihantui oleh trauma masa lalu ini.

 

Ketika kita telah mau dan siap untuk melihat dan meneliti kembali perjalanan hidup dengan jujur dan terbuka, sebetulnya kita telah setengah menyelesaikan trauma dan ketakutan. Hal ini terutama sekali karena dengan menelusuri dan meneliti kejadian di masa lalu itu dengan keterbukaan dan kejujuran, akan menjadikan kita bisa menemukan sendiri, melihat sendiri kesalahan-kesalahan pengambilan putusan atau indakah yang kita perbuat dalam perjalanan hidup.

 

Bisa saja memang timbul argumentasi bahwa kejadian itu tidak bisa terelakkan karena ini dan itu, namun kalau kembali dilihat dengan jujur, tidak ada gunanya menyesali diri dan toh semestinya itu bisa disikapi dengan lebih baik, dan pada akhirnya lebih baik kita menerima dengan tulus.

 

Kesadaran ini, akan menjadikan terbentuknya suatu pemahaman akan sistematika terjadinya kejadian pembentuk trauma dan ketakutan-ketakutan tersebut dan kalau dibalik, akan terbentuk pemahaman kenapa trauma itu terjadi dan bagaimana juga agar tidak terjadi dan juga sering disertai keyakinan bahwa dalam masa sekarang ini, kejadian yang bisa menimbulkan trauma itu bisa dihindari dan dicegah dengan analogi proses yang sama dengan yang terjadi di masa lalu itu.

 

Bagi semua orang yang mengalami trauma di masa lalu, kesulitan yang paling besar atau yang terutama itu adalah bagaimana menumbuhkan keberaniannya untuk memulainya. Upaya menumbuhkan keberanian ini sering sekali menghabiskan lebih dari separuh umur kita sebagai manusia, dan kadang bantuan dari seseorang, entah itu dari orang terdekat, cucu, anak atau orang yang mengasihinya akan sangat membantu atau paling tidak bisa menjadi semacam katalisator yang mempercepat timbulnya atau kadang menjadi umpan balik yang bisa saja dengan spontan menjadikan keberanian itu timbul.

 

Anda secara pribadi bisa menjadi orang yang punya keberanian untuk mengatasi masa lalu anda dan sekaligus menjadi inspirator bagi orang-orang disekitar anda untuk memiliki keberanian itu. Hanya memang untuk yang terakhir ini anda mesti bisa melakukannya dengan hati-hati, cermat dan penuh pertimbangan yang matang. ¡

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , , ,

KIAT MENULIS ARTIKEL IPTEK DI MEDIA

KIAT MENULIS ARTIKEL IPTEK DI MEDIA

Oleh : Zaldy Munir

HAMPIR setiap suratkabar harian dan mingguan memuat berita-berita dan artikel populer ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan dekade sebelumnya, berita dan tulisan iptek tidak lagi dipandang sebagai suatu yang eksklusif, tetapi sudah menjadi bacaan bagi masyarakat luas. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didorong oleh teknologi informasi seperti Internet, berhasil menggugah keingintahuan masyarakat terhadap sains.

Belum lagi peristiwa-peristiwa alam, mulai dari banjir, gempa bumi, wabah penyakit, hingga kecelakaan pesawat terbang, yang semuanya itu bisa dijelaskan melalui pendekatan sains, membuat masyarakat mulai akrab misalnya dengan istilah daya dukung lingkungan (carrying capacity), daerah tangkapan air (DTA), retakan bawah di permukaan bumi, evolusi virus, hingga istilah-istilah teknis dalam penerbangan (aviation). Masyarakat ingin tahu lebih banyak soal itu dengan tujuan bisa melakukan antisipasi jika suatu saat hal itu dialaminya sendiri.

Maka tidaklah mengherankan, media massa terus mencoba memenuhi kebutuhan pembacanya akan sajian-sajian Iptek. Dengan intensitas dan visi redaksional yang berbeda-beda, setiap media akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan Iptek sesuai selera dan segmen pembacanya. Namun, dalam fungsinya sebagai media massa – dan bukan sebagai jurnal ilmiah untuk komunitas ilmuwan tertentu saja – tulisan-tulisan tersebut tentulah ditampilkan dengan bahasa dan gaya penulisan yang populer.

Jika berita-berita Iptek – yang bisa berupa laporan peristiwa, wawancara maupun hasil penelitian para ilmuwan dan peneliti – disiapkan oleh redaksi media massa itu sendiri, sebaliknya artikel iptek berasal dari luar media, yakni dari para penulis, peneliti, ilmuwan, dan pencinta iptek. Berbeda dengan umumnya staf redaksi media yang lebih berbekal pengalaman riset, wawancara dan reportase di lapangan, kalangan penulis luar ini berasal dari disiplin ilmu dan latar pendidikan yang memadai. Mereka ini adalah ilmuwan itu sendiri. Karenanya, para penulis ini dituntut menulis lebih mendalam, tajam, akurat, dan tentu saja dengan gaya penulis yang populer sehingga lebih mudah dimengerti masyarakat luas.

Media massa nasional misalnya, pada umumnya menyediakan tempat yang luas untuk pemuatan artikel-artikel iptek populer ini. Namun masalahnya, mereka kesulitan mendapatkan artikel iptek yang menarik dari segi topik, baru dari segi sudut pandang (angle) dan aktual dari segi peristiwanya. Tidak sedikit artikel-artikel yang bagus dari sisi kajiannya, tapi tak bisa dimuat karena sama sekali tidak relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Bagi para peneliti dan ilmuwan yang ingin tulisannya dimuat di media massa, kecermatan memperhatikan kriteria artikel yang layak muat sangat diperlukan. Sebetulnya hal itu bisa dipelajari sendiri dengan cara mencermati artikel-artikel yang sudah dimuat. Coba perhatikan, kira-kira apa yang menarik dari artikel yang sedang Anda baca itu sehingga dimuat di suratkabar?

Berikut beberapa kriteria utama bagi artikel-artikel iptek yang bisa dipertimbangkan untuk dimuat:

Aktual. Hal pertama yang diperhatikan redaktur media ketika menerima kiriman artikel adalah aktualitasnya. Adakah newspeg-nya? Adakah cantolan aktualitasnya pada peristiwa atau kegiatan yang sudah dan sedang berlangsung? Newspeg ini bisa berupa peristiwa itu sendiri, misalnya wabah demam berdarah, banjir, pendaratan wahana robotik di Mars atau bisa juga berupa aktivitas ilmiah seperti adanya kongres ilmuwan nasional maupun dunia mengenai suatu topik ilmu.

Peristiwa penganugerahan Hadiah Nobel juga bisa dijadikan peg, bisa ke peristiwanya sendiri, atau terkait pada temuan ataupun biografi para pemenang Nobel itu sendiri. Jadi, jika “tidak ada angin, tidak ada ribut” tiba-tiba Anda menulis tentang bioteknologi misalnya, tulisan Anda tidak akan berada pada daftar prioritas yang akan dimuat. Jika tulisan Anda tentang bioteknologi ini benar-benar bagus, tapi tidak aktual, ada kalanya redaktur menyimpannya dulu sambil menunggu peg-nya, baru kemudian dimuat. Tapi ini jarang sekali terjadi, sebab begitu tulisan Anda dinilai tidak aktual, biasanya segera diputuskan untuk tidak dimuat atau dikembalikan kepada Anda

Mengandung unsur baru. Jika tulisan Anda sudah aktual, hal lain yang akan diperhatikan redaktur adalah adakah unsur baru dalam tulisan tersebut. Unsur baru ini bisa dilihat dari angle (sudut pandang) tulisan – dalam penulisan karya ilmiah angle ini mungkin mirip dengan perumusan masalah – maupun data-data dan informasi baru yang disajikan. Apakah angle tulisan Anda menarik atau tidak? Sekarang kita ambil contoh. Taruhlah Anda ingin menulis soal wabah flu burung. Jika Anda mengambil angle soal karakteristik flu burung ini, angle serupa pasti banyak dipilih oleh penulis lain. Akibatnya, tulisan Anda harus bersaing dengan para penulis lain, syukur-syukur bisa lolos. Namun, jika Anda memilih angle yang lain, yang menurut Anda pasti tidak banyak diperhatikan oleh penulis lain, berarti Anda sudah selangkah lebih maju dan kemungkinan tulisan Anda untuk dimuat tentu lebih besar lagi.

Lalu, seperti apa misalnya angle yang tampil beda itu? Banyak sekali. Anda misalnya, bisa memilih angle evolusi yang sedang berlangsung. Jika dulu, virus tertentu hanya bisa berpindah antara sesama hewan, kini sudah terjadi perpindahan antara hewan dan manusia dengna merujuk ada kasus mad cow, SARS dan flu burung (jadi wabah SARS atau flu burung sebagai peg saja). Jika Anda berhasil mengungkapkan argumen yang meyakinkan soal evolusi virus, akan sulit bagi redaktur untuk tidak memuat tulisan Anda.

Kerangka atau sistematika tulisan. Secara substansial, tidak ada perbedaan antara kerangka penulisan artikel iptek populer dengan artikel ilmiah; setidaknya mengandung tiga komponen utama, yakni pendahuluan, bagian isi dan bagian akhir yang berisi kesimpulan dan saran. Namun untuk artikel iptek populer, pemisahan itu sengaja dibuat tidak begitu nyata. Artinya, Anda tidak perlu menulis sub-judul dalam tulisan dengan Pendahuluan, Isi dan Penutup, tetapi bisa Anda ganti sub-judul lain yang lebih menarik, tapi tetap mengandung ketiga komponen di atas. Makin rajin Anda menulis artikel populer, pasti Anda akan terbiasa dengan dengan struktur penulisan yang sesungguhnya tidaklah asing bagi Anda.

Gaya penulisan. Jika tulisan Anda sudah aktual dan mengandung unsur baru, langkah berikutnya yang harus diperhatikan adalah gaya penulisan. Sering kali tulisan yang menarik tapi harus ditolak hanya karena gaya penulisannya sangat “academic-heavy” dan dipenuhi dengan istilah-istilah yang tak disertai padanannya dalam bahasa Indonesia. Anda harus membayangkan, redaktur tidak punya banyak waktu untuk mengedit kembali tulisan Anda, jadi dia cenderung akan memuat tulisan yang sudah jadi dan siap muat saja. Karenanya, cobalah tulis gagasan dan pemikiran Anda dalam bahasa yang sederhana, populer dan hidup. Tempatkan diri Anda sebagai pembaca awam ketika Anda sedang memeriksa hasil akhir tulisan Anda. Kalau Anda merasa istilah yang digunakan masih terlalu “berat”, carilah padanan lain yang yang lebih pas – tentunya dengan tidak mengurangi makna ilmiah yang sebenarnya.

Bahan pendukung. Jangan lupa melengkapi tulisan Anda dengan dengan bahan, foto, gambar, grafik, ilustrasi dan tabel pendukung. Ingat, sebagai artikel iptek, Anda tentu berurusan dengan data, skema, angka, rumus dan referensi tertentu, yang dapat mendukung argumen Anda dalam tulisan tersebut dan Anda merasa hal itu penting untuk diketahui masyarakat.

Untuk menyiasati hal di atas, memang harus dimulai dari diri Anda sendiri. Tidak mungkin Anda bisa mendapatkan topik tulisan yang aktual jika Anda tidak mengikuti perkembangan yang terjadi. Jadi cobalah untuk mengkliping berita maupun tulisan yang menarik dan cocok dengan minat Anda. Semakin kaya referensi yang Anda gunakan, akan semakin hidup dan menatik tulisan yang Anda sajikan.

Selain itu, hal-hal nonteknis juga berperan dalam mendorong bermunculannya penulis-penulis iptek andal. Anda harus punya motivasi yang kuat untuk menulis di media massa, karena ini merupakan salah satu cermin tanggungjawab moral Anda sebagai ilmuwan dan peneliti. Sampaikanlah ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan disimpan di dalam laci saja.

Setelah memiliki motivasi, hal lain yang harus Anda miliki adalah ambisi dan militansi. Ambisi dan militansi akan membuat motivasi Anda menjadi efektif dan bisa digerakkan. Ketika Anda ingin menulis sesuatu karena topik tersebut memang sangat hangat, lakukanlah segera, dan jangan menunda-nundanya. Bagaimana pun, proses penerimaan naskah, pemeriksaan dan pemuatan oleh redaksi, setidaknya membutuh waktu paling cepat dua-tiga hari. Jadi Anda harus berburu waktu untuk menghindari tulisan Anda tidak jadi basi.

Dengan militansi yang tinggi, kendala-kendala seperti kesibukan mengajar, meneliti atau mengurusi jurusan, sama sekali tidak akan menghalangi langkah Anda untuk menjadi penulis iptek yang andal. Dengan militansi yang tinggi, Anda juga tidak perlu merasa kecewa jika tulisan Anda ditolak, tapi mestinya akan terus memacu Anda untuk menulis lebih baik lagi. Anda tentu pernah membaca, tidak sedikit penulis-penulis yang terkenal saat ini, ketika memulai aktivitas menulisnya, menemukan kenyataan tidak sedikit tulisan-tulisannya yang dikirim ke media yang ditolak redaksi.

Ketika tulisan-tulisan Anda dimuat di media massa, sesungguhnya banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh. Selain masyarakat mendapatkan manfaat setelah membacanya, Anda juga akan dikenal luas, bisa pula menambah credit point (Kum) bagi dosen untuk naik pangkat, dan Anda juga dapat sejumlah uang karena memang ada honornya.

Jadi? Tidak ada resep ampuh apapun agar dapat menjadi penulis iptek terkenal, selain dengan memulainya dari sekarang !

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , , ,

KEPEMIMPINAN SEJATI

KEPEMIMPINAN SEJATI

Oleh : Zaldy Munir


KEPEMIMPINAN sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.


Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat:”I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”—General Ronal Fogleman, US Air Force.


Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri inner peace dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.


Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal leadership from the inside out. Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab: “As for the best leaders, the people do not notice their existence. The next best, the people honour And praise. The next, the people fear, And the next the people hate. When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves”.


Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat encourager, motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble). Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.


Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun. Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.


Karakter Seorang Pemimpin Sejati Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ—EQ—SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.


Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).


Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.
Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu:


1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)

2. Visi yang jelas (clear vision)

3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)


Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).


Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.


EQ (emisional quentence) dalam Kepemimpinan

Pada masa era reformasi sekarang ini mencari seorang pemimpin yang tepat memang tidak gampang. Hal tersebut disebabkan kebanyakan suplay tenaga profesional yang tersedia cenderung kurang siap untuk menjadi pemimpin yang matang. Kebanyakan para profesional kita, kalau pun punya pendidikan sangat tinggi sayangnya tidak didukung oleh pengalaman yang cukup. Atau banyak pengalaman namun kurang didukung oleh pendidikan dan wawasan yang luas.  Ketimpangan-ketimpangan tersebut bagi seorang pemimpin lembaga memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap keharmonisan dan kinerja dari perusahaan / organisasi. Dan seringkali para intelektual yang berpengalaman melupakan kecerdasan spiritual, hal tersebut akan menambah sulit lagi mencari tipe pemimpin yang mendekati sempurna.


Banyak pemimpin instant hasil kolusi dan nepotisme di lembaga-lembaga Indonesia yang sangat minim kesiapan, namun tetap saja dipakai demi kepentingan politik lembaga. Akibatnya, seperti banyak terlihat di negara ini, banyak pemimpin yang malah membawa lembaganya ke arah keruntuhan dan kebangkrutan dengan menelan banyak korban material bahkan jiwa. Meskipun demikian, tetap saja mereka memperkaya diri (tanpa merasa bersalah) dengan aset-aset lembaga bahkan pinjaman bank yang seharusnya dipakai untuk menyehatkan lembaga.


Fenomena apakah yang terjadi atas para pemimpin atau pun profesional kita? Apa yang kurang atau belum dimiliki oleh para pemimpin lembaga atau pun organisasi kita sekarang ini? Apa rahasia keberhasilan para pemimpin yang sukses dalam arti sebenarnya?


Kecerdasan Emosional

Ada kalimat yang sangat menarik yang dikemukakan oleh Patricia Patton, seorang konsultan profesional sekaligus penulis buku, sebagai berikut:


”It took a heart, soul and brains to lead a people…”

Dari kalimat tersebut di atas terlihat dengan jelas bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki perasaan, keutuhan jiwa dan kemampuan intelektual. Dengan perkataan lain, “modal” yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tidak hanya intektualitas semata, namun harus didukung oleh kecerdasan emosional (emotional intelligence), komitmen pribadi dan integritas yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan.


Seringkali kegagalan dialami karena secara emosional seorang pemimpin tidak mau atau tidak dapat memahami dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga keputusan yang diambil bukanlah a heart felt decision, yang mempertimbangkan martabat manusia dan menguntungkan lembaga, melainkan cenderung egois, self-centered yang berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok / golongannya sehingga akibatnya adalah seperti yang dialami oleh kebanyakan lembaga di Indonesia yang high profile but low profit !


Patton sekali lagi mengemukakan pendapatnya bahwa di masa kini lembaga tidak hanya membutuhkan pemimpin yang punya kapasitas intelektual. Sebab, yang membuat sukses lembaga atau organisasi adalah pemimpin yang bisa mendapatkan komitmen dari anggota, masyarakat serta manajemennya. Pemimpin seperti itu adalah mereka yang memahami anggotanya sepenuh hatii dan sanggup memacu anggotanya memenuhi persaingan global.  Singkatnya, pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional.


Tipe Kepemimpinan

Daniel Goleman, ahli di bidang EQ, melakukan penelitian tentang tipe-tipe kepemimpinan dan menemukan ada 6 (enam) tipe kepemimpinan. Penelitian itu membuktikan pengaruh dari masing-masing tipe terhadap iklim kerja lembaga, kelompok, divisi serta prestasi keuangan lembaga. Namun hasil penelitian itu juga menunjukkan, hasil kepemimpinan yang terbaik tidak dihasilkan dari satu macam tipe. Yang paling baik justru jika seorang pemimpin  dapat mengkombinasikan beberapa tipe tersebut secara fleksibel dalam suatu waktu tertentu dan yang sesuai dengan kegiatan yang sedang dijalankan


Memang, hanya sedikit jumlah pemimpin yang memiliki enam tipe tersebut dalam diri mereka. Pada umumnya hanya memiliki 2 (dua) atau beberapa saja. Penelitian yang dilakukan terhadap para pemimpin tersebut juga menghasilkan data, bahwa pemimpin yang paling berprestasi ternyata menilai diri mereka memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Pada umumnya mereka menilai bahwa dirinya hanya memiliki satu atau dua kemampuan kecerdasan emosional. Namun yang paling ironi adalah pemimpin yang payah justru menilai diri mereka secara “lebih” berlebihan dengan menganggap bahwa mereka punya 4 (empat) atau lebih kemampuan kecerdasan emosional.


Apa yang Harus Dilakukan?

Oleh karena itu, saran bagi anda yang saat ini menjadi pemimpin atau minimal memiliki bawahan cobalah untuk mempelajari seperti apa tipe kepemimpinan anda. Selain itu cobalah untuk membuka diri untuk mau mempelajari tipe-tipe kepemimpinan yang lain. Namun sebelum itu,  Anda harus terlebih dahulu memahami kelebihan dan kekurangan anda sehubungan dengan gaya atau tipe kepemimpinan yang akan anda terapkan.


Jangan menyombongkan diri dahulu bahwa Anda seorang pemimpin yang baik. Bukalah mata hati anda lebar-lebar untuk mendengarkan ide, saran, keluhan atau pun pujian dari anggota, masyarakat dan pihak manajemen, sehingga apapun keputusan yang akan anda ambil dapat dipahami oleh semua pihak dan bersifat obyektif. Lakukan juga penilaian terhadap kinerja anda sendiri, apakah penilaian terhadap diri Anda itu benar-benar obyektif ? Untuk lebih mengetahui obyektivitasnya, bertanyalah pula pada anak buah yang bukan “anak emas” anda. ■

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , ,

CITRA DIRI, MODAL UTAMA MEMBINA PERSAHABATAN

CITRA DIRI, MODAL UTAMA MEMBINA PERSAHABATAN

Oleh : Zaldy Munir


”PERSAHABATAN melipatgandakan kegembiraan dan memotong kesedihan menjadi separuhnya.” Begitulah kata-kata hikmah tentang persahabatan yang kebenaran maksudnya tidak bisa kita tolak. Persahabatan merupakan sesuatu yang vital dalam kehidupan seseorang, bahkan di zaman kita sekarang ini di mana interaksi manusia lebih banyak berlatar belakang mencari keuntungan materi belaka. Kesetiaan dan saling mendukung dalam kesenangan dan kesusahan dalam persahabatan merupakan landasan hubungan antara manusia yang membuahkan kebahagiaan dan ketenangan hidup.


Semua kebaikan dalam persahabatan sudah diketahui mayoritas manusia. Tak heranlah setiap individu pasti membutuhkan minimal seorang yang mengerti dirinya di kala suka dan duka. Tak heran, jika setiap manusia kemudian berusaha mencari teman sejati yang seperti itu. Sudah banyak buku tentang seni persahabatan–bagaimana mencari sahabat, mengawali dan membina persahabatan serta semisalnya- memenuhi toko buku dan rak-rak perpustakaan. Isinya saran-saran yang sangat membantu, konsep yang bisa mempengaruhi Anda untuk menjadi orang yang lebih bisa menerima dan memperhatikan orang lain.


Apakah buku seperti ini akan benar-benar membuat kita sukses dalam persahabatan? Iya, penulis-penulis tersebut mempelajari manusia, mengenal psikologi interaksi manusia, dan saran-saran mereka begitu berharga. Tetapi, pada dasarnya kemampuan Anda untuk membina persahabatan yang tulus dan tahan lama tergantung pada kekuatan citra diri Anda atau bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri!


Suka kepada Diri Sendiri Dulu

Banyak ahli yang memberi saran kepada kita bagaimana agar kita bisa lebih punya modal dalam membina persahabatan. Kita bisa belajar untuk lebih penuh perhatian ketika orang lain berbicara kepara orang lain. Kita bisa berbuat sebaik-baiknya untuk berguna bagi orang lain. Kita bisa berlatih bermacam ketrampilan sosial; bagaimana berbicara menarik dengan orang lain, bagaimana memimpin organisasi kemasyarakatan, bagaimana tampil memukai di podium, dan lainnya untuk lebih bisa memperoleh sahabat. Bisa juga kita sering memberikan sedekah kepada orang lain untuk mempunyai banyak sahabat. Tetapi, inti dari kemampuan Anda dalam persahabatan terletak pada pemikiran Anda tentang diri Anda sendiri. Kalau Anda menyukai diri sendiri, orang lain juga akan menyukai Anda.


Bukan berarti kita menyukai diri kita secara kekanak-kanakan. Bukan berarti membuat cinta seorang manusia terpusat pada dirinya sendiri dengan mengesampingkan orang lain sama sekali. Jika Anda memandang rendah diri sendiri, mungkin sekali Anda juga akan bersikap begitu kepara orang lain, atau malah lebih buruk. “Tanpa keyakinan tidak akan ada persahabatan,” kata Epicurus, seorang ahli jiwa manusia asal Yunani purba. Memang benar, dan keyakinan mempunyai awal pada sikap seseorang kepada dirinya sendiri.


Jika Benci Diri Sendiri

Masih nggak percaya kalo citra diri Anda merupakan faktor utama dalam menjalin persahabatan? Ingatlah saat Anda bersama orang lain. Jika Anda berada di suatu tempat bersama orang lain, perasaan Anda tentang diri sendiri akan mempengaruhi pemikiran Anda tentang mereka dan sikap Anda dalam hubungan dengan mereka. Ini merupakan sesuatu yang tidak bisa Anda elakkan. Kalau Anda merasa bahwa pada dasarnya diri Anda nggak berharga, Anda bisa punya pikiran-pikiran negatif kayak salah satu atau lebih di bawah ini:


Saya Orang Rendahan, Lebih Baik Mundur

Pola pikir seperti ini membuat Anda mengundurkan diri, masuk berlindung ke cangkang defensif. Bertahan dari apa? Mempertahankan diri Anda dari diri sendiri! Selanjutnya, Anda akan menghambat tindakan spontan dari diri Anda sendiri; bergerak serasa tak bebas, ke kanan salah ke kiri keliru, maju kena mundur kena. Selanjutnya, Anda pun akan benci spontanitas yang ada pada orang lain. Jika orang lain bisa bersikap enak dan bebas tanpa beban, Anda pun membencinya.


Kalian Jelek, Mereka Jelek!

Kemungkinan yang kedua adalah Anda akan berkubang dalam pemikiran yang terlalu mencela tentang orang lain. Anda berusaha mengangkat ego Anda sendiri yang lemah tetapi merusak setiap peluang untuk menjalin persahabatan.


Saya Nggak Kayak Gitu, Lho!

Atau, Anda akan menjadi terlalu banyak bicara, berusaha mati-matian membuktikan bahwa Anda bukan orang yang tidak berharga. Padahal tuduhan bahwa Anda tidak berharga adalah tuduhan yang Anda tujukan kepada diri Anda sendiri. Orang lain nggak menuduh kayak gitu!


Mereka Harus Kalah!

Kemungkinan lain adalah Anda akan selalu berusaha untuk bersaing, selalu berusaha memukul jatuh orang lain dan mengangkat diri Anda di atasnya dalam hal status.


Nah, mungkin Anda pernah mengenal orang yang bersikap kayak gini. Percayalah, sikap seperti ini hanya akan merusak persahabatan. Anda juga risih kan menghadapi orang yang bersikap kayak di atas. Lebih bermasalah lagi jika malah Anda sendiri yang menerapkan satu atau lebih mekanisme defensif di atas. Jika Anda berbuat begitu, sudah tiba waktunya bagi Anda untuk memperkuat citra diri Anda ketika Anda bersama orang lain sehingga Anda bisa membawakan diri secara lebih wajar tanpa mengambil sesuatu dari orang lain.


Perbaiki Citra Diri

Tentu tidak enak menjadi pribadi yang bersikap satu atau lebih dari empat sikap di atas. Orang lain akan merasa jengah menghadapi orang yang punya sikap seperti ini. Tentu, Anda pengin menjadi orang yang bergairah dan tanpa beban dalam menjalin hubungan persahabatan. Karena itu, Anda harus memperbaiki pandangan Anda terhadap diri Anda sendiri. Berikut ini point-point latihan yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki citra diri Anda:


Yakin: Diri Anda Punya Kemampuan Sosial

Katakan pada diri Anda bahwa Anda diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya sesuai kebijaksanaan Allah. Dia membentuk diri Anda untuk mencintai sesama dan hidup damai bersama orang lain. Diri Anda diciptakan untuk menjadi hangat, berakhlak mulia, dan manusiawi. Kualitas diri ini terdapat dalam diri Anda di suatu tempat, walaupun mungkin saat ini belum tampak di permukaan.


Ingatlah Persahabatan Masa Kecil

Ingatlah kesederhanaan dalam persahabatan Anda di masa kanak-kanak. Bayangkan hal ini dengan jelas sampai detil sebaik-baiknya. Bayangkan segala hal yang pernah Anda lakukan dengan teman Anda di masa kanak-kanak, bayangkan benda-benda, tempat, dan perasaan yang Anda bagi dengan mereka. Tangkaplah kembali saat-saat yang paling Anda sukai dari persahabatan dulu, bayangkan semua peristiwa. Tangkaplah kembali perasaan bahwa Anda bisa spontan dan hidup, bahwa Anda bisa menyingkirkan beban hidup Anda yang berlebihan.


Ingatlah Kebaikan Orang Lain terhadap Anda

Pusatkan perhatian pada citra yang Anda rasakan kepada orang lain dalam hidup Anda. Ingatlah dari awal dan kembalikan ke dalam kenangan Anda rasa terima kasih untuk setiap hal yang manis yang dilakukan ibu bagi diri Anda, sikap menyenangkan yang dilakukan ayah Anda terhadap diri Anda. Jika kehidupan Anda terasa sulit, berkonsentrasilah pada peristiwa-peristiwa langka ketika Anda merasa berterima kasih kepada orang lain. Jagalah agar perasaan cinta Anda tetap hidup seperti Anda menjaga api supaya Anda etap hangat, sebab itulah yang memperindah citra diri Anda. Tanpa rasa cinta yang aktif di dalam hati kita, kehidupan tidak lengkap.


Campakkan Luka Hati Anda

Buanglah dari pikiran Anda semua luka emosional. Kita semua memang memiliki luka hati, tetapi kalau Anda tetap menyimpannya, Anda akan merongrong peluang Anda untuk tumbuh berkembang dalam dunia. Jika Anda menggunakakan waktu Anda untuk menyimpan dendam, Anda tidak bisa berpikir secara baik tentang diri Anda tanpa bersikap realistis.


Terimalah Kekurangan Anda

Terimalah ketidaksempurnaan Anda. Jika Anda mengharapkan terlalu banyak dari diri Anda, citra diri Anda terhadap orang lain akan lemah. Anda akan selalu menoleh-noleh ke baelakang untuk melihat apakah orang lain memperhatikan kesalahan Anda. Tambahan pula, Anda akan mengharapkan orang lain untuk memenuhi standar Anda yang mustahil dan mereka akan merasa bahwa Anda tidak menerima mereka. Begitu Anda menerima diri sendiri seperti apa adanya, Anda akan merasa mudah untuk memberikan persahabatan yang tenang kepada orang lain dan salah satu pengalaman hidup yang paling ajaib akan Anda hayati.


Beberapa orang mungkin hanya punya sedikit sahabat selama hidup dan merasa bahwa dirinya tidak dicintai. Ini tidak benar; yang menjadi masalah hanyalah bahwa Anda tidak adil kepada diri sendiri. Ada sesuatu yang membangkitkan cinta orang lain pada diri setiap orang –hanya hal itu harus dikeluarkan. Rasa bangga Anda terhadap diri sendiri dan sikap bersahabat kepada orang lain merupakan sesuatu yang harus dikeluarkan dari diri Anda. Tidak peduli sesulit apa pun hal itu, hanya Andalah yang dapat melakukannya. Lakukanlah berulang-ulang kiat di atas, dan bantulah diri Anda sendiri tumbuh berkembang di dalam dunia manusia.


Citra diri merupakan faktor utama dalam membina persahabatan. Jika Anda bisa menerima diri Anda sendiri, maka orang lain pun akan mudah menerima diri Anda. Jika Anda mencintai diri Anda sendiri lebih dulu, orang lain akan mudah mencintai diri Anda. Bukan berarti Anda tidak boleh berkembang dan hanya menerima keadaan diri Anda saat ini. Kita harus lebih baik, tapi saat kapan pun juga, kita juga harus menerima, bangga, dan mencintai apa yang telah Allah jadikan pada diri kita! ■

Filed under: Serbaserbi , , , , , , , ,

CIRI-CIRI MANUSIA UNGGUL

CIRI-CIRI MANUSIA UNGGUL

Oleh : Zaldy Munir


MANUSIA unggul adalah mereka yang memenuhi ciri-ciri individu Islam yang sebenarnya menurut kehendak Al-Quran dan as-Sunnah dalam seluruh aspek kehidupan. Bagi mewujudkan manusia unggul, seseorang itu hendaklah memiliki ciri-ciri keunggulan iaitu keimanan yang utuh, amal ibadat yang meliputi ibadat khususiah dan fardhu kifayah dan akhlak mulia yang merupakan cermin keimanan dan amal salih.


1. Keimanan Yang Utuh

Keimanan kepada Allah swt adalah paksi pembinaan negara dan ummah. Dengan keimanan itu akan lahirlah individu yang unggul dan masyarakat yang berbudi luhur, berdisiplin dan beramanah demi kebaikan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman dalam surah al-Asr: ”Demi masa sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal salih yang berpesan dengan kebenaran dan berpesan dengan kesabaran”’. ( Surah al-Asr : 1-3 )


Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan bahawa manusia yang beruntung ialah mereka yang beriman dan beramal salih. Beriman kepada Allah adalah proses peralihan jiwa manuisa daripada menganggap dirinya bebas daripada sebarang kuasa dan ikatan serta tanggung jawab kepada ketundukan mengaku tanpa syarat bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu Rasulullah. Iman merangkumi tiga unsur utama, pengetahuan yang mendalam, kepercayaan yang jitu dan keyakinan yang teguh. Ketiga-tiga unsur ini akan membentuk iman yang kukuh yang menjadi tonggak kekuatan ruhaniyah yang cukup kental untuk membina jiwa dan jasmani manusia. Keteguhan iman juga merupakan penghalang daripada melakukan kejahatan dan maksiat.


2. Pelaksanaan Amal Ibadat

Keimanan tanpa ketaatan melalui amal ibadat adalah sia-sia. Seseorang yang berperibadi unggul akan tergambar jelas keimanannya melalui amal perbuatan dalam kehidupan sehariannya. Bahkan jika dikaji tujuan Allah menjadikan manusia itu sendiri ialah supaya beribadat kepada-Nya. Firman Allah swt : ” Tidak Aku ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadat”. ( Surah az-Zariat : 56 )


Ibadat adalah bukti ketundukan seseorang hamba setelah mengaku beriman kepada Tuhannya. Ibadat yang dimaksudkan di sini termasuklah ibadat khususiah yang menyentuh fardhu ain dan juga fardhu kifayah yang merangkumi hubungan manusia sesama manusia. Justeru itu, bagi individu yang berperibadi unggul, seluruh hidupnya baik hubungannya dengan Pencipta ataupun masyarakat adalah dianggap ibadat. Allah swt berfirman: ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman iaitu orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, orang yang menjauhkan dirinya (dari perbuatan) yang tidak berguna, orang yang menunaikan zakat dan orang yang menjaga kehormatannya kecuali terhadap isteri-isterinya atau hamba yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”. ( Surah al-Mukminun : 1-6 )


3. Akhlak Mulia

Akhlak mulia bagi peribadi unggul adalah hasil keimanan yang kental. Ini disebabkan tali ikatan yang menjalinkan hubungan antara individu dengan masyarakat terbentuk melalui nilai-nilai dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat tersebut. Sekiranya nilai yang diamalkan itu positif maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmoni dan diselubungi roh Islam. Rasulullah saw adalah contoh utama pembentukan akhlak. Dalam sebuah hadith, baginda saw bersabda, ‘Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia’. ( Riwayat Ahmad )


Beberapa nilai yang baik dalam akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan bagi melahirkan individu unggul ialah:


a) Amanah

Amanah adalah sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Ia adalah asas ketahanan umat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan dan roh kepada keadilan. Firman Allah swt: ”Maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertaqwalah kepada Allah, Tuhannya”. ( Surah al-Baqarah : 283 )


b) Ikhlas

Ikhlas adalah inti setiap ibadah dan perbuatan. Firman Allah swt: ”Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya ”( Surah al-Bayyinah : 5 )


Ikhlas akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas akan mencapai kebaikan dunia dan akhirat, bersih daripada sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, perdamaian dan kesejahteraan. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud, ”Bahagialah dengan limpahan kebaikan bagi orang-orang yang bila dihadiri (berada dalam kumpulan) tidak dikenali, tetapi apabila tidak hadir tidak pula kehilangan. Mereka itulah pelita hidayat. Tersisih daripada mereka segala fitnah dan angkara orang yang zalim” Riwayat Imam al-Baihaqi )


c) Tekun

Islam menggalakkkan umatnya supaya tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan sehingga selesai dan berjaya. Sabda Rasulullah saw, ”Sesungguhnya Allah swt menyukai apabila seseorang kamu bekerja dia melakukan dengan tekun” (Riwayat Abu daud )

Sifat tekun akan meningkatkan produktiviti ummah, melahirkan suasana kerja yang aman dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat.


d) Berdisiplin

Berdisiplin dalam menjalankan sesuatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Hasrat negara untuk maju dan cemerlang akan dapat dicapai denga lebih cepat lagi Dengan berdisiplin seseorang itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang.


e) Bersyukur

Bersyukur dalam konteks peribadi unggul berlaku dalam dua keadaan: pertama; sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Pencipta sama ada sedikit atau banyak, kedua; bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah swt supaya kebajikan sentiasa dibalas dengan kebajikan. Allah swt berfirman: ”Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur maka Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kamu dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amatlah keras” ( Surah Ibrahim : 7 )


f) sabar

Di dalam menghadapi cabaran hidup, kesabaran amat penting untuk membentuk peribadi unggul seperti yang dikehendaki Allah swt. Firman Allah swt : ”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan) dan kuatkanlah kesabaran kamu (lebih daripada kesabaran musuh di medan perjuangan) dan bersedialah (dengan kekiuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu berjaya” (Surah Ali Imran : 200)


g) Adil

Adil bermaksud meletakkan sesuatu pada tempatnya. Para ulama membahagikan adil kepada beberapa peringkat iaitu adil terhadap diri sendiri, orang bawahan, pemimpin atasan dan juga sesama saudara. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud,

‘Tiga perkara yang menyelamatkan iaitu takut kepada Allah ketika bersendirian dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan tiga perkara yang membinasakan iaitu mengikut hawa nafsu, terlampau bakhil dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri’. (Riwayat Abu Syeikh)


Kesan Manusia Beruntung Dalam Kehidupan

Seorang manusia yang memiliki sifat-sifat unggul adalah sangat beruntung kerana ia mampu mengemudi hidupnya dengan sempurna. Kondisi ini membuatkan ia dapat berperanan dengan baik kepada dirinya dan alam sekeliling.


Kesan Kepada Diri Sendiri

Manusia unggul akan berjaya melaksanakan amanah dan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya dan sentiasa dapat memenuhi tuntutan-tuntutan rohani dan jasmaninya dengan terkawal. Aspek-aspek rohani dan jasmani manuisa yang terdiri daripada empat perkara asas iaitu akal fikiran, roh, jasad dan syahwat akan dapat dididik dan dipandu berdasarkan fitrah sebenar berdasarkan fungsi kejadian manusia itu sendiri sebagai makhluk istimewa dan khalifah Allah yang diamanahkan untuk memakmurkan bumi ini.


Akal fikiran yang diciptakan Allah swt merupakan mahkota berharga yang menampilkan imej manusia. Ia berkeupayaan menerima ilmu, berfikir, membezakan yang baik dan buruk, boleh diajar dan dididik serta boleh menyampaikannya kepada orang lain. Melalui akal, seseorang itu mendapat hidayah dan petunjuk Allah swt menerusi pemerhatian dan penghayatan terhadap kejadian-kejadian alam dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh orang lain.


Al-Quran menggesa manusia supaya menggunakan akal fikiran, memerhati dan mengkaji kejadian-kejadian alam ini. Pemerhatian dan pengkajian ini mempunyai faedah yang sangat besar iaitu memenuhi dan mempertingkatkan kemajuan hidup yang kemudiannnya akan menemui hakikat kebesaran Allah swt sebagai Pencipta yang Maha Agung. Dengan itu ia selaku makhluk yang mempunyai daya akal dan keupayaan akan tunduk patuh kepada kekuasaan Allah swt dengan penuh kesedaran dan akan melaksanakan kehidupan ini dalam situasi yang betul dan menuju keredhaan Allah swt.


Roh dan nyawa adalah komponen utama manusia. Adalah terlalu sulit untuk diperkatakan kerana ia sebenarnya urusan Allah swt. Walaupun demikian ia amat mustahak kerana dengannya mausia boleh hidup, bernafas, mendenyutkan nadi, memberikan dorongan dan kekuatan perasaan.


Satu lagi komponen manusia ialah jasad yang merangkumi kulit, daging, otot, urat, darah, tulang, anggota pancaindera dan lain-lain. Masing-masing mempunyai fungsi tersendiri dan meyempurnakan antara satu sama lain iaitu sesuai dengan kejadian manusia yang dijadikan Allah swt sebagai sebaik-baik kejadian. Seseorang yang terdidik dengan nilai-nilai unggul, jasadnya akan bergerak di atas panduan yang betul. Dia akan menggunakan kudratnya melakukan kerja-kerja yang baik, rehat dan tidur dengan seimbangnya, memakan makanan yang bersih dan halal, menjaga kesihatan diri, mengguna dan memelihara pancaindera dari sebarang kemudharatan, dosa dan sebagainya. Ini sesuai dengan firman Allah swt: ”… Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri ke dalam bahaya kebinasaan” ( Surah al-Baqarah : 195 )


Jelasnya jasad perlu dijaga supaya tidak terdedah kepada kebinasaan, penyakit dan sebarang kecacatan kerana kesempurnaan jasad turut membantu keunggulan hidup seseorang.


Unsur seterusnya yang dikurniakan kepada manusia ialah nafsu syahwat. Imam al-Ghazali pernah mengumpamakan nafsu sebagai binatang liar, bermakna ia sesuatu yang sukar dikawal. Sekiranya nafsu dapat dididk dan dikawal, ia akan menjadi jinak dan tunduk menurut segala kemahuan diri manusia. Tetapi sekiranya ia tidak dididik dan dikawal, dengan mudah ia menjadi raja kepada diri seseorang untuk melakukan apa sahaja kemahuan yang lebih cenderung kepada keburukan. Firman Allah swt ; ”Sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanku (maka terselamatlah ia dari hasutan nafsu itu)”. ( Surah Yusuf : 53 )


Bagi menenuhi keinginan syahwat ini, Islam membenarkan perkahwinan. Dengan demikian umat manuisa akan membiak dan berkembang dengan cara yang betul di samping sebagai salah satu pengecapan kurniaan nikmat Allah swt dalam hidup berkeluarga.


Jelasnya, kejayaan atau kegagalan seseorang itu melaksanakan tanggungjawab, khususnya kepada diri sendiri adalah bergantung kepada berjaya atau gagalnya ia memenuhi tuntutan keempat-empat perkara tersebut. Aspek-aspek ini adalah asas pembangunan keluarga, masyarakat dan negara.


Kesan Kepada Keluarga

Seseorang insan yang unggul akan mudah mengatur urusan hidup keluarganya. Ia dapat merencanakan soal-soal penddikan, saraan, pergaulan dan pembangunan keluarganya dengan tarbiah Islamiah. Ia dapat menjalankan tugasnya sebagai ra’i atau ketua keluarga dan dalam masa yang sama sebagai abid atau hamba Allah yang sentiasa menjaga hubungannnya dengan Allah swt.


Dalam sesebuah keluarga, aspek-aspek kesihatan fizikal adalah sangat perlu. Ini kerana kesejahteraan pemikiran dan kerohanian seseorang bergantung rapat kepada kesejahteraan fizikal. Seseorang mukmin yang kuat adalah lebih baik daripada yang lemah. Minda yang sihat akan lahir dari tubuh badan yang sihat. Oleh itu, tarbiah jasmaniah seperti yang dituntut oleh syarak perlulah dilaksanakan dalam keadaan yang teratur. Umpamanya dalam pemilihan makanan mestilah yang bersih, baik dan dari sumber yang halal. Amalan buruk yang boleh memudaratkan badan seperti merokok, meminum minuman keras, menyalahgunakan dadah dan sebagainya, hendaklah dijauhi. Sekiranya ketentuan ini tidak dipatuhi, kesihatan jasmani akan terjejas dan boleh memberi kesan buruk kepada mental, fizikal dan spiritual.


Pendidikan rohani pula adalah aspek yang penting. Ia merangkumi keimanan, pengamalan syariat, pelaksanaan tanggungjawab sebagai seorang muslim serta pembangunan mental dan spiritual. Seorang ketua keluarga bertanggungjawab membentuk dan mendidik keluarganya mengamalkan tuntutan-tuntutan yang dikehendaki oleh Islam. Dalam masa yang sama menjauhi perkara-perkara yang haram dan makruh. Ia juga mestilah memastikan ketulenan akidah keluarganya dan membersihkannya dari sebarang bentuk kekufuran dan kesyirikan serta mengikis jiwa dari kekotoran dan penyakit melalui amalan dan latihan yang mantap serta berterusan. Firman Allah swt: ”Sesungguhnya berjayalah orang yang ( setelah menerima peringatan itu) berusaha membersihkan dirinya (dengan taat dan amal soleh) dan menyebut-nyebut dengan lidah dan hatinya akan nama Tuhannya serta mengerjakan sembahyang ( dengan khusyuk)” ( Surah al-A’la : 14-15 )


Seperti yang telah dinyatakan akal fikiran sangat berharga bagi manuisa. Islam juga menuntut umatnya supaya menggunakan akal fikiran dengan betul. Islam menyuruh manusia supaya menuntut ilmu yang bermanfaat dan ilmu itu pula hendaklah disebarkan melalui proses pengajaran dan pengembangan.


Seiring dengan kekuatan pemikiran, pendidikan akhlak adalah amat mustahak. Seseorang ketua yang unggul adalah model yang berkesan dalam pendidikan akhlak keluarganya. Ia perlu membimbing ahli keluarganya dengan akhlak Islamiah berdasarkan ilmu dan pengalaman yang ada padanya. Kegagalan sesetengah keluarga untuk mengamalkan akhlak Islamiah kebanyakannya berpunca daripada kegagalan ketua keluarga atau ibu bapa masing-masing yang tidak mengamalkan nilai-nilai murni seperti yang ditetapkan oleh Islam. Sebab itulah ibu bapa perlu membentuk keunggulan diri mereka terlebih dahulu sebelum amalan itu dapat diperturunkan kepada anak-anak mereka.


Seorang ketua keluarga juga dapat mengatur soal kehidupan ekonomi dan sosial keluarganya berpandukan nilai-nilai yang baik. Ia akan mempunyai rasa tanggungjawab untuk mempertingkatkan taraf hidup keluarganya dengan mengamalkan sikap bersungguh-sungguh dalam kerjaya. Ia berkeyakinan bahawa kesungguhan bekerja adalah suruhan agama yang perlu ditunaikan. Dengan demikian ia akan membawa keluarganya keluar dari ruang lingkup kemiskinan yang menjadi salah satu musuh Islam yang boleh membawa kepada kekufuran seperti sabda Rasulullah saw : ”Hampir-hampr kefakiran itu membawa kepada kekufuran” (Riwayat Abu Naim )


Kesan Kepada Masyarakat, Negara Dan Ummah

Seseorang insan yang unggul akan memastikan hubungan kemasyarakatan dan keluarganya berada dalam satu ikatan yang jitu. Prinsip-prinsip hubungan kejiranan dan masyarakat di sekitarnya akan diasaskan kepada panduan-panduan yang digariskan oleh Islam. Firman Allah swt: ”Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai berai…” (Surah Ali Imran : 103 )


”Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, jiran tetangga yang dekat, jiran tetangga yang jauh, rakan sejawat, orang musafir yang terlantar dan juga hamba sahaya yang kamu miliki” ( Surah an-Nisa’ : 36 )


Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: ”Hubungan orang mukmin dengan orang mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang menguatkan antara satu sama lain” ( Riwayat at-Tabarani )


Setiap kelompok masyarakat perlu memberi perhatian berat kepada bidang penddikan. Insan yang beruntung dalam sesebuah masyarakat akan memudahkan usaha dan perancangan untuk meningkatkan kualiti masyarakat melalui aktiviti pendididkan, pengajian dan muamalat.


Penghayatan agama juga sangat mustahak. Merekalah yang akan mengembangkan penghayatan ajaran Islam melalui aktiviti-aktiviti yang berfaedah melalui cara-cara yang formal atau tidak formal. Susasana ini bukan sahaja dapat melahirkan masyarakat yang harmoni dan berdisiplin, tetapi juga akan menampakkan masyarakat yang mempunyai imej yang tinggi serta mendapat keberkatan daripada Allah swt.


Seperti yang diketahui, ketrampilan seseorang individu atau masyarakat dengan ilmu agama semata-mata tanpa ilmu duniawi adalah sesuatu yang tidak sempurna. Dalam ertikata lain, seseorang muslim perlu mendapatkan pengetahuan yang luas dan kemahiran yang tinggi dalam ilmu selain ilmu agama yang menjadi keperluan asasi. Ia meliputi ilmu ekonomi, politik dan sosial yang perlu diketahui sebagai alat untuk meletakkan diri masing-masing dalam arus perdana kehidupan bermasyarakat dan beragama.


Dengan sebab itu bidang ekonomi, politik dan sosial mesti diketahui dan dicenburi secara bersungguh-sungguh sekurang-kurangnya pada tahap yang paling asas. Bidang-bidang ini merupakan urusan hidup yang menjadi sebahagian penting yang dikehendaki oleh ajaran Islam seperti yang dijelaskan dalam firman Allah swt: ”Dan tuntutlah dengan harta kekayaan yang telah dikurniakan oleh Allah kepadamu (pahala dan kebahagiaan) hari akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu ( keperluan dan bekalanmu ) dari dunia’. (Surah al-Qasas : 77)


Selain bidang sosial dan ekonomi, bidang poltik juga menjadi perkara yang penting dalam sesebuah masyarakat. Kestabilan politik sesebuah negara adalah berpunca daripada keunggulan dan kekuatan yang ada pada diri setiap individu, yang kemudiannya membentuk satu ikatan warganegara yang kukuh.


Apabila sesebuah masyarakat itu kukuh, akan lahir pula tokoh-tokoh berwibawa yang boleh diharap menjadi pemimpin bagi setiap kelompok masyarakat. Pemimpin ini pula perlu mempunyai ilmu, kemahiran dan sifat-sifat unggul sebagai pemimpin. Dia perlu diberi kepercayaan dan sokongan supaya masyarakat dan negara dapat dibawa kepada pencapaian matlamat kemakmuran hidup dan keredhaan Allah swt seperti yang dapat difahami daripada kisah negeri Saba’ ( Yaman Tua ) yang diceritakan di dalam al-Quran : ”Demi sesungguhnya, adalah bagi penduduk negeri Saba’ satu tanda (yang membuktikan kemurahan Allah) yang terdapat di tempat tinggal mereka, iaitu dua kumpulan kebun ( yang luas lagi subur) yang terletak di sebelah kanan dan di sebelah kiri (kampung mereka). (Lalu dikatakan kepada mereka) : ‘Makanlah dari rezeki pemberian Tuhan kamu dan bersyukurlah kepada-Nya , (negeri kamu ini adalah) negeri yang baik (aman dan makmur) dan (Tuhan kamu adalah) Tuhan yang Amat Pengampun” ( Surah saba’ : 15 ).


Dalam konteks kepentingan sejagat pula seseorang insan yang unggul akan mampu memimpin ummah di peringkat yang lebih luas. Kejayaan memimpin negara akan diikuti oleh negara lain sebagai model. Pemimpin yang berwibawa di arena antarabangsa ini diperintahkaan oleh Islam supaya memberikan sumbangan untuk kesejahteraan ummah. Dengan itu tercapailah fungsi manusia sebagai khalifah Allah swt di atas muka bumi ini.


Demikianlah antara kesan-kesan yang dapat dilahirkan oleh insan yang umggul dalam kehidupannya sama ada kepada diri, keluarga, masyarakat, negara dan ummah hasil daripada pegangan dan amalan terhadap nilai-nilai unggul seperti yang telah dinyatakan. ■

Filed under: Serbaserbi ,

BERPIKIRLAH POSITIF

BERPIKIRLAH POSITIF

Oleh : Zaldy Munir


SEMUA orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang ‘beredar’ di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.


  • Melihat masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

  • Menikmati hidupnya. Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.


  • Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.


  • Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak. ‘Memelihara’ pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.


  • Mensyukuri apa yang dimilikinya. Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.

  • Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu. Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.


  • Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan. Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.


  • Menggunakan bahasa positif. Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti “Masalah itu pasti akan terselesaikan, ” dan “Dia memang berbakat.”


  • Menggunakan bahasa tubuh yang positif. Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan ‘hidup’.


  • Peduli pada citra diri. Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam. ■

Filed under: Serbaserbi ,

Photobucket

Pemimpin Redaksi

Zaldy Munir - Photography Jurnalistik & Penulis Fiksi

Kalender Hijriah

Pesan Sang ILAHI

DAN Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sesekali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fatir [35] ayat 11)
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Q. S. Lukman [31] : 10)
SESUNGGUHNYA setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Susungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. An Nahl [16] ayat 99 – 100)

Pesan Sang Penyair

Cinta memberi kesia-sian, tetapi mengambil kesi-siaan juga Cinta tidak akan memiliki, kecuali bila cinta dimiliki Karena cinta tidak cukup hanya Untuk cinta. (Kahlil Gibran)
OLEH cinta pribadi kian abadi Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau Dari cinta menjelma pancaran wujudnya Dan perkembangan kemungkinan yang tak diketahui semula Fitrahnya mengumpul api dari cinta Cinta mengajarinya menerangi alam semesta Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati Cinta tidak berasal dari air dan bumi Cinta menjadikan perang dan damai di dunia Sember hidupyalah kilau pedang cinta. (Muhammd Iqbal)
CINTA itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusi, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuh oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur di sana tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. (HAMKA)

Ruang kampanye

Community

http://iwanfalsmania.blogspot.com

Page Rank

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Google bot last visit powered by Gbotvisit.com Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com

Banner

Kalender Masehi

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Ruang Kampanye

Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Yang masuk nggak ngucapin SALAM...

Pengunjung

  • 34,060 hits

Pengunjung

free counters

Ruang Kampanye

Supporters

100 Blog Indonesia Terbaik
Indonesian Muslim Blogger Blogger Indonesia

Jadwal Shalat