The INDEPENDEN'S – Weblog

Icon

JUJUR, TERBUKA & APA ADANYA

KEINDAHAN ARSITEK KUNO “RUMAH SI PITUNG”

KEINDAHAN ARSITEK KUNO “RUMAH SI PITUNG”

SEPERTI yang kita ketahui, nama Si Pitung identik sebagai sosok seorang tokoh “jawara” asal Tanah Betawi – sebutan masyarakat pribumi tempo dulu untuk kota Batavia, kini Jakarta. Nama besarnya begitu menggaung saat era pemerintahan kolonial Belanda masih berada di Indonesia. Hingga kini, nama Pitung masih tetap melegenda di hati sanubari masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Betawi. Riwayat hidup “Sang Jawara” tersebut masih tetap tersimpan hingga kini, dalam bentuk monumen sebuah rumah panggung yang masih berdiri tegak dan berada di kawasan Marunda, Jakarta Utara.

Bangunan rumah inilah yang konon dipercaya oleh masyarakat setempat, sebagai tempat tinggal Si Pitung. Rumah panggung yang berarsitektur khas Cina ini, berukuran 40 x 8 meter persegi, berdiri di atas tanah seluas 700 meter persegi. Lantai aslinya terbuat dari bilah-bilah bambu. Sementara itu, dinding rumahnya terbuat dari kayu jati yang tidak dicat, sehingga terlihat jelas warna asli kayu jati tersebut. Di samping bangunan rumah, terdapat pula dua buah kolam yang dasarnya masih tanah.

Di halaman depan rumah, ditumbuhi beberapa pohon sejenis petai cina. Di bagian depan dan belakang rumah, terdapat beranda yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter yang dihiasi ornamen-ornamen berupa motif ukiran kayu di kedua sisinya.

Di halaman rumah, terdapat sebuah pendopo kecil. Dimana bangunan pendopo kecil tersebut, konon dahulunya, sering digunakan Pitung untuk pertemuan atau menerima tamu, di kalangan teman-teman dan tetangganya yang singgah di rumahnya itu.

Tahun 1972, Pemerintah DKI Jakarta mengadakan pemugaran rumah tersebut. Sayangnya, akibat pemugaran tersebut, beberapa keaslian bagian dari rumah tersebut banyak yang hilang, misalnya, lantai rumah yang semula bambu, diganti dengan kayu; dinding rumah saat ini, telah dicat dengan sejenis pelitur kayu yang berwarna merah tua; kemudian, kolam yang berada di sekitar rumah, seluruh bagiannya telah dipasangi keramik; termasuk, beberapa jalan setapak di sekeliling rumah tersebut, juga dipasangi keramik; atap genteng rumah juga telah diganti, namun warnanya masih tetap sama; dan, rumah tersebut, kini telah dipasangi listrik, sehingga tidak menimbulkan kesan angker, seperti sebelumnya.

Untuk melihat rumah tersebut, terdapat dua jalan yang menuju kesana, melalui darat atau menggunakan perahu penyeberangan. Apabila kita menempuh jalan darat, bisa menggunakan angkutan umum dari Terminal Tanjung Priok, sekitar 15 km ke arah Rorotan. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan ojek (sepeda/motor), dan kita masih harus menyusuri jalan tanah sejauh 3 km.

Apabila kita menggunakan kendaraan pribadi, kita dapat menitipkannya pada rumah-rumah penduduk setempat—yang telah terbiasa menerima kedatangan pelancong yang akan berkunjung ke rumah tersebut—yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi Rumah Pitung. Selain melalui jalan darat, kita bisa juga menggunakan perahu penyeberangan untuk melintasi jarak sekitar 50 meter sampai ke Kampung Marunda Pulo. Kemudian, kita masih harus menempuh jarak kira-kira 200 meter untuk dapat mencapai lokasi tujuan.

Wilayah perkampungan di kawasan Marunda Pulo masih sangat sederhana. Sebagian besar rumahnya berdinding kayu atau bambu. Untuk kebutuhan air bersih sendiri, masih cukup sulit diperoleh. Kebanyakan air tanah di sana terasa payau, karena pengaruh rembesan air laut (abrasi). Sedangkan, air PAM masih belum dapat menjangkau masyarakat perkampungan Marunda Pulo, sehingga banyak masyarakat di sana menggantungkan hidupnya dari pedagang air keliling untuk memenuhi kebutuhan masak dan minum.¡

Filed under: Seni dan Budaya , , , , ,

BENYAMIN SUEB SENIMAN BETAWI SERBA BISA

BENYAMIN SUEB SENIMAN BETAWI SERBA BISA

Oleh : Zaldy Munir

benyamin_sueb_11BENYAMIN Sueb menjadi figur yang melegenda di kalangan masyarakat Betawi khususnya karena berhasil menjadikan budaya Betawi dikenal luas hingga ke mancanegara. Celetukan “muke lu jauh” atau “kingkong lu lawan” pasti mengingatkan masyarakat pada Benyamin Sueb, seniman Betawi serba bisa yang sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik yang merekam sekitar 300 lagu, 53 judul film serta menyabet dua Piala Citra ini.

Sejak kecil, Benyamin Sueb sudah merasakan getirnya kehidupan. Bungsu delapan bersaudara pasangan Suaeb-Aisyah kehilangan bapaknya sejak umur dua tahun. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, si kocak Ben sejak umur tiga tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.

Benyamin sering mengamen ke tetangga menyanyikan lagu Sunda Ujang-Ujang Nur sambil bergoyang badan. Orang yang melihat aksinya menjadi tertawa lalu memberikannya recehan 5 sen dan sepotong kue sebagai ‘imbalan’. Penampilan Benyamin kecil memang sudah beda, sifatnya yang jahil namun humoris membuat Benyamin disenangi teman-temannya. Seniman yang lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939 ini sudah terlihat bakatnya sejak anak-anak.

Bakat seninya tak lepas dari pengaruh sang kakek, dua engkong Benyamin, yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung, pemain Dulmuluk, sebuah teater rakyat – menurunkan darah seni itu dan Haji Ung (Jiung) yang juga pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda. Sewaktu kecil, bersama 7 kakak-kakaknya, Benyamin sempat membuat orkes kaleng.

Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan ‘alat musik’ itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu.

Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin saat berusia 6 tahun menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni. Dari tujuh saudara kandungnya, Rohani (kakak pertama), Moh Noer (kedua), Otto Suprapto (ketiga), Siti Rohaya (keempat), Moenadji (kelima), Ruslan (keenam), dan Saidi (ketujuh), tercatat hanya Benyamin yang memiliki nama besar sebagai seniman Betawi.

Benyamin memulai Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) Bendungan Jago sejak umur 7 tahun. Sifatnya yang periang, pemberani, kocak, pintar dan disiplin, ditambah suaranya yang bagus dan banyak teman, menjadikan Ben sering ditraktir teman-teman sekolahnya.

SD kelas 5-6 pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. SMP di Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Satu sekolahan dengan pelawak Ateng. Di sekolah Taman Madya, ia tergolong nakal. Pernah melabrak gurunya ketika akan kenaikan kelas, ia mengancam, “Kalau gue kagak naik lantaran aljabar, awas!” Lulus SMP ia melanjutkan SMA di Taman Siswa Kemayoran. Sempat setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.


Benyamin mengaku tidak punya cita-cita yang pasti. “Tergantung kondisi,” kata penyanyi dan pemain film yang suka membanyol ini. Benyamin pernah mencoba mendaftar untuk jadi pilot, tetapi urung gara-gara dilarang ibunya.

Ia akhirnya menjadi pedagang roti dorong. Pada 1959, ia ditawari bekerja di perusahaan bus PPD, langsung diterima. “Tidak ada pilihan lain,” katanya. Pangkatnya cuma kenek, dengan trayek Lapangan Banteng – Pasar Rumput. Itu pun tidak lama. “Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi melulu,” tuturnya. Korupsi yang dimaksud ialah, ongkos penumpang ditarik, tetapi karcis tidak diberikan.

Ia sendiri mula-mula takut korupsi, tetapi sang sopir memaksa. Sialnya, tertangkap basah ketika ada razia. Benyamin tidak berani lagi muncul ke pool bus PPD. Kabur, daripada diusut. Baru setelah menikah dengan Noni pada 1959 (mereka bercerai 7 Juli 1979, tetapi rujuk kembali pada tahun itu juga), Benyamin kembali menekuni musik bersama teman-teman sekampung di Kemayoran, mereka membentuk Melodyan Boy. Benyamin nyanyi sambil memainkan bongo. Bersama bandnya ini pula, dua lagu Benyamin terkenang sampai sekarang, Si Jampang dan Nonton Bioskop.

Sebenarnya selain menekuni dunia seni, Benyamin juga sempat menimba ilmu dan bekerja di lahan yang ‘serius’ di antaranya mengikuti Kursus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negara (1964), bekerja di Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

Dari berkesenian, hidup Benyamin (dan keluarganya) berbalik tak lagi getir. Debutnya Si Jampang, mengalir setelah itu Kompor Meleduk belakangan dinyanyikan ulang oleh Harapan Jaya, Begini Begitu (duet Ida Royani), Nonton Bioskop (dibawakan Bing Slamet) dan puluhan lagu karya Benyamin yang lain.

Tidak puas dengan hanya menyanyi, Benyamin lalu main film. Diawali Honey Money and Jakarta Fair (1970) lalu mengucur deras puluhan film lainnya. Seniman yang suka ‘mengomel’ bila melawak ini menjadi salah satu pemain yang namanya sering digunakan menjadi judul film. Selain Benyamin tercatat di antaranya Bing Slamet, Ateng, dan Bagio.

Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).

Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo’on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974), Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976), Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973.

Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film – di antara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975) – bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976). Sayang, usahanya mengalami kemunduran, dan PT Jiung Film dibekukan tahun 1979.

Benyamin tidak selalu menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang, ada proses dimana Benyamin “hanya” menjadi figuran atau paling mentok menjadi aktor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai “bintang film” lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Benyamin.

Dalam “berguru” dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik – seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah “komidi musikal” yang diotaki oleh Bing Slamet – Benyamin menjadi teman sang aktor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting.

Di film ini, sudah terlihat gaya “asal goblek” Benyamin yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Benyamin juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Benyamin tak dapat menahan tangisnya.

Dengan Sjuman Djaya, Benyamin diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973). Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap “asal goblek”.

Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan oleh Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Benyamin pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Benyamin menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra.

Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya – selain theme song-nya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja. Lagi-lagi Benyamin menjadi aktor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.

Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974. Film bergenre komedi horor itu “memaksa” Benyamin beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si aktor tiga zaman. Begitulah, meski beberapa kali pernah tidak “menjabat” sebagai aktor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.

Penyanyi Beneran

Tahun 1992, saat sibuk main sinetron dan film televisi (Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan) Benyamin mengutarakan keinginannya pada Harry Sabar, “Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran.” Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Gambang Kromong Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Inilah band dan album terakhir Benyamin.

“Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk. Coba saja dengar Ampunan,” jelas Harry, sang music director. “Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar,” imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas.


Di album ini, Benyamin menyanyi dengan “serius”. Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, di antaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.

Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika – saat menjenguk anaknya yang kuliah di sana – dia langsung komentar, “Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?”, dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.

Benyamin yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji ini meninggal dunia seusai main sepakbola pada tanggal 5 September 1995, akibat serangan jantung. Ia bukan lagi sekadar sebagai tokoh masyarakat Betawi, melainkan legenda seniman terbesar yang pernah ada. Karena itu banyak orang merasa kehilangan saat dirinya dipanggil Yang Maha Kuasa.

Dari pelawak yang pernah tampil dalam variety show Benjamin Show sambil tour dari kota ke kota sampai Malaysia dan Singapura ini muncul banyak idiom atau celetukan yang sampai kini masih melekat di telinga masyarakat, khususnya warga Jakarta. Sebut saja, aje gile, ma’di kepe, atau ma’di rodok, yang semuanya lahir dari lidah Benyamin.■

Filed under: Seni dan Budaya , , , , , , , , ,

PELAJARAN LUHUR DARI BOROBUDUR YANG TERLUPAKAN

PELAJARAN LUHUR DARI BOROBUDUR YANG TERLUPAKAN

Oleh : Zaldy Munir

300px-borobudur_scenery_1HARIAN Kompas 21 November 2006 memberitakan bahwa Borobudur terlempar keluar dari Nominee 7 Keajaiban Dunia berdasarkan polling terakhir. Ironisnya, Angkor Wat justru masuk dalam daftar padahal situs di Kamboja itu para arsiteknya merupakan orang-orang yang pernah membangun Borobudur.

Borobudur sesungguhnya merupakan buku pelajaran raksasa bagi bangsa Indonesia yang terbuat dari batu. Jauh sebelum bangsa Amerika memiliki toko buku Barnes & Noble maupun situs penjualan buku Amazon. com di Internet pada abad ke-20, bangsa Indonesia sudah memiliki “gerai buku raksasa” yang pantas dibanggakan pada abad ke-9 Masehi. Sungguh sayang rasanya bila kita tidak mampu memetik pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya.

Apalagi, hanya memandang Borobudur sebagai obyek rekreasi serta lokasi komersial untuk menjual cindera mata, kaus, topi maupun makanan jajanan semata. Setelah sempat eksis selama beberapa abad, hampir selama berabad-abad berikutnya “buku pelajaran raksasa” itu terlupakan. Borobudur tersia-sia menjadi onggokan gunung batu penuh timbunan tanah dan ditumbuhi semak belukar.

Beruntung Sir Thomas Stanford Raffles yang menjadi Walinegara di Indonesia ketika negeri ini dikuasai Inggris selama kurun 1811-1816 memiliki kepedulian terhadap sejarah dan arkeologi. Pada tahun 1814, Raffles menerima laporan bahwa ada peninggalan purbakala di desa Bumisegoro bernama Borobudur. Raffles kemudian mengutus seorang Belanda yang berpengalaman dalam masalah percandian bernama Cornelius. Dengan mempekerjakan 200 orang desa, Cornelius membersihkan semak belukar beserta tanah yang selama berabad-abad menutupinya. Laporan kerja Cornelius menjadi salah satu bahan penting bagi Raffles yang kemudian dimasukkannya dalam buku “History of Java” yang diterbitkan tahun 1817.

Berkat uraian buku tersebut keberadaan Borobudur memperoleh perhatian luas di kalangan ilmuwan dan arkeolog di manca negara. Pada tahun 1885, Borobudur menjadi perhatian publik dunia ketika seorang perwira zeni Belanda bernama J.W. Ijzerman menemukan adanya relief di bagian kaki candi berupa fragmen Mahakarmawibangga yang menggambarkan hukum sebab akibat (karma).

Pekerjaan besar pemugaran selanjutnya dilakukan Theodor Van Erp, seorang perwira Zeni KNIL, dibantu seorang arkeolog J. Brandes dan seorang insinyur B.W. van de Kramer antara 1907 dan 1911. Namun kerusakan demi kerusakan tetap mencemaskan. Dalam waktu 16 tahun sudah terdapat 40 bidang relief dari 120 yang menggambarkan adegan “Lalitawistara” sudah mengalami kerusakan berat. Demikian pula bagian-bagian lainnya sehingga pemugaran yang bersifat tambal sulam tidak berguna untuk menyelamatkan monumen tersebut. Yang dibutuhkan Borobudur adalah pemugaran menyeluruh. Akhirnya, pada 29 Januari 1973 badan PBB urusan pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) bersedia menyediakan dana serta memulai pemugaran. Proyek pemugaran selesai sepuluh tahun kemudian pada 23 Februari 1983.

Mengapa Borobudur dapat disebut sebagai buku pelajaran raksasa yang terbuat dari batu? Hal itu wajar mengingat begitu banyaknya gambar timbul di dinding atau relief sejumlah 166 relief di bagian Kamadhatu pada batu seberat 13.000 meter kubik itu. Kemudian di bagian Rupadhatu terdapat empat galeri dengan 1300 relief dengan panjang seluruhnya sekitar 2,5 kilometer yang dikelilingi sekitar 1212 panel berdekorasi indah.

Sementara itu, di bagian Arupadhatu terdapat 72 stupa yang berterawang dengan lubang-lubang berbentuk segi empat. Sedangkan, pada bagian paling atas atau Sunyata hanya terdapat sebuah stupa yang tertutup rapat.

Dari bagian-bagian Borobudur itu sebenarnya kita dapat memahami bahwa hidup manusia berada pada empat level keberadaan. Banyak para ahli yang memetakan kosmologi yang ada di Borobudur seperti kosmologi India yang membagi menjadi tiga dunia. Padahal, sesungguhnya Borobudur memuat mengenai empat dunia.

Dunia pertama terletak di dasar paling bawah yakni Kamadhatu atau dunia hawa nafsu dan sifat-sifat jahat (plane of passion and lust). Pada tingkatan ini manusia terikat dan dikuasai hawa nafsu dan sifat-sifat jahat. Oleh karena itu, untuk mengendalikannya biasanya diperlukan aturan atau hukum-hukum yang keras.

Dunia kedua disebut Rupadhatu (plane of image and forms) pada level ini manusia telah dapat menguasai hawa nafsunya tetapi masih terikat pada bentuk dan rupa. Manusia pada tingkatan ini masih mengejar status dan kekayaan karena mereka amat menghargai bentuk, rupa, wujud seperti kecantikan, ketampanan, kekayaan, kemegahan dan sebagainya.

Dunia ketiga adalah Arupadhatu (plane of non form) atau dunia tanpa bentuk. Di sini manusia sudah tidak lagi mementingkan lagi pada bentuk dan rupa. Manusia di level ini sudah menyadari hakikat hidup sesungguhnya.

Sedangkan, dunia keempat disebut Sunyata (The True Existence, Absolution) merupakan tingkatan yang tertinggi yang tak mampu lagi dijangkau dengan nalar karena telah mencapai Makrifat Tuhan. Manusia di level ini telah bebas lepas sama sekali dan memutuskan untuk selama-lamanya ikatan duniawi.

Oleh karena itu, perwujudannya berupa stupa yang sama sekali tertutup, tidak berterawang lagi seperti yang terdapat di bagian Arupadhatu.

Sepintas lalu keempat tingkatan tadi mengingatkan kita pada hirarki pemahaman agama dalam tradisi Islam yakni Syariat (tahapan pengendalian nafsu-nafsu dengan menerapkan aturan-aturan yang ketat), Tarikat, Hakikat dan Makrifat. Jadi, sesungguhnya Borobudur pun dapat dimaknai secara lebih universal dan bersifat lintas agama.

Bagi pemeluk agama Nasrani, peristiwa penyaliban Yesus sesungguhnya dapat pula dimaknai sebagai transformasi dari tahapan tanpa bentuk menuju tahapan kasunyatan (Absolution) .

Menurut Borobudur manusia akan berkembang menuju kesadaran yang lebih tinggi, dari terendah yang masih dikuasai hawa nafsu hingga mencapai taraf pembebasan dari ikatan duniawi. Menggunakan matriks Borobudur kira-kira kita dapat memperkirakan di mana keberadaan umat manusia saat ini.

Sebagian besar masyarakat dunia saat ini berada di level Rupadhatu karena umumnya masih mengejar status dan kekayaan, tetapi tidak sedikit pula yang masih di level Kamadhatu karena masih dikuasai hawa nafsu serta sifat-sifat jahat seperti korup, serakah, selingkuh, iri, loba , aniaya dan sebagainya.

Nah, di mana kira-kira letak bangsa Indonesia sekarang ini dalam konteks matriks Borobudur tersebut? Melihat prestasi bangsa Indonesia paling mutakhir sebagai bangsa paling korup di Asia, anggota perlemennya suka berkelahi, aparat penegak hukumnya menyeleweng serta negerinya rawan kerusuhan, ledakan bom dan berbagai bencana alam, tampaknya kita masih belum beranjak dari tingkat paling dasar, yaitu Kamadhatu.

Semua itu, karena karena kita telah melupakan bahkan sama sekali tidak mempedulikan pelajaran luhur yang terkandung dalam Borobodur. Sebuah buku pelajaran raksasa bagi bangsa Indonesia yang terbuat dari batu dan sudah berdiri lebih dari duabelas abad yang lalu.

Andai saja bangsa Indonesia bersedia untuk belajar, menghayati dan mengamalkan pelajaran luhur yang diwariskan Borobudur maka ketika bangsa ini merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-60 pada tanggal 17 Agustus 2005, Indonesia sudah mencapai tahap adil, makmur dan sejahtera.

Tetapi, karena mengabaikan warisan luhur yang terkandung dalam Borobudur itu, maka yang dialami bangsa ini justru meningkatnya angka kemiskinan disertai himpitan utang luar negeri yang luar biasa besar.

Kekayaan alam, flora dan fauna dijarah habis-habisan. Pasir laut yang dijual secara ilegal ke Singapura menembus angka Rp 72 triliun, pembalakan liar di Kalimantan dan Papua diperkirakan sekitar Rp 30 triliun, penyelundupan satwa langka sebesar Rp 100 triliun, ikan yang dicuri dari laut Indonesia mencapai Rp 36 triliun dan penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) paling sedikit Rp 50 triliun. Aparat penegak hukum yang seharusnya ikut menjaga praktik pencurian dan perampokan itu tidak berdaya akibat minimnya sarana. Selain itu, tidak sedikit kalangan petinggi mereka yang ternyata ikut bermain.

Sudah begitu, berbagai bencana dan musibah datang silih berganti dan bertubi-tubi mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi hingga tsunami. Tidak ketinggalan busung lapar, polio dan wabah flu burung ikut merebak. Kelangkaan BBM yang diikuti krisis listrik PLN mulai dimana-mana sehingga membuat kehidupan berbangsa dan bernegara semakin tidak nyaman.

Indonesia bukannya menjadi bangsa terhormat namun cenderung menjadi bangsa paria di tengah masyarakat dunia. Sebagai sebuah negara pun Indonesia sudah mengarah menjadi negara gagal (failure state).

Mengapa semua hal itu dapat terjadi? Selain akibat gagal melakukan pembelajaran yang benar dari warisan luhur yang terkandung di Borobudur, segala tragedi itu sesungguhnya merupakan akumulasi dari tidak seriusnya bangsa ini menangani semua praktik korupsi yang terjadi sejak zaman Orde Baru (1967-1998). Akibatnya, ketika muncul reformasi 1998 korupsi malahan semakin merajalela dan terjadi di semua tingkatan masyarakat.

Tidak mengherankan bila Indonesia pada tahun 2005 menuai prestasi sebagai negara paling korup peringkat ke -137 dengan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) sebesar 2,2 di 158 negara di dunia yang diteliti Transparency International. Angka itu sedikit lebih baik bila dibandingkan IPK Indonesia tahun 2004 yang sebesar 2,0. Dengan raihan angka tersebut maka posisi Indonesia hanya sedikit lebih baik dibandingkan negara-negara paling korup dunia seperti Angola, Republik Demokratik Kongo, Pantai Gading, Georgia, Tajikistan, Turkmenistan, Nigeria, Kamerun, Bangladesh, Haiti dan Chad. ***

Filed under: Seni dan Budaya , , , , , , , , , ,

125 TAHUN PUJANGGA EKSENTRIK FRANZ KAFKA

125 TAHUN PUJANGGA EKSENTRIK FRANZ KAFKA


TAK ada sastrawan yang seperti Franz Kafka. Dianggap begitu rumit, begitu gelap, begitu tidak karu-karuan. Lahir 3 Juli 1883, meninggal sebulan sebelum berusia 41 tahun, pada 3 Juni 1924.


Kalau saja ia masih hidup, hari Kamis tanggal 3 Juli Franz Kafka akan berusia 125 tahun.Franz  Kafka tak pernah meramalkan sukses besarnya sebagai sastrawan. Namun teknik penulisannya yang begitu otentik dan orisinal, merupakan pilihan sadar dan sikap dasarnya dalam menulis.Dalam sebuah suratnya kepada Oskar Lotak, 27 Januari 1904, ia mengatakan, “Suatu buku haruslah bagai menikam atau mencederai pembacanya. Katanya, kalau buku itu tidak membangunkan kita dengan suatu tonjokan di kepala, untuk apa kita membacanya?”


Ia mengatakan, kalau perlu buku macam itu harus kita tulis sendiri. Lalu katanya pula, apa yang kita butuhkan adalah buku yang memberi dampak pada kita bagaikan bencana yang menciptakan duka cita yang mendalam, ibarat kematian seseorang yang kita cintai lebih dari diri kita sendiri, seumpama dibuang jauh ke rimba raya terkucilkan dari siapapun, seperti suatu bunuh diri. Buku haruslah merupakan sebuah kapak yang menghancurkan samudera yang membeku dalam diri kita.


Betapa kuat kalimat-kalimat itu. Begitu kokoh. Dan begitu konsisten kredo kesastrawanannya itu diwujudkan dalam karya-karyanya. Yang gelap, dengan kata-kata yang berantakan, kalimat-kalimat panjang yang saling berhimpitan, membangun suatu arsitektur bahasa tersendiri, menciptakan suasana gelap, tertekan, terasing, getir, sendirian terkucil.


Tetapi siapakah Franz Kafka, si peracau itu? Sebuah buku baru diterbitkan menyambut ulang tahun Kafka ke 125. Judulnya, ‘Biografi Franz Kafka: Tahun-Tahun Penjelmaan’. Pengarangnya, Reiner Stach mengatakan, dengan buku itu disusun berdasarkan hidup Franz Kafka dari 1916 hingga kematiannya 1924. “Saya ingin menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa politik yang disaksikan Kafka khususnya selama Perang Dunia, bukan sekadar latar bagi hidupnya semata. Melainkan, dia juga sangat terlibat di dalamnya. Saat itu ia dipaksa untuk membeli surat obligasi dana perang. Akibatnya seluruh simpanannya, yang sebenarnya disimpan supaya nanti bisa berhenti dari kerjanya di perusahaan asuransi, dan hanya menulis sepanjang hidupnya itu habis. Bisa dibilang dicurilah, begitu.”


Terlepas dari kepribadiannya yang nyentrik, Franz Kafka adalah pekerja keras. Ia sungguh-sungguh ketika menjadi pekerja di perusahaan asurani untuk menyambung hidupnya, juga ketika pindah ke perusahaan lain. Namun ia juga mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menulis.


“Ketika Gregor Semsa terbangun suatu pagi dari suatu mimpi yang kacau, di atas tempat tidurnya itu ia mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa.” Begitulah kalimat pembuka Metamorfosa, atau dalam judul aslinya, Verwandlung, salah satu karya Franz Kafka yang legendaris.


Ini barangkali kalimat pembuka paling terkenal dalam dunia sastra. Kalimat awal yang tak ada tandingannya. Novel itu sendiri adalah karya yang taka da tandingannya pula.


Sebuah karya yang mengguncangkan nilai dan estetika. Metamorfosis mengubah sepenuhnya pandangan dunia mengenai sastra, dan pandangan mengenai dunia sastra. Bahwa suatu karya sastra bisa ditulis dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Metamorfosis boleh dikata merupakan satu-satunya novel Franz Kafka yang tuntas. Tidak dalam pengertian tamat seperti novel pada umumnya. Namun setidaknya berakhir pada ujung yang boleh dikata konklusif. Sedangkan karya-karya monumental lain, seperti Amerika, Manusia yang Tersesat, serta Peradilan, alias The Trial alias Proses, kastil alias Schloss, merupakan karya yang tidak selesai, yang terputus di tengah jalan. Tetapi toh, karya-karya tidak beres itu begitu mempengaruhi dunia. Mengapa karya-karyanya tidak selesai?


Reiner Stach menjelaskan: Setiap malam sesudah pukul 5 sore ia harus ke kantor. Ia juga musti masuk kantor setiap hari Sabtu. Ia jadi kehabisan waktu. Ia berusaha mengabaikannya. Tapi akibatnya ia justru kurang tidur. Itu alasan kenapa ia tidak berhasil menyelesaikan naskah berjudul “Proses”, atau di dunia internsional dikenal sebagai The Trial, Pengadilan. Karena tugas di kantor dan keharusan menulis membuat beban hidupnya jadi  berlipat ganda. Ia jadi begitu letih.”


Manusia letih ini juga selalu gelisah. Tidak tenang. Serba tidak nyaman, tidak aman. Serba cemas, serba kuatir. Namun katanya, “Ketakutanku adalah inti jiwaku, dan bisa jadi bagian terbaik dari diriku.”


Semua kepribadiannya, kecenderungan hidupnya, pandangannya, kegelisahannya, kecanggungannya, kesepiannya, kecemasannya, detil-detil kecil dari kesehariannya, seakan tercermin kuat, atau terwujudkan secara khas dalam karya-karyanya. Dalam Metamorfosis ia adalah Gregor Samsa yang terbangun di pagi hari sebagai seekor serangga raksasa, dalam Kastil sosok-sosok berseliweran, dan berakhir dengan kalimat yang tak selesai, dalam Pengadilan, seorang lelaki tiada guntur tiada angin ditangkap.


Franz Kafka adalah manusia dengan minoritas lipat tiga di Ceko. Ia seorang Yahudi, seorang penyendiri, dan seorang pengguna bahasa Jerman. Kafka memang lahir dari sebuah keluarga Yahudi makmur di sebuah kawasan berbahasa Jerman di Praha. Seluruh pendidikannya dijalani dalam bahasa Jerman. Karenanya, kendati ia menguasai juga bahasa Ceko dan kemudian Prancis, ia menulis dalam bahasa Jerman. Bahasa yang sangat rumit, yang seakan menjadi alat yang lebih sempurna lagi bagi kerumitan kepribadian Kafka.


Keluarganya, masa kecilnya, pendidikannya, kendati elitis, jauh dari susana yang membahagiakan Franz Kafka. Dalam biografi yang disunting sahabatnya, Max Brod, ia menulis,bahwa ia bisa membuktikan setiap saat bahwa pendidikan yang dialaminya diupayakan untuk menciptakan kepribadiannya yang berbeda, yang bukan dirinya sendiri. Ia menuntut agar para pendidiknya untuk mengarahkannya sesuai kepribadian sebenarnya. Namun katanya, karena mereka tak mampu memenuhinya, ia melontarkan kecaman saja, olok-olok yang bergema nyaring di menembus dunia.


Franz Kafka berangan-angan pindah ke Berlin, Jerman, dengan harapan bisa terbebas dari lingkungan keluarga dan masa kecilnya, hidup sebagai penulis sepenuhnya bersama tunangannya Felice Bauer  yang tinggal di Berlin. Namun perang dunia pertama meletus, dan ia tak leluasa bepergian. Dan akhirnya hubungan mereka yang terbina selama 5 tahun, putus pada tahun 1917. Tak lama kemudian Kafka terserang Tuberculosis, TBC.


Berbarengan dengan makin parahnya berbagai masalah yang bersumber pada kejiwaannya, Seperti paranoia, kecemasan, psikosomatik. Dan Kafkapun mengutuk. Katanya, paru-parunya dan otaknya diam-diam berkomplot. Di luar itu, Kafka memang selalu tak nyaman dengan orang lain.


Salah satunya, digambarkan Reiner Stach yang baru saja menulis buku tentang Kafka: “Dia punya kebiasaan tetap yang khas yang tampak ganjil. Ia tak bisa mengubahnya. Dan ia tahu itu bisa jadi bahan tertawaan. Sebetulnya  tak ada kebiasaan ganjilnya  yang betul-betul membuat orang lain tak bisa bergaul  Franz Kafka jatuh cinta lagi di tahun 1921 kepada Milena Jesenka,  seorang wartawati Ceko. Dalam sebuah suratnya Kafka mengatakan, “Dalam cinta ini engkau bagaikan sebilah pisau, yang dengannya aku jelajahi diriku sendiri.” Namun ia menganggap “persetubuhan adalah suatu hukuman atas kebahagiaan sepasang kekasih”


Tetapi dua tahun kemudian ia pindah ke Berlin dan hidup dengan seorang guru TK bernama Dora Diamant, yang memperkenalkannya lebih dalam dengan keyahudian. Kafka kemudian tertarik pada spiritualitas dan kebudayaaan lama Yahudi. Kendati Kafka tak pernah benar-benar menjadi seorang Yahudi religius. Kafka sempat juga terpengaruh oleh sejumlah kawan-kawannya yang Zionis. Sampai berencana untuk ikut pindah ke kawasan Palestina yang saat itu berada dalam mandat Inggris dan Israel belum ada. Namun penyakit TBC mengagaglkannya. Ia meninggal 3 Juni 1924.


Beberapa saat menjelang kematiannya, ia berwasiat kepada sahabatnnya, Max Brod dan teman hidupnya, Dora Diamant, agar membakar dan memusnahkan seluruh karyanya. Agar, katanya, “Tidak akan pernah ada bukti bahwa saya seorang penulis.” Namun wasiatnya tidak diindahkan. Sejumlah buku catatannya diselamatkan, kendati tidak semuanya. Dan lama sesudah kematian, diterbitkan, kendati banyak di antaranya yang diragukan kebenaran susunannya. Karena banyak halaman lepas yang tidak diberi nomor halaman. Sehingga harus disusun ulang berdasarkan tafsieran Max Brod.Yang unik, ketika Nazi Hitler berkuasa di Jerman belasan tahun kemudian, dan merenggut nyawa tiga adik perempuannya di kamp konsentrasi, Kafka memunculkan masalah baru. Para penguasa Nazi melakukan penyitaan terhadap karya-karyanya, dan memusnahkannya sebagian. Sesudah Zazi kalah dalam Perang Dunia kedua, seluruh dunia mengerahkan sebuah operasi besar untuk menelusuri karya-karya Franz Kafka.


Karya-karya gelap, yang sekali lagi, penuh gambaran berantakan, kalimat yang bagai meracau, struktur yang bertumpuk. Sebuah cara berkesusastraan yang menggemparakn, bahakn boleh dikata mengubah kesusastraan. Reiner Stach, penulis biografi Franz Kafka terakhir, menggambarkannya: “Saya selalu katakan, di kepala Kafka bagaikan ada bioskop yang selalu memutar film penuh khayalan. Jadi mungkin seperti orang yang di bawah pengaruh obat bius. Atau justru seperti orang yang sedang mengalami masa puber.”■


Sumber: Deutsche Welle

Filed under: Seni dan Budaya ,

YANG MUDA MELEK KE SUNDAAN

YANG MUDA MELEK KE SUNDAAN


KEKUATAN adalah (modal) kehidupan, sementara kelemahan adalah (penyebab) kematian atau kepunahan, kata Swami Vivekanda dari India. Begitu juga dengan etnik Sunda. Ketika Sunda – sebagai salah satu dari ratusan etnik di Indonesia – kuat dan kokoh, pasti akan terus eksis. Namun, sebaliknya. Ketika Sunda melemah, ia akan sekarat dan pasti mati. Bahkan akan tertimbun lapisan sejarah, dilupakan banyak orang. Sunda sebagai sebuah komunitas etnik, menyisakan aneka warisan kultural dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat; kendati, tidak seluruhnya warga di Jawa Barat bersuku Sunda.


Tiga Narasi Kultural

Urang Sunda zaman dulu tentu saja sangat berbeda dengan generasi Sunda kiwari. Setidak-tidaknya ada tiga narasi kultural yang berkembang pada masyarakat Sunda saat ini.


Pertama, narasi kultural yang diwakili masyarakat Sunda yang masih mikukuh falsafah hidup Ki Sunda. Mereka berada di pelosok-pelosok padusunan yang tidak ngeh dengan kebudayaan dari luar. Biasanya, komunitas urang Sunda seperti ini terdapat di lingkungan masyarakat adat, kampung yang jauh jaraknya dengan perkotaan, dan jika dekat dengan kota, mereka punya peraturan ketat untuk terus mikukuh adat-istiadat.


Kedua, narasi kultural yang diwakili oleh nonoman Sunda yang telah “melek” dengan kebudayaan luar. Generasi muda Sunda ini, lahir sebagai etnik Sunda, hidup di wilayah yang banyak dihuni aneka ragam kebudayaan, hingga membentuk pola pikir yang pluralis dan melahirkan laku yang menjauh dari ajen-inajen kesundaan. Mereka, biasanya, berasal dari pelajar sekolah, mahasiswa, dan kaum tua “yang gila” dengan ideologi kapitalisme yang dibawa arus globalisasi. Mereka terbuai oleh bujuk rayu globalisasi dan meminggirkan ajen-inajen kesundaan dalam hidup kesehariannya.


Ketiga, narasi kultural – anu dipikareuseup kuring – yang diwakili generasi Sunda yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan dunia, namun masih menyisakan kerinduan terhadap identitas kultural aslinya. Mereka memiliki pola pikir yang sama dengan generasi Sunda plural, karena melek dengan perangkat globalisasi (seperti HP, internet, video digital, komputer, note book, dan lain-lain); tapi punya kekhasan kultural seperti yang dipegang secara kukuh oleh masyarakat adat.


Istilah sosiologis untuk menyebut narasi ini oleh sosiolog kontemporer Roland Robertson (1992) disebut sebgai glokalisasi. Sebuah gerakan kultural generasi yang bisa memanfaatkan perangkat atau produk globalisasi untuk mengeksiskan identitas kebudayaan lokalnya, seperti menulis konten di website, web blog, dan media sosial di internet, dengan konten kebudayaan lokal. Mengapa itu harus terjadi? Sebab, perkembangan teknologi – seperti kehadiran komputer dan internet – menjadi keniscayaan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat lokal dalam mengeksiskan eksistensi etnik Sunda kepada dunia. Seperti yang dilakukan oleh seorang mahasiswa Unpad, dengan memprakarsai komputerisasi aksara Sunda agar diakui dunia. Itu merupakan ijtihad kebudayaan yang sekiranya kita rojong bersama guna menciptakan Sunda yang diakui eksistensinya oleh dunia.


“Sundamorfosis” Istilah “Sundamorfosis” memang bisa dibilang agak klise. Istilah ini masih bisa kita perdebatkan. Secara akademis, ilmiah, dan mungkin secara filosofis. Akan tetapi, daripada menghabiskan tenaga, mendingan para budayawan sepuh Sunda yang tidak suka dengan istilah ini, melakukan upaya-upaya penanggulangan. Ini dilakukan sebelum generasi muda Sunda bermetamorfosa ke arah laku lampah yang tidak mengindahkan falsafah hidup Ki Sunda. Boleh saja kita artikan Sundamorfosis sebagai perubahan meleknya urang Sunda pada falsafah kesundaan, sehingga mereka sadar akan jati diri kebudayaannya. Yang pasti, karena perkembangan zaman ke arah yang berbeda dengan Sunda baheula, menuntut kita untuk ngigeulan dan ngigeulkeun zaman. Sebab, Sunda – sebagai falsafah hidup – mesti miindung ka waktu, mibapa ka zaman.


Tidak terjebak romantisme sejarah masa kejayaan kerajaan Sunda saja, tetapi melihat ke depan (futuris) untuk merumuskan Sunda masa depan yang tetap diakui dunia. Sebab, kendati hidup di zaman yang dijibuni perkembangan teknologi dahsyat, justru bakal ada generasi yang menyadari bahwa ia telah melupakan kebudayaannya. Alhasil, muncul gerakan-gerakan kesundaan dalam wajahnya yang baru. Neo-Sunda istilahnya. Anda boleh setuju atau tidak. Terserah! Jadi, kita jangan hanya pandai mencipta generasi yang Arabmorfosis dan Inggrismorfosis saja. Sementara, keaslian jati diri urang Sunda tumpur oleh dalih Indonesiamorfosis. Tapi, untuk Indonesiamorfosis bagi generasi muda Sunda memang harus diperhatikan. Sebab, kita yang tinggal di tatar Sunda adalah warga negara yang setia. “Sundamorfosis memang menarik untuk kita arahkan pada jalur yang semestinya dilalui, yakni pengaktualisasian nilai-nilai kesundaan dalam hidup keseharian untuk menyumbang pemikiran bagi bangsa Indonesia.


Mudah-mudahan – sebagai generasi muda Sunda – kita bisa bermetamorfosa hingga menyadari bahwa kearifan lokal ditatar Sunda terserak dan harus mulai kita punguti kembali. Dan, setelah dipunguti, tidak membuangnya ke tong sampah. Tapi, disakuan dina ati sanubari, agar laku dan kata kita saluyu dengan ajen-inajen kesundaan yang diwariskan Ki Sunda. Saya berharap para inohong, nonoman, dan kokolot Sunda bekerja ekstra keras mendidik generasi muda agar tercipta komunitas barudak ngora yang melek kesundaan. Dan, tidak anti-perubahan guna memberikan sumbangsih pemikiran untuk bangsa ke depan.■

Filed under: Seni dan Budaya ,

Photobucket

Pemimpin Redaksi

Zaldy Munir - Photography Jurnalistik & Penulis Fiksi

Kalender Hijriah

Pesan Sang ILAHI

DAN Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sesekali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fatir [35] ayat 11)
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Q. S. Lukman [31] : 10)
SESUNGGUHNYA setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Susungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. An Nahl [16] ayat 99 – 100)

Pesan Sang Penyair

Cinta memberi kesia-sian, tetapi mengambil kesi-siaan juga Cinta tidak akan memiliki, kecuali bila cinta dimiliki Karena cinta tidak cukup hanya Untuk cinta. (Kahlil Gibran)
OLEH cinta pribadi kian abadi Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau Dari cinta menjelma pancaran wujudnya Dan perkembangan kemungkinan yang tak diketahui semula Fitrahnya mengumpul api dari cinta Cinta mengajarinya menerangi alam semesta Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati Cinta tidak berasal dari air dan bumi Cinta menjadikan perang dan damai di dunia Sember hidupyalah kilau pedang cinta. (Muhammd Iqbal)
CINTA itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusi, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuh oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur di sana tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. (HAMKA)

Ruang kampanye

Community

http://iwanfalsmania.blogspot.com

Page Rank

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Google bot last visit powered by Gbotvisit.com Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com

Banner

Kalender Masehi

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Ruang Kampanye

Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Yang masuk nggak ngucapin SALAM...

Pengunjung

  • 33,190 hits

Pengunjung

free counters

Ruang Kampanye

Supporters

100 Blog Indonesia Terbaik
Indonesian Muslim Blogger Blogger Indonesia

Jadwal Shalat