The INDEPENDEN'S – Weblog

Icon

JUJUR, TERBUKA & APA ADANYA

FILSAFAT KEHIDUPAN (Sebuah Refleksi)

Oleh : Zaldy Munir

Filsafat, sejauh yang saya pahami makna filsafat sesungguhnya adalah berpikir. Artinya apabila anda sedang berpikir itu artinya anda sedang berfilsafat. Jadi, apapun yang orang keluarkan dan itu melalui proses berpikir… itulah filsafat. Kesimpulannya subtansi filsafat adalah “Berpikir”.

Kemudian yang kedua Hidup. Kalau menurut saya hidup itu adalah waktu dimana manusia bernyawa, tumbuh, dan berkembang. Dan setiap orang yang hidup pasti mempunyai kehidupan dan setiap kehidupan pasti ada masalah, dan setiap manusia melewati masalah pasti ada pengalaman, setiap pengalaman maka ada hikmah yang diambil, dan setiap hikmah yang diambil pasti ada pendewasaan.

Jadi, subtansi dari kehidupan adalah “Kedewasaan”. Dan apabila anda menanyakan tentang Filsafat kehidupan maka jawaban adalah “Berpikir Dewasa” atau dibalik “Kedewasaan Berpikir”. Dari dua kalimat itu walaupun sama hanya dibalik, tetapi memiliki makna yang berbeda “Berpikir dewasa” dan “Kedewasaan berpikir”

Pertama, Berpikir Dewasa. Berpikir dewasa adalah subtansi dari filsafat kehidupan, tetapi ini terfokus pada kehidupannya (Kedewasaan). Sebab orang yang dewasa dalam hidupnya, yaitu orang yang dapat mengambil hikmah dari setiap masalah yang ia hadapi dalam hidupnya.

Berpikir dewasa, yaitu rasionalitas. Pengertian rasionalitas sendiri adalah singkronisasi antara akal dan realitas. Artinya orang yang dewasa itu, ia akan menerima sesuatu atau mengeluarkan sesuatu. Bukan hanya karena sesuatu itu masuk akal, tetapi juga sesuai dengan kenyataan. Artinya pemikiran dan kenyataan hidup sesuai, bukan malah bertolak belakang antara teori dengan realitas, ucapan dan tindakan selaras, sehingga tidak membingungkan dan dapat diterima sebagai suatu kebenaran, bukan suatu bentuk kesalahan yang menyesatkan, sehingga ucapan-ucapannya tidak menipu dan selalu membawa kebaikan bagi orang banyak. Orang pun akan mudah mengerti setiap ucapan dan nasihatnya, karena itu seseorang yang menggunakan rasionalitas dia bukan hanya bicara saja tetapi dia juga memperaktekkan dan dalam kehidupannya.

Berpikir rasionalitas sangat berguna bagi seorang manusia yang sedang mencari solusi dari sebuah masalah, sehingga orang tersebut akan menemukan lebih banyak lagi pelajaran dan hikmah dari masalah-masalah yang ia hadapi. Dan mereka dijamin tidak akan seperti Keladai yang jatuh lebih dari satu kali di dalam lubang yang sama. Berpikir dewasa selalu menempatkan diri pada solusi permasalahan, bukan selalu mempermasalahkan masalah.

Orang yang dewasa dalam hidupnya ketika sebuah masalah menghantam dirinya, dia akan berpikir sekuat tenaga untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Bukan malah emosi sehingga yang dilakukan adalah mempermasalahkan masalah. Akibatnya masalah tidak selesai, tetapi malah memunculkan masalah baru, dan masalah baru tersebut pun tidak selesai, tetapi malah memunculkan masalah baru lagi, dan masalah yang baru itu, yang ia hadapi pun tidak selesai, tetapi malah memunculkan masalah yang lebih baru lagi, dan itu terus-menerus berlangsung hingga masalah menjadi besar dan kompleks.

Ketika masalah tersebut besar dan membingungkan, dan dirinya pun telah lelah karena masalahnya tidak selesai-selesai. Barulah ia berpikir untuk mencari solusi dari masalah tersebut, tetapi itu sudah terlambat dan tidak banyak berpengaruh karena dia bingung harus mulai dari mana untuk menyelesaikan masalah-masalah yang banyak dan kompleks tersebut. Itulah kondisi yang terjadi kalau kita selalu mempermasalahkan masalah, masalah yang kecil awalnya dan dapat diselesaikan dengan mudah menjadi masalah yang kompleks dan besar. Ketika masalah kecil tersebut dipermasalahkan (diperbesar) maka untuk menyelesaikannya pun sangat sulit dan memusingkan, malah kadang-kadang hanya waktu yang bisa menjadi solusi.

Contoh kecil yang dapat menggambarkan orang yang mempermasalahkan masalah, misalnya dalam sebuah rapat kantor atau organisasi. Kebetulan rapat itu berlangsung pada malam hari, ketika rapat sedang berlangsung tiba-tiba lampu di ruang rapat mati. Ada perbedaan tindakan antara orang yang selalu mempermasalahkan masalah dengan orang yang selalu mencari solusi permasalahan, tindakan yang akan dilakukan orang yang selalu mempermasalahkan masalah adalah, ia akan menggebrak meja sambil berkata. “Gimana sih panitia masa rapat sepenting ini lampunya mati apakah panitia tidak punya persiapan yang matang untuk menghindari hal-hal sepele seperti ini. Dasar panitia gak becus nggak profesional tidak berpengalaman, goblok. Gara-gara kalian pembicaraan penting malam ini bisa tertunda dan tidak bisa selesai malam ini, sedangkan kita tidak punya waktu lagi. Kalau rencana kita gagal kalian lah yang harus bertanggung jawab!.

Sedang akan orang yang selalu menempatkan dirinya pada solusi permasalahan akan melakukan tindak yang berbeda. Tindakan yang akan dilakukan, yaitu ia akan menanyakan kepada panitia apa yang hal yang menjadi penyebab lampunya mati? Kalau lampunya putus maka ia akan menganjurkan pada panitia untuk membeli lampu baru, kalau penyebabnya dari aliran listrik maka ia akan menganjurkan untuk memperbaiki sikringnya atau menyalakan generator sehingga lampunya dapat cepat menyala kembali. Atau ia akan berinisiatif menggunakan lilin, lampu minyak atau senter, yang penting di ruangan tersebut dapat dipergunakan cahaya untuk membaca berkas-berkas yang akan dibacakan sehingga dalam waktu singkat masalah dapat diselesaikan tanpa harus memunculkan masalah baru yang lebih kompleks dan rumit seperti yang dilakukan orang yang mempermasalahkan masalah.

Kedua, Kedewasaan Berpikir. Kedewasaan berpikir ini terfokus pada pembentukan pola pikir yang dewasa, dan kedewasaan berpikir ini terdiri dari beberapa point penting. Point yang pertama adalah subjektivitas. Subjektivitas adalah suatu bentuk kesalahan dalam kendewasaan berpikir. Pengertian subjektivitas sendiri adalah menyimpulkan suatu kebenaran nyata hanya dari satu sisi saja. Kesalahan subjektivitas bukan pada subtansi masalahnya, tapi pada sudut pandang melihat masalah tersebut, sehingga informasi yang di dapatkan dan dikeluarkan hanya terbatas pada satu sisi tertentu.

Kesalahan yang sering terjadi akibat subjektivitas adalah, ketika informasi yang terbatas itu diyakini sebagai sebuah kebenaran, dan apabila ada kebenaran yang lain dari sudut pandang yang berbeda sering ditentang bahkan disalahkan oleh orang yang menggunakan informasi yang subjektive tersebut, sehingga terjadilah benturan-benturan atau konflik-konflik antara dua belah pihak yang sama-sama meyakini bahwa informasi merekalah yang paling benar. Padahal konflik-konflik tersebut tidaklah perlu terjadi kalau mereka melihat sesuatu tersebut secara objektive.

Karena yang sebenarnya terjadi adalah dua-duanya sama benar hanya sudut pandangnya berbeda. Karena itu dua sudut pandang inilah yang harus kita pahami dan kita jelaskan sesuatu tersebut secara objektive. Ada contoh kecil yang sering digunakan untuk memahami objektivitas, yaitu ketika kita melihat angka 6 dari sudut pandang yang berbeda. Coba menggambar angka 6 di atas tanah, dan posisi angka ini berhadap-hadapan antara A dan B. Kalau A melihat angka ini dari sudut kanan, maka A akan menjawab ini angka 6. Akan tetapi, berbeda angka ini kalau dilihat dari sudut  B, angka yang muncul adalah 9. Sekarang saya bertanya antara A dan B penjelasannya mana yang benar???

Jawabannya, kedua-duanya adalah bener dan tidak ada yang salah. Coba perhatikan baik-baik kalau kita melihat di luar sana, banyak orang yang menyibukkan dirinya hanya untuk mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Menurut A angka ini adalah 6 dan itu suatu kebenaran yang nyata di mata A. Dan menurut B angka ini adalah 9 dan itu merupakan suatu kebenaran yang nyata di mata B. Walaupun A mengeluarkan berbagai alasan untuk menyalahkan B angka yang B lihat tetaplah 9, tidak mungkin menjadi 6 begitu pun sebaliknya. Tetapi kebenaran mereka adalah kebenaran subjektive yang hanya dilihat dari satu sisi saja, sedangkan kebenaran objektive seperti apa?

Kebenaran objektive adalah kebenaran yang dilihat dari samping (antara A dan B) atau dari dua sisi tersebut?! Oh… kalau dari kanan ini angka 6 dan kalau di lihat dari kiri ini menjadi angka 9, itulah sebenarnya kebenaran objektive yang harus menjadi landasan berpikir seorang manusia yang memiliki kedewasaan berpikir.

Filsafat yang objektive sangatlah berguna bagi proses pendewasaan berfilsafat. Baik dalam memahami sesuatu yang mikro ataupun memahami sesuatu yang makro. Karena kehidupan ini harus di pahami dari banyak sisi, tidak bisa kita menyimpulkan suatu kebenaran hanya dari satu sisi saja. Tetapi perlu banyak pemahaman hingga kita dapat mengetahui peta permasalahan yang terjadi dari hal yang sifatnya pribadi hingga hal-hal yang sifatnya umum dan universal. ■

Filed under: Catatan Pinggir , , , , , ,

KEMATIAN

KEMATIAN

Oleh : Zaldy Munir

4MENGAPA seseorang selalu menyesali perpisan? Padahal bukan perpisahanlah yang harus kita sesalkan, tetapi pertemuan. Tidak akan ada pertemuan kalau tidak ada perpisahan. Perpisahan yang kadang membuat orang bahagia, perpisahan yang kadang membuat orang sedih. Sedih karena kehilang seseorang. Seseorang yang sangat kita cintai dan sayangi.

Itulah kiranya yang saya alamai ketika saya ditinggalkan oleh orang yang saya sayangi. Orang itu adalah Kakek dan Sahabat saya, Rendi. Walau bagaimana pun kematian Kakek dan Sabat saya itu membuat sedih. Sedih karena ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat saya cintai.

Kakek saya banyak mengajarkan kepada saya tentang arti kehidupan, perjuangan dan pengorbanan. Sedangkan sahabat saya, Rendi adalah seorang yang membut saya dapat belajar memahami tentang arti kasih sayang dan cinta. Cinta pada seseorang dan cinta pada Sang Pencipta.

Meninggalnya Kakek dan Sahabat saya mambuat kita sadar akan sebuah kematian. Bahwa hidup di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua akan mati, kecuali Allah Tuhan Semesta Alam. Dan kehadirannya pun tidak pernah terprediksikan. Seseorang yang kita sayangi, seseorang yang kita cintai, pasti suatu saat nanti atau cepat atau lambat mereka akan meninggalkan kita. Hanya saja, kita tidak tau kapan mereka akan mati.”

Setiap diri sesungguhnya menyadari bahwa kematian adalah milik kita semua, yang Allah berikan sebagai bagian dari paket kehidupan tanpa kecuali. Dan kehadirannya yang tak bisa diprediksi semestinya justru dianggap sebagai karunia Allah untuk “mengikat” manusia senantiasa berada pada level siaga.

Kita memang sering kali terlena dengan dunia, dan mengira masih memiliki banyak waktu, kesempatan untuk memperbaiki diri, nanti dan nanti. Kita selalu berpikir bahwa kematian tak akan datang hari ini dan hanya terjadi pada diri mereka, kamu dan dia.

Hari ini, besok atau seratus tahun lagi tak pernah ada yang tahu. Satu yang pasti, kematian akan datang, baik kita suka atau tidak, siap atau tidak, kapan pun dan di mana pun, tanpa peluang mengalami percepatan maupun penangguhan. Allah berfirman. “Tiap-tiap berjiwa akan merasakan mati. Dan kemudian hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (Al-Ankabut, [29] : 57).

Bagi mereka yang telah merangkai hidupnya dalam ketakwaan, setiap langkah tentulah dirasakannya sebagai langkah terakhir, sebagai salatnya sebagai terakhir, setiap ucapan adalah ucapan yang terakhir dan setiap kerja adalah kerjaan yang dilakoninya sepenuh keikhlasan, tertata dan terencana.

Maka, manakala kematian itu datang, diri sang mayit akan tersenyum dan keluarga yang ditinggalkan, tak mamilih duka berkepanjangan. Karena mereka ingat pada janji-Nya. “… di dalam surga ‘Adn itu mereka mendapatkan segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kapada orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh Para Malaikat dengan berkata: “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (An-Nahl, [16] : 31-32).

Semoga kita termasuk orang-orang yang meniti hidup dengan baik, diwafatkan dengan baik dan ditempatkan kelak di tempat yang baik bersama orang-orang terbaik. Amin. ■

Filed under: Catatan Pinggir , , , , , ,

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH (1 Muharam 1430 H) DAN TAHUN BARU MASEHI (2009)

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH (1 Muharam 1430 H) DAN TAHUN BARU MASEHI (2009)

Oleh : Zaldy Munir

TIDAK lama lagi kita akan merayakan dua tahun baru, yaitu Tahun Baru Hijriah 1430, tepatnya jatuh pada hari senin, tanggal 29 Desember 2008. Lalu beberapa selang kemudian tepatnya hari kamis, tanggal 1 Januari 2009 kita juga akan merayakan Tahun Baru Masehi. Lalu, apa yang kita harapkan dari semua itu? Baju barukah? Rumah barukah? Pekerjaan barukah? atau Istri barukah? Jawabannya tentu beragam dan bermacam-macam.

Tentunya harapan terbesar bagi kita adalah diterimanya amal ibadah dan mencapai predikat takwa. Takwa yang dimaksud adalah takwa sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala macam perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Selain itu pula, marilah di Tahun Baru Hijriah dan Tahun Masehi ini kita jadikan momentum sebagai refleksi untuk mengevaluasi diri dan merevisi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga di masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara negeri ini bisa selaras dengan alam dan tuntunan Ilahi.

Semua pihak hendaknya melakukan intropeksi, demi kebaikan dan kebahagiaan bersama. Dan cukuplah becana demi bencana yang beruntun menimpa bumi pertiwi ini menyadarkan kita akan keteledoran dan keserakasan kita akan dunia. Bencana yang melanda bangsa ini sebagai peringatan keras dari Allah SWT agar kita semua kembali kepada jalan yang benar.

Akhinya, suatu kalimat yang pas untuk mengakhiri tulisan ini adalah saya mengucapkan kepada semua pembaca ‘Selamat Tahun Baru Hijriah (1 Muharam 1430 H) dan Selamat Tahun Baru Masehi 2009. Semoga di tahun baru ini saatnya kita Hijrah dari kejemudan, ketertindasan, dan ketimpangan sosial untuk menuju umat yang tamaddun.’***

Filed under: Catatan Pinggir , , , , , , , , , ,

BANJIR OHH… BANJIR

BAJIR OHH… BANJIR

Oleh : Zaldy Munir

SUDAH beberapa minggu belakangan ini, kita tidak dapat memprediksikan keadaan cuaca. Saat pagi hari cuaca terlihat cerah, dalam tempo 1 jam saja, cuaca berubah mendung, gelap, semakin gelap, dan akhirnya turun hujan lebat yang disertai kilat yang bersambung dengan gemuruh halilintar, bak gempa yang beruntun. Angin bertuip kencang menderu-deru, membuat dahan-dahan bergoyang ngebor dan menimbulkan gemerisik ketika daun-daun bergesekan. Hanya derai air di atap rumah, di daun-daun, di jalanan, dan di solokan sampah bertumpah ruah berlarian kemana-mana, berwarna gelap dan beraroma bau.

Hujan. Yaa… turunnya hujan lebat sering kali membuat kota ini terendam atau bahkan banjir. Banjir yang terkadang membuat aktivitas kota ini lumpuh. Lumpuh karena terendam banjir. Bukankah banjir yang terjadi di kota ini diakibatkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Contohnya, banjir yang diakibatkan oleh banyak berdirinya arpatemen, gedung-gedung yang menjulang tinggi, penebangan hutan secara liar, sehingga hujan deras tidak bisa diserap bumi dan akhirnya membentuk aliran-aliran air yang besar yang meluluhlantakkan sebuah desa atau pun kota.

Persoalan banjir yang melanda kota ini dan wilayah sekitarnya menjadi penting dan menarik untuk dicermati mengingat kedudukan kota ini merupakan ibu kota negara. Apa yang diperbuat kota ini, terkait dengan penerapan berbagai kebijakan yang dibuatnya sering kali dijadikan barometer banyak kota lainnya di negara ini.

Karena itu menjadi suatu ironi jika ibu kota negara ini ternyata tidak berdaya menghadapi datangnya musibah banjir. Kota ini seolah pasrah untuk tenggelam menyambut bencana ini. Tidak ada arah kebijakan yang jelas terkait dengan upaya pencegahan bencana banjir, meskipun rentang waktu yang ada sesungguhnya lebih dari cukup tersedia.

Pemerintah seharusnya gelisah dengan keadaan ini. Para politisi seharusnya sadar, bahwa kekuasaan yang ada pada mereka, seharusnya bisa membuat rakyat tidak dibikin pusing oleh banjir. Sebab, kalau bukan mereka-mereka itu, siapa lagi yang akan memikirkan kondisi rakyat? Karena di tangan merekalah segala kebijakan yang dihasilkan dan akibatnya pasti pada rakyat. Merekalah pemegang kekuasaan yang akan menghitam putihkan bangsa ini.***

Filed under: Catatan Pinggir , , , , , , , , ,

MENYIKAPI PAHAM PLURALISME AGAMA

MENYIKAPI PAHAM PLURALISME AGAMA

Oleh : Zaldy Munir

Semua agama sama.

Semua menuju jalan kebenaran.

Jadi, Islam bukan yang paling benar.

Bagaimana komentar Anda apabila disodorkan sebuah kalimat seperti itu? Apakah Anda mengiyakannya? Membantahnya? Ataukah Anda hanya diam saja?

Kalimat di atas adalah paham orang-orang yang mengusung paham Liberal, menyebarkan paham pluralisme agama. Mereka itu tidak lain adalah orang-orang yang mengaduk-adukan Akidah Islam. Yang mereka pakai justru paham-paham di luar Islam lalu dicampur aduk dengan paham tasauf sesat yang merusak Islam. Ada keracunan paham dipertemukan dengan keracunan paham yang lainnya, sehingga terbentuklah keracunan yang baru, yaitu pluralisme agama model JIL.

Para pengusung paham Liberal membuat reka-rekaan, bahwa kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam selaku utusan Allah Ta’ala tidak untuk menghapus agama-agama sebelumya, namun hanya menyempurnakan. Ujung-ujungnya hanyalah menjadi miqollid (pembebek) paham rusak Ibnu Arabi, yaitu Wihdatul Adyan, karena datangnya dari Allah, itulah paham liberal yang pengusung paham pluralisme agama yang menyamakan semua agama.

Dengan demikian inilah “Akidah yang berbeda, yang mengusung akidah rusak berupa paham pluralisme agama, menyamakan Islam dengan agama-agama lain.” Dan anehnya, orang-orang berpaham pluralisme agama itu masih mengaku dirinya Islam, walau diembel-embel menjadi liberal. Padahal pahamnya itu sendiri mengandung penafian Islam, memadamkan Islam dan sekaligus menghancurkan Islam secara perlahan-lahan. Maka antek-antek Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim tidak rela apabila Islam masih utuh seperti apa adanya. Mereka berupaya keras demi mengikuti kemauan bossnya, maka dipreteli dan dikelupaslah Islam ini, sehingga lepas satu-persatu, tidak tersisa lagi. Hingga Islam tinggal namanya, Alquran tinggal gambar da hurufnya.

Terkadang, banyak manusia terlena tapi tidak menyadari bahwa dirinya terlena, atau ia bodoh tapi tidak menyadari bahwa dirinya bodoh, atau bahkan ia tersesat dan menyesatkan tapi tidak menyadari bahwa dirinya tersesat dan menyesatkan, karena barangkali memang demikian Allah telah mengunci mati penglihatan, pendengaran, dan hatinya.

Mereka mengerti dan memahami tentang suatu kebenaran, tapi ia tidak mau mengikutinya. Meraka mengerti dan memahami tentang suatu larangan, tapi meraka juga tidak mau menghidarkannya. Padahal sesungguhnya ia bisa dan mampu untuk itu. Meraka cenderung menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan dan ilmunya sebagai hiyasan dan kebanggaan untuk mancari pujiaan dan popularitas dalam kehidupan dunia belaka. Maka yang demikian inilah, pertanda sebuah petaka yang sangat berbahaya bagi umat manusia telah mengancam.

Memang, tidak ada siapa pun yang berhak melarang seseorang untuk berbicara atau berpikir, asalkan perkataan atau pikiran itu adalah bagian dari hak asasi atau paling tidak, itu adalah merupakan potensi yang harus dihargai. Namun jika sebaliknya; perkataan dan pikiran itu membahayakan orang lain, cenderung menyelewengkan dan melecehkan ayat-ayat Alquran dan Sunnah-sunnah Rasulullah, menghujat para ulama, memutar balikan fakta dan dalil, maka ini bukan lagi hak asasi atau potensi yang harus dihormati, tetapi adalah sebuah kezhaliman dan penghinaan yang harus dicegah dan dimusnahkan. Apalagi kalau hal itu dipasarkan dan diobralkan laksana dagangan murahan yang tidak diharapkan darinya, kecuali hanya keuntungan materi yang tidak menyenangkan.

Maka diperlukan sikap kritis dan objektif dalam memandang suatu pemikiran atau paham tertentu, terutama yang sudah sering disoroti sebagai sesat, melenceng, atau nyeleneh. Karena bukan tidak mengkin ada sebab-sebab atau maksud-maksud tersembunyi di balik eksistensi suatu paham atau pemikiran. Entah itu karena motifasi duniawi yang ingin mengejar kekayaan harta benda, faktor ambisi kekuasaan, ingin sensasi dan terkenal, hendak memecah belah umat, atau memang dikarenakan ketololan sipemimpin itu sendiri? Dengan demikian, kita bisa bersikap dewasa dalam mengahadapi paham dan pemikiran yang dianggap nyeleneh, melenceng, sesat tersebut serta tidak mudah tertipu untuk larut tersesat di dalamya.***

Filed under: Catatan Pinggir , , , , , , , , ,

PAHITNYA KEHIDUPAN

PAHITNYA KEHIDUPAN

Oleh : Zaldy Munir

81“KECANTIKAN” tidak untuk menundukkan kehidupan. Karena kehidupan tidak dapat ditundukkan oleh kecantikan. Tapi, peluklah kehidupan, sayangi, dan cintai kehidupan. Karena akan membawa kita pada puncak kehidupan. Dan “Sinar kecantikan” itu akan timbul dengan sendirinya

Kesedihan, kekecewaan, dan kebahagiaan merupakan “Tamu” pada diri kita, yang akan selalau berkunjung ke dalam diri kita. Jadi, terimalah tamu tersebut dengan senyum dan ketabahan

Tidak ada kekurangan dan kelabihan, tapi bagaimana kita bisa berada di atas puncak dari kekurangan dan kelebihan tersebut. Dan menerimanya secara totalitas. Mensyukuri pemberian Tuhan maka “Sinar kecantikan” itu akan timbul dengan sendirinya.

Dipihak lain, ada sebagian orang yang terus lari dari kenyataan hidup. Segala energi dihabiskan untuk pelarian itu. Betapa pun biaya akan keluar. Sejauh apa pun perjalanan akan ditempuh demi mendapatkan kenyamanan hidup yang diinginkan. Hidup akhirnya menjadi pelarian yang tiada akhir.

Kenyataan hidup memang tidak mudah. Penuh kesulitan dan kepedihan. Di mana, kapan, dan apa pun posisi seseorang anak manusia tidak akan lepas dengan kenyataan pahit itu. Masalahnya, tidak semua orang sadar dan siap tentang kenyataan seperti itu. Kegetiran dipahami sebagai siksa, dan ketidaknyamanan hidup ditangkap sebagai kelemahan diri. Dan dari situlah tidak sedikit orang yang akhirnya putus asa. Tiba-tiba, semangat hidupnya menjadi redup.

Bagi sebagaian orang kepahitan hidup justru menjadi pelajaran berharga. Kepahitan hidup menggiring seseorang menuju kesuksesan. Kepahitan memang tidak menyenangkan. Tapi dari kepahitan itulah cita-cita bisa diraih.

Sabar dan Shalat

Allah SWT menurunkan petunjuk kepada manusia untuk membaca kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan akhirnya dikumpulkan dan dipupuk. Dan kekurangan dikikis semampu mungkin. Dari situlah manusia mempunyai kekuatan untuk menatap dan menata kehidupannya.

Di samping itu pula, sebagai manusia religius seharusnya kita tak panik dalam menghadapi pahitnya kehidupan. Dan sebagai seorang hamba Allah paham bahwa itulah kenyataan kehidupan. Ada ketakutan dalam diri yang harus dimunculkan, yaitu kesabaran.

Ya… kesabaran. Dengan menegakkan salat dan sabar manusia diharapkan mampu menghadapi lika-liku kehidupan yang berliku-liku. Karena dengan salat dan sabar manusia mendapatkan pertolongan dari Allah. Salat dan sabar adalah solusi di dalam Islam. Jika kita tahu makna sesungguhnya dari salat dan sabar itu. ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kapadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155).■

Filed under: Catatan Pinggir , , , , , , , ,

BADANKU TERANGKAT SENDIRI

BADANKU TERANGKAT SENDIRI

Oleh : Zaldy Munir

KEANEHAN ini sudah cukup lama. Di sebuah desa di wilayah kabupaten Garut, Jawa Barat. Kampungnya dinamakan kampung Banyu Resmi, desa Bina Karya. Tempat kampung Almarhum kakek saya. Tidak terlupakan selamanya. Bagai mengandung misteri Ilahi. Seperti peristiwa supranatural. Tidak masuk akal. Tidak terpecahkan.

Siang itu, sehabis jalan-jalan sendirian menikmati keindahan pemandangan alam desa, dengan berjalan kaki dan merambah dari satu desa ke desa lain, saya kembali ke kempung halaman melalui daerah-daerah pesawahan yang luas membentang. Gunung-gunung serta bukit-bukit pun nampak menjulang dari kejauhan. Saya yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, memang sengaja pergi ke Garut beberapa hari untuk menjenguk nenek dan sekalian menghilangkan kejenuhan.

Tiba-tiba di jalan setapak kaki desa, yang terapit oleh tambak dan parit kecil, saya duduk istirahat sambil melonjorkan sebelah kaki ke atas rerumputan tepi parit itu. Terasa lenggang dan teduh oleh pepohonan. Jarang orang berlalu-lalang. Sementara desir angin pegunungan sejuk membelai, air parit yang cukup jernih pun lancar mengalir, sehingga dapat digunakan oleh penduduk setempat untuk mandi dan mencuci melalui pencuran bambu yang kemudian terapung dalam bak mandi atau kolam.

Terasa nyaman. Sungguh mengasikan beristirahat di situ, membuat diri saya hanyut dalam buaian suasana alam desa yang damai. Saya tercenung dengan pikiran kosong. Benar-benar rileks dan santai. Suasana semakin damai dengan ditambah celotehan burung-burung yang berterbangan, dan sawah yang membentang luas, serta tiupan angin membuat daun-daun bergoyang ngebor serta menimbulkan bunyi ketika daun-daun itu saling menyapa. Sugguh sangat damai.

Setelah hampir satu jam melepas lelah di tempat itu, tiba-tiba, setengah sadar, badan saya terangkat sendiri, sehingga berdiri. Refleks. Ringan, namun rada menghentak. Lantas, seketika itu pula, seekor ular cukup panjangnya kurang lebih 2 meter, mirip ular cobra tercebur ke parit. Seakan terlempar atau terhempas. Seperti terkejut oleh gerak refleks itu, dan langsung menghindar dengan cara demikian. Heran. Bukannya menyembar, mematuk, malah mencebur. Biasaya ular akan langsung menyerang kalau kaget atau terusik ketenangannya.

Tentu saja kaget. Kemudian terperangah, bergidik, sambil tetap berdiri mematung. Namun, sekilas, sempat saya lihat ular itu bergerak cepat. Dalam sekejap, ia lenyap ke dalam air. Banyangannya terus melekat. Terekam di ingatan. Sama sekali tidak tahu ada binatang melata atau berbisa situ. Di samping saya.

Saya duga, ular itu semula bersembunyi di balik rerumputan tepi parit. Datang dari tempat lain. Atau mungkin di situ pula tempatnya. Entahlah. Yang jelas, menurut intuisi saya, ular itu tahu keberadaan saya. Makin mendekati saya. Mau langsung mengigit tangan atau menyusup dulu ke celah kaki sebelum melilit.

Namun… ular itu keburu keget, terlempar oleh gerakan tubuh saya. Seperti ada sesuatu yang menghalanginya di luar diri saya, sehingga saya terluput dari bahaya. Bisa tertolong dalam waktu cepat. Entah pengaruh apa? Atau karena apa? Saya tidak tahu pasti. Saya tidak punya “pegangan” atau jimat apa-apa. Hanya bisa menerka, menduga-duga.

Barangkali itu satu tenaga gaib dari alam metafisika. Mungkin malaikat. Atau mungkin juga ruh leluhur, yang makamnya tidak jauh dari rumah nenek. Tahu kedatangan saya di desa itu. Telah mampu menyelamatkan saya. Kalau tidak, bisa-bisa, saya dililit dan dipatuk ular itu. Telah mampu menyelamatkan saya. Kalau tidak, bisa-bisa, saya dililit dan dipatuk ular ganas itu. Namun secara keimanan, keselamatan itu bisa terjadi barkat pertolongan Allah semata.

Filed under: Catatan Pinggir , , , ,

RINDU

RINDU

Oleh : Zaldy Munir

21RINDU. Apakah Anda pernah merasakan rindu? Rindu akan sebuah keberhasilan. Rindu akan sebuah kebahagiaan. Rindu pada seseorang. Dan rindu berjumpa dengan Sang Pencipta.

Rindu yang kadang membuat sedih. Rindu yang kadang membuat senang. Rindu yang kadang membuat melamun hingga larut malam. Dan ada juga sebuah Rindu yang sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Kata-kata yang mungkin orang akan senang mendengarnya. Kata-kata yang mungkin orang akan marah mendengarnya. Mendengar sebuah kata rindu. Sebuah kata rindu yang keluar dari lubuk hati. Hati yang tak pernah berkata dusta. Karena ia bersih dan suci laksana cermin. Maka dengarkanlah kata rindu saya ini. Kata Rindu yang keluar dari lubuk hati.

Aku hanyut dalam banyanganmu

Walau tak setajam kilatan pisau belati

Kau sanggup menggores hatiku

yang hampir rapuh

Di sini rindu mulai bersemi …

Angan pun melayang tak pasti

Hanya secercah harap yang ku miliki

Dari semua sisa cintaku

Tuk raih asa yang baru

Yang bersemi dalam bayanganmu.

Inilah Rindu. Kata rindu yang keluar dari dalam hati saya. Sekarang bagaimana dengan Anda. Apakah hari Anda sedang Rindu?■

Filed under: Catatan Pinggir , , , ,

KEHIDUPAN

KEHIDUPAN

Oleh : Zaldy Munir

112KEHIDUPAN di dunia ini kadang mirip seperti menyelusuri arus aliran sungai. Adakalanya arus aliran ini melewati pepohonan, bunga-bunga yang indah, hingga hati pun mengajak bibir untuk tersenyum. Namum kadang kalanya arus aliran ini melewati bebatuan, curam, hingga takut dan gelisah menjadi teman. Inilah sebuah kehidupan yang kadang mirip seperti menyelusuri arus aliran sungai.

Lalu kehidupan mana yang kita dambakan? Apakah hidup hanya sekedar hidup? Tanpa memiliki arah dan tujuan. Tentunya dengan adanya sebuah tujuan hidup, akan membuat kita selalu optimis dalam menghadapi kehidupan ini.

Kalau saya diminta memilih. Kehidupan yang mana yang saya dambakan? Saya akan menjawab; hidup bergerak bersama perubahan. Mungkin itulah yang saya dambakan. Karena di mana ada kehidupan, di situ ada perubahan.

Nilai positif bisa diberikan ketika perubahan merangkum beberapa muatan. Ada arah yang jelas. Itu menandakan bahwa perubahan terjadi by designed, atau direncanakan. Sehingga dampak yang mungkin muncul dari sebuah perubahan bisa disiasati jauh-jauh hari.

Muatan kedua adalah konsistensi. Seekstrin apa pun sebuah perubahan, jika secara konsinten akan menghasilkan irama yang nyaman didengar, enak dipandang. Mungkin, persis yang terjadi pada metemorfosi kupu-kupu: telur, ulat, kepong-pong, dan kembali ke kupu-kupu. Ekstrim, tapi konsisten.

Muatan yang mungkin terakhir adalah plus minus pusat perubahan. Perubahan akan efektif jika pusatnya memperlihatkan totalitas perubahan. Hal itulah yang menjadikan perubahan tidak sekedar stempel dan slogan.

Hudup memang akan terasa hidup jika bergerak bersama perubahan. Tentunya, sebuah perubahan yang positif dan dinamis. Jangan sampai perubahan cuma sekedar perubahan, apalagi ikut-ikutan. Karena hal itu bisa disebut perubahan yang berubah-ubah (tidak konsisten).

Filed under: Catatan Pinggir , , , ,

Photobucket

Pemimpin Redaksi

Zaldy Munir - Photography Jurnalistik & Penulis Fiksi

Kalender Hijriah

Pesan Sang ILAHI

DAN Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan mengandung dan tidak (pula) melahirkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sesekali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fatir [35] ayat 11)
“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Q. S. Lukman [31] : 10)
SESUNGGUHNYA setan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Susungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS. An Nahl [16] ayat 99 – 100)

Pesan Sang Penyair

Cinta memberi kesia-sian, tetapi mengambil kesi-siaan juga Cinta tidak akan memiliki, kecuali bila cinta dimiliki Karena cinta tidak cukup hanya Untuk cinta. (Kahlil Gibran)
OLEH cinta pribadi kian abadi Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau Dari cinta menjelma pancaran wujudnya Dan perkembangan kemungkinan yang tak diketahui semula Fitrahnya mengumpul api dari cinta Cinta mengajarinya menerangi alam semesta Cinta tak takut kepada pedang dan pisau belati Cinta tidak berasal dari air dan bumi Cinta menjadikan perang dan damai di dunia Sember hidupyalah kilau pedang cinta. (Muhammd Iqbal)
CINTA itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusi, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuh oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur di sana tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. (HAMKA)

Ruang kampanye

Community

http://iwanfalsmania.blogspot.com

Page Rank

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Google bot last visit powered by Gbotvisit.com Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com

Banner

Kalender Masehi

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Ruang Kampanye

Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Yang masuk nggak ngucapin SALAM...

Pengunjung

  • 34,783 hits

Pengunjung

free counters

Ruang Kampanye

Supporters

100 Blog Indonesia Terbaik
Indonesian Muslim Blogger Blogger Indonesia

Jadwal Shalat