Oleh Zaldy Munir
Aku berjalan
tanpa tujuan
Aku sendiri
dalam sunyi
Aku merenung
dalam murung
Melihat itu…
Inginku berteriak
Inginku menangis
Inginku marah
Marah dalam perjalanku tanpa arah
Marah dalam sunyi menyelumuti hati
Marah dalam murung membuatku terkungkung
Namun…
Dengan siapa aku marah?
Dengan siapa aku berteriak?
Dengan siapa aku menangis?
Dengan siapa aku berjalan?
Tahukah engkau…
Selama ini aku berjalan seperti di sebuah lorong-lorong tak berujung
Gelap!
Hitam!
Tak ada satu pun setitik cayaha yang menerangi perjalanku
Walau sesekali aku mendengar suara mendayu memanggil
Tapi suara itu tak bersumber dalam sebuah penjelasan
Aku pun tak hiraukan itu….
Yang terpenting aku terus berjalan dan berjalan
Untuk mencari setitik cahaya dalam hidup
Tapi…
Ketika aku sedang berjalan
Bayang-bayang diri selalu mengikuti ke mana kumelangkah
Ia mengikutiku tanpa argumentasi
Ia mengikutiku tanpa sebuah penjelasan pasti
Melihat itu aku marah
Aku teriak
Aku teriak sejadi-jadinya…
“Persetan kalian semua,” teriakku pada bayangan itu.
Ketika aku bertanya kepada bayangan itu.
“Hai… kenapa kau selalu mengikutiku?”
Bayang-bayang itu menjawab.
“Apakah kau yang mengikutiku, ataukah aku yang mengikutimu.”
Aku mengedengarnya penuh keheranan
Tak lama kemudian bayang-bayang itu berucap,
“Bahwa aku adalah satu. Karena aku bagian dari dirimu. Dan dirimu bagian dariku. Bila kau marah, aku pun marah. Bila kau berteriak, aku pun berteriak. Bila kau sedih, aku pun sedih. Bila kau berjalan, aku pun berjalan. Bila kau berhenti, aku pun berhenti. Bila kau melompat-lompat, aku pun melompat-lompat.“ jawab bayang-bayang itu.
Ketika kusadari akan hal itu…
Ternyata aku sudah berjalan di dalam bayangan hitam
Bayangan hitam yang selama ini kubentuk
Bayangan yang akhirnya membuatku berada dalam kegelapan
Kegelapan dalam sebuah lorong-lorong kehampaan yang tak berujung
Dan tak bercahaya
Semenjak itu pula aku hidup dalam ketidakpastian
Penuh kesedihan
penderintaan dan…
ketidakpastian
Lantas…
Dengan siapa aku bertanya?
Apakah aku harus bertannya…
Dengan tanda tanya?
Dengan diriku?
Ataukah…
Dengan bayanganku?
Entahlah…
Tapi, satu hal yang pasti
Aku akan mencoba merenugi arti hidup ini
Dan kulangkahkan kakiku tuk melanjutkan perjalanku
Mekipun cobaan datang menghadang
Aku akan terus berkarya dan berkarier
Cobaan bagian dari kehidupan
Hidup bukanlah tawar menawar
Semua yang kujalani
Merupakan sebuah misteri Illahi.***
Filed under: Puisi , Curhat, Puisi, Puisi cinta






























