The INDEPENDEN'S – Weblog

Icon

JUJUR, TERBUKA & APA ADANYA

MENGAMBIL PELAJARAN DARI BERBAGAI KISAH PARA NABI

MENGAMBIL PELAJARAN DARI BERBAGAI KISAH PARA NABI

Oleh : Zaldy Munir

UMAT terdahulu telah mengalami begitu banyak bencana alam yang dahsyat diakibatkan mereka menolak kebenaran dan tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan tidak pula menjauhi larangan-larangan-Nya. Kemaksiatan dan kedurhakaan menjadi sesuatu yang sangat digemari.

Orang-orang yang berkuasa berbuat zalim, sedangkan rakyat jelata berpaling dari kebenaran. Yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan, sehingga datanglah teguran dan kemurkaan Allah. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat yang sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. (QS. Yunus [10] : 13).

Selain itu, marilah kita menoleh sejenak kepada apa yang terjadi di zaman nabi terdahulu, di antaranya Nabi Nuh as. Nabi Nuh as berdakwah di tengah kaumnya yang ingkar kepadanya, namun hanya sedikit sekali yang mau mengikuti seruannya untuk mentauhidkan Allah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-A’raf [7] : 59-60).

Lalu setelah umatnya menentangnya dan tidak mengindahkan seruan dakwahnya, Allah SWT berfirman: “Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)” (QS. Al-A’raf [7] : 64).

Maka jelaslah bagi kita bahwa ayat-ayat Alquran telah menjelaskan begitu banyak peristwa, dan hendaknya kita mau mengambil pelajaran di dalamnya. Janganlah kita menjadi kaum yang dikecam Allah SWT dalam Alquran, yaitu kaum yang tidak mau mengindahkan peringatan-peringatan yang telah terjadi dan pasti dapat berulang kembali kejadiannya di tempat berbeda dan umat yang berbeda pula akibat kelalaian dan mempermainkan ayat-ayat Allah SWT.

Sementara di tengah kita saat ini, berbagai kekufuran dan keingkaran pun telah dilakukan umat manusia. Dosa-dosa dan kemaksiatan bertebaran di tengah masyarakat dan dilazimkan oleh generasi penerusnya, sehinggga seruan agama tidak dihiraukan. Agama mulai jadi bahan olok-olokan, senda-gurauan dan bahkan ada pula yang lantang menetang kesucian Islam, memelintir ayat-ayat Alquran, menyerang keyakinan umat Islam dengan segala pemikiran-pemikiran yang diada-adakan.

Bahkan, sejumlah media menyiarkan turut pula menjadi corong kemaksiatan, corong propaganda kerusakan moral dan akhlak. Seruan dakwah dilawan sebagaimana menghadapi musuh besar, padahal dakwah amar ma’ruf nahi munkar betujuan salah satunya menjauhkan manusia dari liang kehancuran dan menyelamatkan manusia dari kemurkaan Allah SWT.

Janganlah sampai kita menghadapi apa yang Allah SWT ingatkan dalam firman-Nya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6] : 44).***

Filed under: Rohani , , , , , , , , , ,

HIKMAH SAKIT BAGI MANUSIA

HIKMAH SAKIT BAGI MANUSIA

Oleh : Zaldy Munir

“Tidaklah orang Muslim ditimpa cobaan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan keburukannya, sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.”

(HR. Bukhari-Muslim)

SETIAP orang pasti pernah mengalami sakit. Rasulullah SAW sendiri mengalami sakit demam berat. Namun begitu Nabi tetap sabar dan tabah. Beliau mengatakan kepada Ibnu Mas’ud ra, bahwa penyakit yang datang ke dalam tubuh seorang Muslim itu dapat menggugurkan dosa sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.

Dalam waktu lain, Rasulullah menjenguk Salman al-Fahrisi yang tengah berbaring sakit. Rasulullah bersabda. “Sesungguhnya ada tiga pahala yang menjadi kepunyaanmu dikala sakit. Engkau sedang mendapat peringatan dari Allah SWT, doamu dikabulkan-Nya, dan penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa-dosamu.”

Rasulullah pun melarang untuk mencela penyakit. Ketika Ummu Saib sakit demam dan mencela penyakit yang menimpanya, Nabi bersabda. “Janganlah kamu mencela demam. Karena sesungguhnya demam itu menikis kesalahan anak cucu Adam sebagaimana bara api mengikis keburukan besi.” (HR. Muslim)

Hikmah Sakit

Dalam sebuah buku yang berjudul Yasalunaka fi al-Dinwa al-Hayat dan dikutip dalam Tabloid Syiar, Dr. Ahmad al-Syurbasi menulis ada lima hikmah dari sakit yang dialami manusia. Pertama, sakit merupakan kesempatan untuk beristirahat. Kecendrungan manusia saat sehat adalah memperlakukan tubuhnya laksana robot. Ia terus bekerja demi mengejar kenikmatan dan kesenangan materi tanpa henti dan tanpa memperhatikan kesehatan diri sendiri. Ia tidak menyadari bahwa otot-otot yang ada dalam tubuhnya memiliki keterbatasan.

Maka ketika seseorang sakit, ia memperoleh kesempatan untuk beristirahat, sambil melakukan introspeksi dan berpikir untuk memperbaiki pola hidupnya setelah ia sembuh nanti.

Kedua, sakit merupakan pendidikan. Ketika seseorang sakit parah, ia akan memahami betapa mahalnya nilai kesehatan. Ia pun rela mengeluarkan segala yang ia miliki demi kesembuhan penyakitnya.

Ketika seseorang sakit, ia akan meresakan betapa nikmatnya selalu ditemani, dilayani, disediakan makanan, dan yang paling nikmat dihibur. Maka, setelah sembuh nanti, ia akan tahu apa yang harus ia lakukan ketika orang lain yang sakit.

Ketiga, sakit merupakan teguran atas kesombongan manusia. Ketika sehat, manusia terkadang bertingkah seolah-olah dialah yang paling gagah, paling berkuasa dan paling berpengaruh. Tapi ketika sakit menderanya, segagah apapun menusia, sebesar apapun manusia dan sebesar apapun pengaruhnya, ia tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Ketika itu, ia tidak lebih dari seonggok tulang dan darah yang dibungkus kulit.

Keempat, sakit merupakan kesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh yang saleh, orang sejahat apapun ketika sakit parah tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya tidak ringan lagi. Mulutnya tak mampu mencacimaki lagi. Yang ada hanyalah penyesalan dan penyeselan.

Di samping itu, sakit yang diderita manusia merupakan kesempatan untuk memohon ampun atas dosa-dosanya. Dalam hadits diterangkan. “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan dan keruwetan hidup, atau bahkan tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Muttafaq Alaih).

Kelima, sakit merupakan kesempatan untuk memperbaiki hubungan keluarga dan sosial. Ketika seseorang sakit, kerabat dekat akan semakin dekat, kerabat jauh akan menjadi dekat dan yang kenal akan semakin akrab. Ketika seorang anak sakit, orang tua akan semakin sayang dan perhatian terhadap anaknya. Sebaliknya, ketika orang tua sakit, sang anak akan semakin sayang dan hormat kepada orang tuanya.

Alangkah mulianya Allah yang telah meciptakan segala-galanya tanpa sia-sia. Hanya satu sakit yang Dia timpakan kepada manusaia. Akan tetapi, begitu banyak kebaikan yang dikandungnya. Kebaikan bagi si sakit yang sabar, kebaikan bagi orang tua dan keluarga yang melayani, kebaikan bagi masyarakat yang berbondong-bondong menjenguk, kebaikan bagi semua doa yang terucap.

Filed under: Rohani , , , , , , , , ,

LESTARIKAN PREDIKAT TAKWA

LESTARIKAN PREDIKAT TAKWA

Oleh : Zaldy Munir

foto-17HARAPAN terbesar bagi setiap Muslim adalah diterimanya amal ibadah, baik ibadah yang bersifat individu, maupun yang bersifat sosial. Target akhir dari ibadah puasa yang diwajibkan Allah kepada umat Islam, adalah mencapai predikat takwa, seperti yang tersurat dalam Alquran. “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Keberhasilan insan Muslim menjalankan ibadah puasa terlihat di luar Ramadhan. Insan yang sungguh-sungguh melaksanakan amaliyah Ramadhan berupaya mengamalkan nilai-nilai puasanya di luar Ramadhan. Artinya, keberhasilan insan-insan yang berpuasa bukan pada Ramadhan, tetapi sebelas bulan setelah Ramadhan. Kalau ia berhasil, ia menjadi insan yang bertakwa dengan sebenar-benarnya.

Ciri-ciri insan takwa dicantumkan dalam firman Allah SWT. “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan manginfakankan sebagian rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah [2] : 3 ).

Dengan menjadi insan yang bertakwa, maka yang berhasil dalam melaksanakan ibadah puasa, ia akan peduli kepada fakir miskin, dhuafa. Bahkan, ayat lain yang menyebutkan, insan takwa itu selalu menginfakkan hartanya dikala sempit maupun keadaan lapang. Artinya, orang yang berpredikat takwa ia mudah untuk berbagi hartanya.

Predikat takwa yang dicapai insan yang berhasil dalam menjalankan ibadah puasa ditandai dengan kepekaan sosialnya yang sangat tinggi. Ia bisa merasakan pendiritaan insan lain, khususunya yang fakir miskin bukan hanya pada saat puasa, tetapi justru setelah ia berpuasa.

Itu sebabnya puasa ramadhan selalu ditutup dengan zakat fitrah. Perintah mengeluarkan zakat dalam Alquran, seringkali menggunakan istilah sedekah dan zakat, yang dalam pengertian sehari-hari juga disebut infak.

Zakat, secara etimologi, berasal dari kata dasar (fi’il madhi) zaka, yang berarti tumbuh dan berkembang (zakatal-zahar: tanaman itu telah tumbuh berkembang), bertambah kebaikannya (fulan zak:orang yang bertambah kebaikannya), menyucikan (qad aflaha man zakkaha : beruntunglah orang-orang yang mampu menyucikan jiwanya), seraya menyanjung (fala tuzakku anfusakum : janganlah kamu sekali-kali menyanjung dirimu sendiri.

Secara terminologi, Sayyid Sabiq mendefinisikan zakat sebagai suatu predikat untuk jenis barang yang dikeluarkan manusia, sebagai hak Allah, untuk dibagikan kepada fakir miskin. Definisi serupa juga dikemukakan oleh Muhammad Zuhri Al-Ghamrani, yaitu bentuk predikat untuk suatu barang dalam kadar tertentu yang dikeluarkan guna menyucikan harta dan jasmani manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka ….” (QS. At Taubah [9] : 103)

Insan takwa juga senantiasa memiliki keinginan untuk mengajak insan lain masuk surga. Ia tidak ingin sendirian. Surga itu tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Surga dunia adalah bebas dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketimpangan sosial, penindasan, dan sebagainya.

Dengan adanya konsep zakat inilah yang ada pada Islam ditunjukan untuk saling mengasihi dan membantu saudaranya yang secara ekonomi kurang mampu (miskin). Sedangkan bagi mereka yang miskin dituntut untuk berusaha mencari kehidupan dengan cara yang halal dan tidak mengemis kepada orang lain.

Dengan cara seperti inilah masyarakat miskin tersebut tetap terjaga harga dirinya. Sehingga tercipta suatu keseimbangan hidup, tanpa adanya penindasan dan kebencian dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Filed under: Rohani , , , , , , , , ,

GERAKAN SOSIAL MUSLIM (Dalam Gerakan dan Dakwah Islam di Indonesia)

GERAKAN SOSIAL MUSLIM

(Dalam Gerakan dan Dakwah Islam di Indonesia)

Oleh : Zaldy Munir

                       

 

SETELAH sedemikian lama bergerak di bawah permukaan, Islamisasi politik kembali muncul pada momen yang sangat tepat, fase transisi demokrasi di Indonesia. Islam politik massa orde Baru, aktivisme Islam politik mengalami proses marjinalisasi dan politik ekslusi. Islam politik saat ini digerakkan oleh semangat dakwah yang menjadi penanda baru bagi kemunculan Islam politik. Lahirnya partai-partai Islam baru dan menculnya peraturan-peraturan dibeberapa daerah yang berbasiskan syari’ah Islam juga menandakan bahwa bagaimana besarnya pengendapan yang pernah terjadi di massa lalu.

 

Kebangkitan dalam konteks kemunculan Islam politik di Indonesia saat ini, sama artinya dengan proses kemunculan kembali wacana berbasis religio-pilitik yang telah lama terbungkam oleh gelombang besar sekularisasi dan meodernisasi yang mengansumsikan pembatasan ruang bagi agama. Di tengah pluralitas ekspresi wacana Islamisasi di Indonesia mereka bangkit untuk merealisasikan suatu tujuan politis: menegakkan syari’at Islam dan menciptakan masyarakat islami di Indonesia.

 

Penulis menggunakan istilah Islamisme untuk menunjukan individu maupun kelompok yang menempatkan identitas ke-Islamannya sebagai sentrum dalam berbagai aktivitas politik mereka. Basis politik identitas yang mereka perjuangkan, mendapat referensi dari penafsiran mereka terhadap kehidupan umat Islam. Tulisan ini tidak menggunakan berbagai definisi mengenai kebangkitan Islam politik saat ini, seperti Islam fundamentalis, Islam radikal mengingat begitu kuatnya stigma negatif yang melekat dalam istilah tersebut.

 

Terminologi Islamisme yang dimaksud merupakan terminologi yang tepat untuk menjelaskan fenomena kekuatan Islam yang bangkit akhir-akhir ini. Di mana mereka sama-sama memiliki tujuan yang sifatnya politis untuk membentuk tatanan sosial dan politik berbasis ajaran, nilai-nilai maupun norma Islam yang dapat dipersatukan oleh “common platfrom” pemberlakuan syari”at Islam dalam kehidupan publik.

 

Hubungan Antara Islam dan Politik

Sebelum penulis menguraikan lebih jauh dinamika gerakan dakwah Islamisme di Indonesia saat ini adalah penting untuk memahami lintas perjalanan diskursus Islamisme secara umum. Pemahaman terhadap perkembangan ideologi islami ini menjadi penting agar kita tidak terjebak dalam pandangan essensialisme yang melihat wacana Islamisme sebagai wacana yang statis. Pemahaman secara hati-hati terhadap pekembangan wacana Islamisme ini akan menunjukan pada kelenturan wacana Islamisme untuk beriteraksi dan berhibridasi dengan perkembangan-perkembangan politik baru. Maka terlebih dahulu bagian ini menguraikan bagaimana diskursus Islamisme mendefinisikan hubungan antara Islam dan politik.

 

Seperti halnya diskursus politik liberalis mau pun sosialisme, Islamisme memiliki berbagai variasi dan artikulasi. Islamisme merupakan diskursus yang menempatkan Islam sebagai pusat dalam tatanan politik. Pemahaman terhadap relasi antara kaum Islamis dengan diskursus Islamisme dapat dilihat dari bagaimana kalangan Islamis mentaransformasikan Islam menjadi narasi utama dalam ruang politi sehari-hari. Slogan yang dikumandangkan bahwa Islam sebagai solusi merupakan upaya dari kalangan Islamis membangun hegomoni dalam diskursus diruang politik dengan menempatkan Islam sebagai acuan utama tempat bagi rujukan dari setiap diskursus yang ada.

 

Menurut Sayyid, upaya kaum Islamis untuk memperjuangkan Islam sebagai pusat rujukan dalam ruang publik bergerak dalam tiga ranah, yaitu pada ranah Islam sebagai ad-din (keyakinan), Islam sebagai ad-dunya (jalan hidup), dan Islam sebagai ad-dawla (tatanan politik). Setiap proyek Islamis berusaha untuk menempatkan Islam sebagai penenda utama (master signifier) pada tiga ranah tersebut. Sehingga dalam konteks pemaknaan Islam terdapat berbagai spektrum yang beragam dalam upaya kaum Islamis untuk menempatkan Islam sebagai penenda utama. Artikulasi perjuangan politik Islamisme ini, memiliki spectrum yang beragam. Jalur yang dapat ditempuh oleh kaum Islamis ini tersebar mulai dari upaya penaklukan negara melalui jalur revolusi maupun melalui pembentukan hegemoni moral dan intelektual untuk mempengaruhi wilayah civil society.

 

Komitmen terhadap penempatan Islam sebagai pusat dari artikulasi politik ini merupakan inti utama dari wacana Islamisme. Gerakan Islamisme berusaha memformulasikan Islam sebagai suatu ideologi politik. Konstruksi pengetahuan Islamis mendefinisikan masyarakat Islam tidak hanya berarti kumpulan orang beriman, namun lebih dari itu adalah suatu tatanan masyarakat yang mendefinisikan melalui sifat kekuasaan politiknya. Masyarakat Islam dalam konstruksi pengetahuan Islamis merefleksikan kesatuan komunitas beriman di bawah keesaah Tuhan, wacana Islamisme berusaha untuk memahami kompleksitas kehidupan masyarakat untuk dikembalikan dalam ketundukan terhadap paradigma keesaan Tuhan.■

Filed under: Rohani , , , , , , , , ,

KUNCI HIDUP BAHAGIA, BERSABARLAH !

KUNCI HIDUP BAHAGIA, BERSYUKURLAH !

Oleh : Zaldy munir

SETIAP orang tentu selalu berharap hidup didunia dengan bahagia. Sebagian orang menganggap Kebahagiaan itu mungkin akan didapatkan apabila semua kebutuhan terkait dengan materi bisa tercukupi, semua keinginan mereka akan terkabulkan. Dengan uang banyak mereka akan bisa memenuhi kebutuhan yang bersifat jasmani, bisa membuat rumah mewah, mempunyai mobil bagus, istri cantik/suami ganteng dan kebutuhan jasmani lainnya tercukupi.

Mungkin itulah gambaran sebagian besar orang tentang hidup bahagia itu. Tapi bagi “sedikit” orang, dari kaca mata mereka kebahagiaan hidup adalah kebahagian hati, bukan semata kebahagiaan jasmani.

Hidup akan bahagia jikalau kita merasa nyaman dan tenang dalam menikmati hidup ini, walaupun mungkin dengan segala keterbatasan materi. Hidup akan terasa nyaman jika kita bisa menerima apapun rezeki yang telah kita peroleh dari yang kuasa. Sekecil apapun rezeki yang kita terima harus selalu disyukuri karena kita yakin kalau rezeki manusia itu tidak akan tertukar satu sen pun antara satu dengan lainnya dan rezeki itu sudah ditulis dan diatur sebelum kita dilahiran di dunia.

Kita pernah mendengar ceramah Aa Gym yang sering menganalogikan cicak yang makananya nyamuk, cicak tidak bisa terbang sedangkan nyamuk bisa terbang, tapi ternyata cicak tetap bisa mendapatkan makananya, yaitu nyamuk dan mungkin belum ada cicak yang mati kelaparan karena tidak mendapatkan nyamuk seharian. Kita harus yakin bahwa Tuhan sudah mengatur rezeki kita, akan datang pada saat yang tepat.

Yang perlu diingat, Bersyukur bukan berarti pasrah, bahkan Allah sendiri telah mengatakan bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut mau mengubahnya sendiri. Artinya rezeki tidak akan didapat kalau kita hanya berpangku tangan, berdoa setiap hari tanpa melakukan usaha.

Dengan bersyukur hati ini akan semakin tunduk dan patuh menaati perintah Allah, karena kita akan semakin pasrah apapun yang akan diberikan Allah kepada kita. Kita tidak akan tersiksa dengan keinginan kita yang tidak akan merasa puas dengan apa yang telah kita terima. Karena pada dasarnya sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas dan selalu menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang telah kita terima.

Di dunia ini manusia hanya ikhtiar dan berusaha semaksimal mungkin, dan Allah-lah yang akan menentukan hasilnya. Allah tentu tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha yang telah kita lakukan, Allah akan memberikan apa yang telah kita usahakan. Dan yang terpenting,kita harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah bahwa usaha yang telah kita lakukan pasti akan mendapat sesuatu yang memuaskan, karena Allah akan berkehendak sesuai dengan prasangka dari hamba-Nya.Dan Allah akan memberi kita yang terbaik, walaupun kadang-kadang menurut kita itu bukan yang terbaik buat kita Yakinlah jika ALlah lebih tahu apa yang terbaik buat kita dan suatu saat nanti kita akan sadar kalau yang menurut kita tidak baik dahulu ternyata sekarang memang merupakan yang terbaik buat kita.

Mudah-mudahan dengan bersyukur hati kita akan semakin bahagia dan menikmati hidup ini. Kita tidak akan tertekan untuk mengumpulkan harta/materi yang sebanyak-banyaknya yang justru akan membuat hati kita tertekan dan tidak nyaman yang pada akhirnya akan membuat hati kita stress. Padahal harta tersebut akan dipertanggungjawabkan kelak diakhirat, dari mana asalnya, bagaimana cara memperolehnya dan digunakan untuk apa. Dan kita mati tidak akan membawa satu rupiah pun, bahkan harta yang kita tinggalkan mungkin akan memberatkan kita ketika menghadap Allah karena mungkin harta kita digunakan oleh ahli waris untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran islam.

Bahagialah orang-orang yang selalu bersyukur dan menerima apapun yang telah diberikan Allah tanpa harus mengeluh dengan rezeki yang dimata kita kelihatan “sedikit”. Semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur.

Filed under: Rohani , , , , , , , , , ,

MENGENAL DAN MENELADANI PRIBADI NABI MUHAMMAD SAW

MENGENAL DAN MENELADANI PRIBADI NABI MUHAMMAD SAW

Oleh : Zaldy Munir


NABI Muhammad Rasulullah SAW, merupakan pribadi mulia yang menarik untuk ditulis, dibaca, dan didiskusikan, sepak terjang dan keteladanannya. Pribadi paripurna itu menampilkan multikompleks sebagai politisi, negarawan, orator, pendidik, sekaligus pemimpin revolusioner besar di muka bumi ini.


Muhammad bin Abdullah lahir di kota Mekkah, 12 Rabiu’ul Awal 571 H – 20 April 571 M dikenal tahun Gajah. Lelaki itu bergelar ‘al-amien’ lahir dari keluarga miskin materi, ‘berdarah biru’ dari keluarga terhormat dan terkemuka. Pribadi mulia itu ditinggal wafat ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib ketika masih dalam kandungan dan ibunya Aminah pun wafat ketika ia masih usia dini (6 tahun).


Di usianya yang semestinya membutuhkan belaian kasih sayang orang tua, tidak didapatnya. Pada tahap perkembangan usia anak-anak justru ikut berniaga sampai ke negeri Syam. Dalam konteks kekinian, anak seusia Nabi itu masih bergantung kepada orang tuanya dihadiahi tumpukan materi.


Jika ditarik dalam kehidupan kekinian anak-anak perkotaan masih dimanjakan dengan gaya hidup hedonis. Tidak terbiasa dengan kegiatan ekonomi mambantu orang tua sebagai proses pembelajaran (baca, pendewasaan) tidak terjadi.


Dalam kapasitasnya sebagai individu, warga masyarakat (warga negara), beliau mampu menempatkan dirinya untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan kejujuran. Beliau diberikan gelar al-amin atau dapat dipercaya.


Sebagai nabi, ia telah memberikan contoh bagaimana memberikan teladan, mendidik, dan mengarahkan para sahabatnya-sahabatnya agar senantiasa selalu berada di jalan Allah SWT. Pada diri Rasulullah melekat sifat-sifat siddik, tabligh, amanah, dan fathanah.


Sebagai seorang pendidik, beliau mentransformasikan ilmu yang dimilikinya dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Dalam hal ini, Rasulullah SAW sangat teliti dalam mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepada para sahabatnya.


Sebagai seorang pemimpin umat, beliau telah memberikan contoh, bagaimana cara memimpin yang baik dalam berbagai situasi. Beliau selalu mendelegasikan tugas dan kewenangan-kewenangan kepada para ahlinya.


Sebagai pemimpin yang sukses, Rasulullah SAW, telah berhasil membawa umatnya menjadi umat yang terbaik di muka bumi ini. Adalah sangat pantas jika beliau ditempatkan pada peringakat pertama dalam seratus tokoh berpengaruh di muka bumi ini.


Dalam meneladani kehidupan Rasulullah SAW, yang terpenting adalah bagaimana kita mampu bertindak, berpikir, memimpin orang dan berprilaku dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Apa yang dicontohkan Rasulullah adalah kesempurnaan perilaku yang sudah sepatutnya ditiru oleh kita sebagai umatnya dan dijadikan semangat bagi kita untuk terus maju dan berprestasi.


Lalu, apakah perilaku kita selama ini telah meniru keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW atau tidak? Apakah kita juga mempunyai semangat untuk terus maju dan berprestasi dalam berbagai bidang? ■

Filed under: Rohani , , , , , , , , , ,

ISLAM DAN KEDILAN SOSIAL

ISLAM DAN KEDILAN SOSIAL

Oleh : Zaldy Munir


ZAMAN yang penuh dengan kompetisi dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti dewasa ini, sering terjadi perdebatan dibidang ideologi, prinsip, politik dan sebagainya. Umat Islam di seluruh dunia memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan umat manusia tanpa ada diskriminasi terhadap status sosial.


Islam adalah satu sistem hidup yang sempurna, tegak di atas sendi-sendi yang kokoh. Sendi-sendi itu berkaitan dengan realitas hidup dan tidak bersikap apatis kepada tabiat dan tataran masyarakat. Pada segala aspek kehidupan ini, Islam memformulasikan antara moral dan aspek material.


Setiap insan muslim selamanya akan merasa berhubungan langsung dengan tuhannya pada setiap gerak dan aktifitas yang dilakukan. Ia pelaksana ajaran-ajaran Islam. Ia tidak lalai dan tidak durhaka. Ia tidak sombong dan tidak zolim. Ia memiliki moral yang menjadi alat guna menyucikan dan menumbuhkan materialnya, karena Islam agama kesimbangan dan sesuai dengan fitrah dan tabiat manusia. Ia mampu memakmurkan bumi ini dan memenangkan kebenaran.

Islam memberikan bimbingan kepada manusia pada setiap lapangan hidup. Orang yang menjalankan bimbingan itu dialah manusia yang hakiki, yakni manusia yang memperoleh hidayah Ilahi. Aspek kemasyarakatan dalam Islam sama halnya dengan aspek akidah dan ibadah dalam agama itu sendiri.


Sedangkan orang yang tidak mau menerimanya berarti ia tidak mau menerima agama itu secara totalitas. Karenanya Islam memandang hubungan yang terjadi antara individu dan masyarakat sama artinya dengan hubungan yang terkait dengan Akidah dan Ibadah. Islam telah merealisir sejak 14 abad yang lalu.


Pengertian Jaminan Sosial

Islam anti terhadap perbudakan, sosialime (paham barat), kapitalisme dan faham-faham sekuler lainya. Allah SWT menciptakan manusia terlahir dengan berbagai macam status sosial, ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Dengan keadaan seperti ini Allah hendak menguji umat manusia, bukan bertujuan untuk memecah belah serta saling membenci antara satu dengan yang lainnya.


Dalam hal ini orang yang dikaruniai harta kekayaan, ia dituntut melaksanakan kewajiban untuk mengeluarkan zakat atas harta yang diperoleh serta harta yang dimilikinya selama ini. Konsep zakat inilah yang ada pada Islam ditunjukan untuk saling mangasihi dan membantu saudaranya yang secara ekonomi tidak mampu. Sedangkan bagi mereka yang miskin dituntut untuk berusaha mencari kehidupan dengan cara yang halal dan tidak mengemis kepada orang lain.


Dengan cara seperti inilah masyarakat miskin tersebut tetap menjaga harga dirinya. Sehingga tercipta suatu keseimbagan hidup, tanpa adanya penindasan dan kebencian dalam hungan manusia dengan manusia lainnya.


Konsep ajaran Islam terhadap jaminan sosial telah diterapkan jauh sebelum tokoh-tokoh sosialis barat menuntut akan hal itu. Konkretnya, Khalifah Abu Bakar melaksanakan ketetapan ini dalam tindakan beliau dalam memerangi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat atas hartanya.


Jaminan sosial itu adalah suatu pengerat dalam solidaritas Islam. Sehingga setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab terhadap tatanan masyarakat ideal serta yang diridhoi Allah SWT, tanpa adanya ketimpangan sosial. ■

Filed under: Rohani , , , , , , , , , ,

MASJID SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN UMAT ISLAM

MASJID SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN UMAT ISLAM

Oleh : Zaldy Munir


MASJID adalah pusat umat Islam. Ia mesti melambangkan kesyumulan atau keluasan agama, berfungsi membangunkan umat di sudut kerohanian dan fisikalnya. Memasuki masjid berarti melangkah ke kawasan yang melambangkan ketulusan, kemesraan, kerahmatan dan kesyumulan agama.


Dalam kesibukan urusan kehidupan, umat Islam diperintahkan singgah lima kali sehari di masjid demi mengambil tenaga dan meneruskan agenda perjungan sebagai khalifah pemimpin dunia. Dengan demikian, maka muncullah dalam diri setiap individu muslim dengan kekuatan yang luar biasa, gabungan antara unsur langit dan bumi, atau kerohanian dan kebendaan.


Sepanjang sejarah, masjid merupakan benteng untuk mempertahankan kehormatan agama Islam yang suci. Para pribadi agung, seperti Rasulullah Saw berserta para sahabat setianya, merupakan para pejuang yang senantaisa mempertahankan kehormatan Islam. Mereka merupakan suri teladan kecintaan, peribadatan, dan ketundukan pada Tuhan Semesta Alam. Selain itu, masjid mengingatkan ketundukan, kerendahan diri, peribadatan, dan penghambaan kepada Allah Swt.


Hati seorang mukmin sejati merupakan benteng pertahanan dalam menghadapi kaum musyrik dan kaum tak beragama; di mana, siang-malam, dia beberapa kali berdiri menghadap Allah di masjid. Rasulullah Saw dan para pribadi suci menegaskan agar shalat dilakukan secara berjamaah. Mereka juga senantiasa menjalankan dan mempertahankan ibadah nan agung ini.


Di masjid, manusia menundukan tubuh untuk bersujud. Inilah puncak penghambaan dan prendahan diri di hadapan Allah Swt, sebagaimana ditegaskan Rasulullah Saw. ”Sujud merupakan puncak penghambaan anak keturunan Adam.” Di samping bersujud, berbicara, dan berdialog, menyebut nama Allah juga amat ditekankan. ”…Dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah…” (Al-Hajj [22] : 40). Keindahan bersujud dan menyebut nama Allah adalah mengucapkannya dengan tulus dan murni, sebagaimana disebutkan dalam Alquran. ”…Dan (katakanlah), ”Luruskan muka (diri)mu disetiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya…”. (Al-A’raf [7] : 29)


Para Pembenci Masjid

Biasanya, orang yang membenci masjid adalah kafir dan pemimpin yang zalim. Orang-orang semacam itu beranggapan bahwa masjid bertengangan dengan kepentingannya.


Dalam hal ini, sebuah pemerintahan punya kukuasaan besar untuk melemahkan atau memperkuat peran masjid di tengah masyarakat. Dapat kita saksikan sepanjang sejarah bahwa berbagai masjid berperan besar dalam melemahkan kekuatan para penguasan zalim; juga mendorong masyarakat agar bangkit melawan mereka. Karenanya, masjid dan orang yang senantisa hadir di situ menjadi musuh besar mereka yang membenci masjid. Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya, dengan menyebut mereka yang membenci masjid sebagai orang-orang zalim.


”Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam manjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutunya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (Al-Baqarah [2] : 114). ■

Filed under: Rohani , , , , , , , , , ,

HATI ADALAH CERMIN

HATI ADALAH CERMIN

Oleh : Zaldy Munir


foto-22HATI adalah cermin pribadi setiap manusia. Lalu, cermin modal manakah yang kita miliki dalam hati kita? Apakah hati kita bersih laksana cermin yang berkilau sehingga manantulkan perbuatan yang baik, ataukah malah kotor dan buram yang membuat kita selalu buruk? Hal ini sepertinya tergantung bagaimana kita merawat cermin hati yang kita miliki.


Bila kita selalu menjaga hati agar selalu bersih dan bening, maka cerminan perbuatan yang muncul pun akan selalu baik dan benar. Sebaliknya, kalau selalu membiarkan cermin hati kita kotor, dengan hiyasan perbuatan buruk kita, maka pantulan kaca hati kita pun menjadi buram.


Empat Sifat hati

Iman Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengemukakan bahwa di hati manusia berkumpul empat sifat. Sifat Sabu’iyah (kebuasan), bahimiyah (kebinatangan), syaithaniyah (kesetanan), dan rabbaniyah (ketuhanan). Masing-masing sifat itu bisa saling mengalahkan, tergantung dari manusia itu sendiri.


Kalau sifat rububiyahnya yang menang, akan timbul sifat manusia itu menjadi baik. Seperti mampu menahan hawa nafsu, qana’ah, iffah, zuhud, jujur, tawadhu, dan sejumlah sifat baik lainnya.


Manusia dengan hati yang demikian itu, senantiasa mengingat Allah. Dengan demikian, jiwanya selalu tenang dan tentaram. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenram dengan mengingat Allah. Ingatlah , hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Rad [13] : 28). Inilah hati orang-orang yang beriman. Tidak ada kebencian, kedengkian, kesombongan, dan penyakit hati lainnya yang bersarang di dadanya.


Seperti dikatakan Rasullulah dalam sebuah Hadits. “Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar. Maka, itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik, maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR. Ahmad dan Thabrani).


Sementara hati yang kotor, tentunya mencerminkan perbuatan yang kotor pula. Inilah orang-orang kafir. Segala perbuatan yang dilakukannya selalu jelek dan bertentangan dengan perintah Allah. Hal ini terjadi karena cermin dari hati yang kotor itu. Akibatnya, mamantul kepada perbuatannya.


Alquran menyebutkan, hati mereka telah terkunci dengan kebenaran. Bagi mereka, dinasehati atau tidak, sama saja. Selalu yang dilakukan perbuatan buruk. Karena cermin hatinya telah terkunci dengan kotoran. “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang sangatt berat .” (QS. Al-Baqarah [2] : 6-7)


Sedangkan orang-orang munafik, di hati mereka terdapat penyakit. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyekitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka dusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 10-12).


Begitulah fenomena sebuah hati, yang merupakan cermin bagi setiap tindak-tanduk manusia. Bila cermin itu bening, maka yang memantul adalah perbautan baik. Sebaliknya, bila hati itu kotor maka yang muncul adalah suara atau perbuatan jelak dan kemaksiatan.


Dengan demikian, ketika ada orang yang mengatakan ‘hati nurani adalah suara kebenaran,’ itu tidak selalu benar. Ini tergantung dari hati nurani siapa dahulu. Kalau hati nurani orang-orang yang beriman, itu memang suara kebenaran. Akan tetapi, kalau hati nurani orang kafir atau orang munafik, itu pasti adalah suara keburukan dan penipuan.


Karena itulah, bagi setiap orang beriman diperintahkan selalu menjaga kebeningan hatinya, yaitu dengan selalu menjalankan perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Dengan begitu, berarti ia senantaisa menjaga kebeningan hati. Sehingga cermin yang ada di hatinya selalu bening dan akan memunculkan perbuatan yang baik.■

Filed under: Rohani , , , , , , , , , ,

Photobucket

Pemimpin Redaksi

Zaldy Munir - Photography Jurnalistik & Penulis Fiksi

Kalender Hijriah

Pesan Sang ILAHI

DAN Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sesekali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fatir [35] ayat 11)
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Q. S. Lukman [31] : 10)
SESUNGGUHNYA setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Susungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. An Nahl [16] ayat 99 – 100)

Pesan Sang Penyair

Cinta memberi kesia-sian, tetapi mengambil kesi-siaan juga Cinta tidak akan memiliki, kecuali bila cinta dimiliki Karena cinta tidak cukup hanya Untuk cinta. (Kahlil Gibran)
OLEH cinta pribadi kian abadi Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau Dari cinta menjelma pancaran wujudnya Dan perkembangan kemungkinan yang tak diketahui semula Fitrahnya mengumpul api dari cinta Cinta mengajarinya menerangi alam semesta Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati Cinta tidak berasal dari air dan bumi Cinta menjadikan perang dan damai di dunia Sember hidupyalah kilau pedang cinta. (Muhammd Iqbal)
CINTA itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusi, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuh oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur di sana tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. (HAMKA)

Ruang kampanye

Community

http://iwanfalsmania.blogspot.com

Page Rank

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Google bot last visit powered by Gbotvisit.com Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com

Banner

Kalender Masehi

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Ruang Kampanye

Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Yang masuk nggak ngucapin SALAM...

Pengunjung

  • 33,190 hits

Pengunjung

free counters

Ruang Kampanye

Supporters

100 Blog Indonesia Terbaik
Indonesian Muslim Blogger Blogger Indonesia

Jadwal Shalat